Propaganda Rusia, Maling Kok Teriak Maling?

Propaganda Rusia, Maling Kok Teriak Maling?

114
0
SHARE
Ilustrasi Propaganda Rusia, Maling Kok Teriak Maling? (Foto : Hersubeno Arief)

Majalahayah.com, Jakarta – Hanya perlu waktu selang sehari, bola panas yang dilontarkan Presiden Jokowi soal Propaganda Rusia dan konsultan asing berbalik menyerangnya. Isu ini bila tidak cepat dan tepat ditangani oleh tim Jokowi, bisa menghancurkan narasi besar yang sedang mereka coba bangun, sekaligus membongkar strategi mereka.

Ketika bertemu dengan sejumlah pendukungnya di Solo, Ahad (3/2) Jokowi melancarkan tuduhan Prabowo-Sandi menggunakan konsultan asing. Mereka menerapkan strategi “Propaganda Rusia.”

“Seperti yang saya sampaikan, teori propaganda Rusia seperti itu. Semburkan dusta sebanyak-banyaknya, semburkan kebohongan sebanyak-banyaknya, semburkan hoax sebanyak-banyaknya sehingga rakyat menjadi ragu. Memang teorinya seperti itu,” kata Jokowi.

Jokowi juga menyebut Prabowo-Sandi menggunakan konsultan asing. “Terus yang antek asing siapa? Jangan sampai kita disuguhi kebohongan yang terus-menerus. Rakyat kita sudah pintar, baik yang di kota atau di desa,” tambahnya.

Tuduhan ini sebenarnya juga sempat dilontarkan Jokowi ketika berkunjung ke kantor Harian Jawa Pos di Surabaya sehari sebelumnya.

Tak perlu menunggu terlalu lama, Kedubes Rusia di Jakarta langsung bereaksi. “Istilah ini sama sekali tidak berdasarkan pada realitas,” demikian pernyataan Kedubes Rusia untuk Indonesia melalui akun Twitter resmi mereka, Senin (4/2).

Kedubes Rusia menjelaskan bahwa istilah yang kini digunakan “oleh kekuatan-kekuatan politik tertentu di Indonesia” itu direkayasa oleh Amerika Serikat ketika pemilihan umum pada 2016 lalu.

Walau tidak menyebut nama seseorang, namun bantahan Kedubes itu jelas ditujukan kepada Jokowi. Dikemas dalam bahasa yang halus, bahasa diplomatis itu harus dipahami sebagai reaksi yang sangat keras. Tuduhan yang dilakukan oleh presiden bisa membahayakan hubungan diplomatik kedua negara.

Menyadari hal itu Jokowi kemudian menjelaskan bahwa istilah “Propaganda Rusia” itu dia dapatkan dari sebuah artikel di jurnal RAND Corporation. Lembaga kajian global yang berbasis di Santa Monica, California itu dalam salah satu jurnalnya pernah menurunkan artikel “The Russian “Firehose of Falsehood” Propaganda Model Why It Might Work and Options to Counter It.” Referensinya cukup keren juga.

Bersamaan tuduhan Jokowi, para buzzer Jokowi rame-rame memposting dan menjelaskan apa itu Firehose of Falsehood (FoF). Istilah yang cukup berat ini mereka jelaskan dalam sebuah grafis yang mudah dipahami. Mereka menyebut FoF dapat memecah belah bangsa.

Isu rasisme, agama, ultra nasionalisme terus dihembuskan dan dibakar. Ujung-ujungnya Indonesia bisa terpecah belah seperti Iraq dan Suriah. Sebuah wacana yang juga tak kalah menakutkan.

Kalau melihat pernyataan Jokowi dan kampanye yang massif di medsos, tuduhan ini tampaknya merupakan kampanye terencana. Kubu paslon 01 justru tengah melakukan propaganda name calling. Sebuah strategi propaganda memberi nama buruk. Tujuannya agar publik menolak apapun yang disampaikan Prabowo-Sandi, tanpa lebih dahulu mengecek faktanya.

Dalam bahasa Jawa kosakata yang mendekati adalah waton suloyo. Seenaknya sendiri. Yang penting beda. Kalau perlu bertengkar, ya dijabani.

Para jubir dan petinggi parpol pendukung paslon 01 secara massif selalu memberi label hoax kepada paslon 02. PSI misalnya pernah memberi “Kebohongan Award” kepada Prabowo-Sandi.

LEAVE A REPLY