Majalahayah.com, Jakarta – Tindakan perundungan atau bullying hingga kekerasan tidak sedikit banyak anak telah menjadi pelaku. Seperti halnya video penganiyayaan seorang siswi oleh tiga siswa di SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah yang saat ini mendadak viral di sosial media.

Usai melihat video tersebut, diketahui Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo telah menghubungi kepala sekolah dan pihak kepolisian sudah menangani kasus tersebut.

Mengetahui pelaku masih berusia anak, Ganjar meminta agar sekolah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo ikut serta untuk klarifikasi sekaligus mengambil tindakan.

“Karena mereka masih anak-anak, saya minta diberikan konseling bersama orangtuanya,” ucap Ganjar di lansir dari kompas, Rabu (12/02/2020).

Menjadi tranding topik di twitter dengan hastag #Biadab dan #PakGanjar, terlihat banyak sekali warganet yang merasa marah, kesal, dan tentunya menginginkan pelaku mendapat hukuman efek jera.

Anak menjadi pelaku kekerasan tentu bukan pertama kalinya kita lihat di sosial media. Namun, apakah sobat ayah tahu mengapa anak melakukan tindakan tersebut?

Menurut Y. Heri Widodo, M.Psi., Psikolog mengatakan bahwa anak adalah individu yang sedang berkembang lebih pesat dari individu lainnya. Rasa ingin tahu yang didukung dengan kemampuan eksplorasi yang tinggi merupakan perlengkapan ampuh yang dimiliki anak saat menjelajah dunia sekitar anak.

“Dalam proses inilah, anak kemudian akan mempelajari berbagai hal dari dunia di sekitar tempat tinggalnya. Karena masih terbatas kemampuan melakukan analisis, cara belajar anak banyak yang dilakukan dengan cara meniru,” ucapnya dikutip dari liputan 6 waktu lalu.

Perilaku meniru pada anak, sambung Dosen Univeristas Sanata Dharma, tentu dikarenakan tindakan yang dilakukan oleh orang-orang penting disekitarnya.

“Pada anak kecil, orang penting dalam hidup mereka adalah orangtua dan orang yang mengasuhnya, sedangkan pada anak remaja, orang penting dalam hidupnya adalah teman sebaya. Dan ketika saat ini teknologi sudah menguasai hidup orang banyak, sosok penting yang banyak menjadi rujukan dalam perilaku meniru pada anak telah tersebar di berbagai tayangan dan game di televisi, gadget dan media lainnya,” jelasnya.

Ketika orang dewasa sudah mengetahui benar, salah, atau baik dan buruk, namun tidak bagi anak-anak. Heri Widodo pun menekankan bahwa anak-anak memiliki keterbatasan dalam menganalisis. Mereka kurang mampu memilah dan menyeleksi hal-hal yang patut ditiru atau tidak.

“Ia tidak tahu tayangan yang tidak sehat, perilaku teman sebaya yang tidak layak. Tragisnya, perilaku orangtua yang tidak pantas dengan mudahnya ditiru dan terinternalisasi dalam kehidupan anak. Jika mau jujur, tidak sulit sebenarnya untuk menemukan akar perilaku kekerasan yang begitu keji dilakukan anak-anak zaman sekarang khususnya bagi mereka yang sedang merambah di usia remaja,” tandasnya.