Prostitusi Anak, Buah Ketidakadilan Ekonomi Dan Krisis Moral

Prostitusi Anak, Buah Ketidakadilan Ekonomi Dan Krisis Moral

772
0
SHARE
Foto: www-heraldsun-com-au

Majalahayah.com – Bekasi. Prostitusi anak kembali lagi mencuat menjadi topik hangat berita di berbagai media massa Indonesia. Hasil investigasi Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri menyimpulkan bahwa kini para mucikari tidak hanya menjajakan pelaku seks komersial dari kalangan orang dewasa saja, tetapi menargetkan anak-anak sebagai pelakunya. Sebagai gambaran, hasil penangkapan mucikari oleh Bareskrim Mabes Polri pada awal September 2016 lalu, mengungkap bahwa sindikat mucikari mengeksploitasi sekitar 150 anak untuk diperjual-belikan atau Human Trafficking sebagai pekerja seks komersial bahkan, dua puluh tujuh di antaranya anak-anak masih di bawah umur.

Menurut aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Mohammad Farid, pada tahun 1998, diperkirakan ada sekitar 40 ribu hingga 70 ribu anak-anak sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) atau sekitar 30% dari jumlah PSK yang ada di Indonesia. Sedangkan di dunia, menurut UNICEF, sejak 1982, sekitar 30 juta anak yang dieksploitasi sebagai pekerja seks.

Padahal, secara hukum anak dilindungi oleh undang-undang. Sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 76E UU 35 Tahun 2014:

“Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.”

Tentunya, hal ini menjadi permasalahan krusial yang harus ditindak tegas, diusut secara tuntas dan diantisipasi ke depannya, karena bila dibiarkan akan menjadi penyakit sosial yang akut. Bisa dibayangkan kebobrokan dan kehancuran mental-spiritual generasi muda yang akan mengisi pembangunan Indonesia kelak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015, diperkirakan mencapai 255 juta jiwa dengan sebaran usia yang cukup menarik dan dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan angka produktif ini akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bila dikelola dengan baik, generasi muda Indonesia akan menjadi aset sumber daya manusia (SDM) yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Namun, jika salah pengelolaannya akan semakin merusak negeri ini.

Menurut LSM Humanium (2013), anak-anak pelaku prostitusi, berisiko tinggi tertular penyakit HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya seperti sifilis dan herpes. Pelaku prostitusi anak dapat terjangkit juga penyakit TB, hepatitis B/C, dan komplikasi hati dan ginjal. Bukan hanya itu saja, mantan anak-anak pelaku prostitusi mengalami juga trauma psikologis, termasuk depresi, gangguan stres pasca trauma atau posttraumatic stress disorder (PTSD) dan efek psikologis lainnya seperti kemarahan, insomnia, kehilangan kepercayaan kepada orang dewasa, dan hilangnya rasa percaya diri.

Prostitusi berdampak besar juga pada lingkungan sosial, seperti merusak sendi-sendi kehidupan keluarga dan masyarakat, tersebarnya penyakit HIV/AIDS, penggunaan minuman keras, pemakaian narkotika dan zat aditif berbahaya lainnya bahkan, merebaknya angka kejahatan atau kriminalitas.

Faktor Penyebab Maraknya Prostitusi Anak

Banyak faktor yang menyebabkan penyakit sosial ini muncul, salah satunya alasan klasik, yaitu ketidakadilan ekonomi bagi masyarakat ekonomi lemah. Minimnya pendidikan orang tua zaman dulu tidak mampu merespon problem kehidupan. Inflasi ekonomi nasional menyebabkan daya beli masyarakat turun karena harga-harga kebutuhan sehari-hari terus naik dari tahun ke tahun, di samping itu, inflasi menyebabkan angka pengangguran naik karena semakin sulitnya mencari pekerjaan.

Dampak negatif lemahnya ekonomi keluarga membuat para orang tua tidak mampu menafkahi keluarganya dan berpikiran sempit sehingga menuntut anak-anaknya untuk mencari penghasilan sendiri. Menurut komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Susanto, kondisi frustrasi atas kebutuhan hidup dimanfaatkan oleh para mucikari untuk membujuk perempuan dan anak-anak di bawah umur untuk dijadikan pekerja seks komersial. Faktor berpikir sempit untuk memenuhi kebutuhan ekonomi ini akhirnya mendorong seseorang diperdaya untuk masuk ke dunia kelam prostitusi.

Jika anaknya adalah laki-laki maka disodorkan kepada para mucikari pedofil, sementara jika anaknya adalah perempuan maka disodorkan kepada para mucikari hidung belang. Demikian mudah dan cepatnya (instan) bagi mereka untuk mendapatkan uang.

Selain faktor ekonomi, faktor penyebab maraknya prostitusi anak yaitu pengaruh lingkungan dan teman sebaya. Pergaulan yang kurang sehat mengarah kepada hal-hal negatif seperti hedonisme, seks bebas, berpikir instan yang akhirnya menafikan nilai-nilai hakiki, norma-norma, dan peraturan pemerintah. Tidak sedikit alasan para pelaku seks anak karena ingin mencari uang secara mudah sehingga rela menjual tubuhnya kepada lelaki hidung belang.

Hal yang perlu dicermati, dunia prostitusi kini tidak hanya dijajakan di jalanan saja, tetapi sindikat mucikari memanfaatkan teknologi internet seperti web, media sosial, aplikasi kencan sebagai media komunikasi dan promosi. Sebagai contoh, mereka memanfaatkan aplikasi smartphone seperti Facebook, Badoo, Grindr, Bigo, dsb (news.okezone.com, September 2016). Melalui aplikasi-aplikasi ini para mucikari bergerak bebas menjual anak-anak perempuan ke lelaki hidung belang yang mengidap pedofil, termasuk juga anak laki-laki yang dijual kepada kaum gay.

Tentunya tidak mudah memberantas prostitusi karena ”anomali” penyakit sosial ini termasuk jenis penyakit yang sudah ada sejak manusia mengenal peradaban. Oleh karena itu, penanganannya juga harus terintegrasi dari hulu ke hilir, dan hanya komitmen yang sungguh-sungguh dari seluruh unsur masyarakat bangsa Indonesia maka penyakit sosial ini bisa dicegah perkembangannya.

—o—

LEAVE A REPLY