Home Pendidikan Prioritas Pendidikan Generasi

Prioritas Pendidikan Generasi

242
Ilustrasi Pendidikan Indonesia
Ilustrasi Pendidikan Indonesia. Sumber www.jooxfreedom.com

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UU 20/2003 pasal 3)

Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 (UU 20/2003), Warga Negara Indonesia (WNI) berhak dan berkewajiban untuk mengikuti program pendidikan formal wajib belajar 9 tahun, yaitu jenjang Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Jenjang pendidikan formal selanjutnya adalah Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), atau Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) yang umumnya dilanjutkan minimal 4 tahun di jenjang pendidikan tinggi untuk program sarjana. Artinya secara umum, rata-rata generasi muda Indonesia perlu mengikuti pendidikan formal minimal selama 16 tahun sebelum akhirnya dikategorikan siap terjun ke dunia kerja.

Dalam praktiknya, sebagaimana disebutkan dalam pasal 12.1.a peserta didik berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan keyakinan yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Sebagaimana merujuk cita-cita mulia yang tercantum dalam UU tersebut, maka keluarga muslim memiliki alternatif untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah Islam terpadu yang diyakini baik. Yaitu sekolah yang tidak hanya mengakomodir kurikulum nasional dan/atau internasional, tapi juga memfasilitasi pendidikan agama dan penanaman nilai-nilai Islam secara lebih intensif.

Meskipun kita sebagai orang tua telah memilih sekolah terbaik berdasarkan pertimbangan maupun sumber daya yang dimiliki, namun penting bagi kita untuk tetap memonitor dan mengarahkan putra-putri kita. Pendidikan di sekolah dikategorikan sebagai pendidikan formal dan pendidikan oleh orang tua (keluarga dan lingkungan) dikategorikan sebagai pendidikan informal menurut UU 20/2003, namun peran orang tua sesungguhnya jauh lebih penting dalam proses pembentukan akhlak, karakter, dan masa depan putra-putrinya.

Oleh karena itu, sebagai keluarga muslim yang bercita-cita masuk surga sekeluarga, kita perlu mengupayakan agar prioritas pendidikan putra-putri kita adalah berorientasi akhirat. UU 20/2003 juga telah jelas memberikan urutan prioritas. Yaitu:

  1. “Menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Iman dan taqwa menjadi prioritas tertinggi karena tanpa dua hal ini, semua usaha kita berikutnya akan sia-sia. Keyakinan ini harus kokoh tertanam dalam sanubari anak sejak dini melalui pengenalan ilmu tauhid, pengenalan syariat dan nilai-nilai luhur yang bersumber dari firman Allah (Al-Qur’an) dan teladan rasulullah saw. Pendidikan agama inilah landasan dan satu-satunya pintu gerbang pendidikan yang berorientasi kepada akhirat, agar generasi kita memiliki ukuran kebahagiaan dan kesuksesan bukan sebab ranking nilai yang tinggi dan hal-hal lain yang bersifat materi semata.
  2. “manusia yang berakhlak mulia, sehat, berilmu”. Selain menjadi pintu gerbang dan landasan keimanan dan ketaqwaan, pendidikan agama diyakini menjadi sumber utama untuk menanamkan serta menumbuhkan akhlak mulia peserta didik. Karena akhlak adalah wujud nyata atau buah dari proses ibadah yang benar, ibadah yang dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan. Akhlak ini kemudian yang akan berperan dalam harmonisasi adat, kultur, yang hadir dari luar nilai agama. Keserasian dan keharmonisan keduanyalah yang kemudian akan menghasilkan peradaban suatu bangsa. Maka benar adanya, bahwa generasi yang berakhlak mulia adalah pondasi peradaban mulia. Agama juga mengajarkan agar kita memiliki ilmu, pemikiran dan badan yang sehat, agar semakin luas manfaat. Bukankah rasulullah bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya kepada manusia yang lain?
  3. “Cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Setelah “beres” software internal manusia, maka tugas pendidikan selanjutnya adalah membentuk karakter dan mental manusia yang cakap ( good lifeskill /berkompeten), kreatif, mandiri, yang nantinya akan berhubungan kuat dengan amanah/pekerjaan-pekerjaan kolektif. Prioritas pendidikan ini harus kita sadari, sebab salah satu masalah utama hari ini atau bahkan tantangan abad ini adalah banyaknya orang baik namun tidak cakap (tidak kompeten) dalam memegang amanah/tugas/pekerjaan. Sehingga kemudian kebaikan individunya tidak memiliki dampak sosial yang lebih luas (kurang manfaat) untuk banyak manusia. Kita sebagai orang tua hendaknya memandang penting akan kecakapan ini, agar anak-anak menjadi insan yang “problem solver”. Kemudian mental kreatif dan mandiri juga penting agar menjadi pribadi yang cerdas dalam mencari jalan keluar dan tidak mudah putus asa. Terlebih mental demokratis dan bertanggung jawab, harus tertanam baik dalam pribadi anak-anak kita, agar ketika bekerjasama dengan tim ia menjadi pribadi yang bijaksana, tidak mudah memaksakan kehendak, setia dan tidak berlaku curang.

Semua hal yang menjadi cita-cita pendidikan negara kita di atas, wajib kita wujudkan bersama. Kita harus mendukung program-program pemerintah yang memang baik. Kita juga bisa mendukung dengan cara membuat program-program independen yang bermanfaat. Semua dilakukan dalam rangka mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang cerdas dan bermartabat. Apalagi Indonesia adalah negara mayoritas muslim terbesar di dunia, kita umat Islam sangat bersyukur bisa berseiringan antara berteladan kepada rasulullah dan membantu mewujudkan cita-cita konstitusi negara.

Ini sekaligus bukti bahwa konstitusi kita sudah sangat sesuai dengan nilai-nilai Islam. Tak berlebihan jika menyebutkan bahwa karakter generasi yang diidamkan konstitusi negara kita, sesungguhnya juga terwujud indah dan sempurna dalam kepribadian rasulullah saw dan generasi para sahabat. Sehingga belajar dari Rasulullah SAW dalam mendidik generasi hebat di masa lalu, menjadi kebutuhan utama. Dalam aplikasinya, metode belajar, bentuk kurikulum bisa disesuaikan dengan usia anak, termasuk selektif dalam memilih sekolah sebagai pendidikan formal bagi putra-putri kita.

Mari berjanji kepada diri kita dan keluarga, bahwa kita mau bersungguh-sungguh memprioritaskan ilmu agama dan kecakapan (lifeskill) menjadi dua garis besar haluan pendidikan anak/generasi kita, yang pada akhirnya kita mampu mencetak human being, menjadi khalifah di muka bumi yang menebarkan manfaat bagi agama, bangsa, dan sesama, bukan sekedar mencetak human working. Mari berjanji menghadirkan generasi yang meyakini bahwa agama mampu memimpin modernitas menjadi lebih baik, sehingga kemudian sumber ukuran kebahagiaan dan kesuksesan mereka kelak bukanlah nilai-nilai materialistis.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2019.
Kokoh generasiku, jayalah bangsaku Indonesia!

Yang masih belajar,
@ Agastya Harjunadhi & Lisa Listiana
Pegiat Dunia Pendidikan, Founder Bina Keluarga & Komunitas @TheRealUmmi