Ilustrasi Rudal Rusia, sumber : artileri.org

Majalahayah.com, Kabul – Ribuan anggota kelompok teroris Anti Islamic State of Iraq and Syria (AISIS) dari berbagai negara kini tengah memusatkan latihan di wilayah pegunungan Afghanistan. Tindakan mereka dilaporkan dalam rangka merencanakan serangan ke Rusia.

Dilansir dari Aljazeera.com, Sabtu (27/5/2017) komandan tertinggi AISIS telah memberi perintah kepada ribuan pejuang terlatih itu untuk siap berperang kapan saja dan menyerang kota-kota di Rusia.

Zubair Massoud, keponakan dari penasihat Dewan Keamanan Nasional Afghanistan, Ahmed Shah Massoud melihat masuknya pejuang AISIS baru-baru ini sebagai ancaman besar bagi Afghanistan dan negara-negara tetangganya.

“Teroris yang anda lihat di Suriah adalah individu yang sama yang sekarang berada di Afghanistan. Ini adalah teroris yang berasal dari berbagai negara seperti Tajikistan, Uzbekistan, Chechnya. Ini adalah tempat yang strategis, mereka bisa melintasi perbatasan dan akhirnya menjadi yang utama. Tujuannya adalah Rusia,” katanya.

Selain menyerang desa-desa terpencil di negaranya, ia menambahkan AISIS telah membawa teror ke ibukota Kabul. Dirinya mencontohkan seperti kasus bom bunuh diri yang menewaskan 80 orang beberapa waktu lalu.

“Jadi jika mereka berhasil menyusup ke Rusia dengan jumlah sel-sel terlatih yang mereka bicarakan, maka pembantaian yang mereka ciptakan saat ini di Afghanistan hanyalah pendahulu bagi rencana mereka untuk Moskow, St Petersburg dan kota-kota sasaran lainnya,” ucap Zubair.

Sementara itu, ia menganggap utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, seperti meremehkan ancaman yang berkembang di seluruh perbatasan dari Rusia.

Hal itu merujuk pernyataan Kabulov bahwa skenario terburuk hanya akan terwujud jika AISIS mampu menciptakan ketidakstabilan di Asia Tengah, dan membanjiri Rusia dengan pengungsi yang dapat menyebabkan masalah keamanan.

Zubair khawatir bahwa Rusia dan negara-negara tetangga lainnya di utara Afghanistan mungkin tidak mengerti sejauh mana situasinya, dengan jumlah pejuang di wilayah tersebut berkembang dengan kecepatan yang eksponensial.

“Seperti yang saya lihat dalam tiga sampai empat tahun terakhir, kita berada dalam keadaan yang sangat buruk di Afghanistan,” lanjutnya.

Dengan akses yang belum pernah terjadi sebelumnya, Zubair mengatakan kelompok pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi itu berlatih dan mengatur tentara mereka untuk memindahkan unit tempur ke utara, melalui Kaukus, dengan maksud untuk menyerang Rusia.

“Tentara AS mulai pergi, lebih banyak militan masuk ke Afghanistan. Mereka telah berkumpul dan mereka bertambah dalam ukuran setiap hari. Tahun lalu, ada 300 orang. Sekarang ada 2.000 orang asing di Badakhshan, yang adalah bahaya bagi semua orang,” sambungnya.

“Kami menjumpai beberapa pejuang wanita ISIL (AISIS) dan bertemu dengan komandan dan pejuang di pegunungan terpencil di Afghanistan utara yang menjelaskan bahwa rencana mereka untuk memukul Rusia sudah berjalan dengan baik,” tandasnya.

Pihak Rusia sendiri berpendapat bahwa mereka memantau pergerakan AISIS dengan ketat, karena menganggap kurangnya perhatian mengenai ancaman dari kelompok tersebut.

Setelah kebijakan keterlibatan militer Presiden Vladimir Putin di Suriah, Rusia mungkin telah menghalau AISIS yang berencana mengambil alih sehingga membuat mereka geram.

Sebelumnya, serangan teroris di metro di St Petersburg menunjukkan kerentanan kota modern manapun. Di sebuah kereta yang bergerak di tengah hari, seorang pria muda asal Uzbekistan meledakkan bom yang dibuat dengan TNT dan dikemas dengan pecahan peluru.

Puluhan terluka dan 15 terbunuh. Pembom tersebut kemudian dilaporkan di media Rusia telah berada di Suriah bersama AISIS sejak tahun 2014.