Ulama Tafsir Indonesia Profesor Muhammad Quraish Shihab (Dok : Istimewa)

Majalahayah.com, Jakarta – Dikenal menjadi tempat belajar agama, namun masih banyak masyarakat yang penasaran dengan budaya pendidikan di pesantren. Selain jarang diceritakan, nyatanya pengalaman setiap insan yang mengenyam ilmu di pesantren tidaklah sama.

Perjalanan kehidupan pesantren tidak bisa dinikmati semua orang, namun bagi kaum yang beruntung dalam menjalaninya maka akan sangat dirindukan sepanjang hayat. Mengapa demikian?

Diceritakan oleh cendikiawan muslim, Abi Quraish Shihab bahwa keluarbiasaan pesantren bukan soal mutu pembelajaran agama yang diajarkan, namun prihal keikhlasan dan kesederhanaan.

“Saya sering kali bicara tentang memanusiakan hubungan dalam pendidikan. Dalam perjalananan keliling pesantren saya melihat nyata bagaimana ini dipraktikkan,” ujarnya melalui buku Semua Murid Semua Guru.

Menurutnya, rantai keikhlasan dimulai dari relasi yang bermakna bersama Kyai, namun banyak yang salah kaprah prihal bentuk hormat kepada kyai. Ketakutan telah menjadi dasar padahal yang sebenarnya dari bentuk hormat adalah keyakinan dan keberkahan.

“Kekuatan kaidah tidak dicapai dengan materi ceramah satu arah tetapi dengan bertukar kisah hikmah yang selalu penuh tawa,” tambahnya.

Mantan Menteri Agama ini pun katakan bahwa kebiasaan akan kesederhanaan adalah modal kedamaian dalam pergaulan. Mulai dari jurus anti kelaparan hingga terbiasa dengan kedisiplinan ibadah malam.

“Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Pesantren mengasah penghormatan pada keberagamaan, pesantren adalah praktik kehidupan kemanusiaan. Semua tujuan ini dicapai santri dengan hidup bersama Al-Quran,” jelasnya.

Membaca, memahami, dan hidup bersama Al-Quran mempunyai tingkatan yang berbeda. Ia sampaikan, jika kita hanya sekedar membaca harfiah maka akan mudah terjebak pada penafsiran tunggal. Padahal dengan hidup bersama Al-Quran kita menyadari bahwa kebenaran bukan pembenaran berlebihan pada satu jawaban.

“Pemahaman mengantar kita mengenal Wahyu dalam berbagai konteks budaya dimana kita berada. Namun, hidup bersama Al-Quran yang akan membuktikan mukjizat yang tak lekang oleh masa,” tuturnya.

Untuk itu, pria yang memiliki lima anak ini sarankan agar kita mendekatkan diri pada Al-Quran sebab kitab ini sesungguhnya hidup dan menghidupkan.

“Saat kita mengajaknya bercakap layaknya sahabat, disaat itulah Al-Quran mengungkap rahasianya yang tidak pernah diceritakan kepada sembarang orang,” nasihatnya.