Prevalensi Penyakit Ginjal Kronis Lebih Tinggi di Negara Berkembang

Prevalensi Penyakit Ginjal Kronis Lebih Tinggi di Negara Berkembang

98
SHARE

Majalahayah.com, Jakarta – Hari Ginjal Sedunia kembali diperingati oleh seluruh dunia dengan mengusung tema “Kidney Health Everyone Everywhere” hal tersebut upaya untuk meningkatkan kesehatan ginjal untuk siapa dan dimana saja.

Disampaikan Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI), dr. Aida Lydia bahwa pentingnya masyarakat meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah dan mengurangi dampak dari Penyakit Ginjal Kronis (PGK).

“Saat ini diperkirakan sekitar 10% penduduk dunia menderita PGK. Namun prevalensi PGK cenderung lebih tinggi di negara berkembang. Di Indonesia telah menduduki 3,8% pengidap PGK,” ujar dr. Aida saat Konferensi Pers di Hotel JS Luwansa, Jakarta (13/3/2019).

Baca juga :   Datsun Go+ Panca Hadir dengan Teknologi CVT

Melihat pernyataan diatas, hal yang sering dipertanyakan ialah faktor resiko serta pencegahan PGK, menurut dr. Aida terdapat 2 faktor yakni faktor yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan.

dr. Aida terangkan bahwa faktor yang dapat dikendalikan ialah diet, merokok, konsumsi alkohol berlebih, kurang olahraga, obesitas, stres, kontrol diabetes, dan kontrol hipertensi (penyakit darah tinggi).

Sedangkan yang termasuk faktor tidak dapat dikendalikan, lanjut dr. Aida ialah faktor umur dan genetik.

“Jadi semakin panjangnya umur, rentan dari berbagai penyakit salah satunya PGK ini. Berdasarkan karakteristik umur prevalensi tertinggi pada kategori usia 65-74 tahun,” jelasnya.

Baca juga :   Protein yang Tepat untuk Pasien Gagal Ginjal

Sementara cara pencegahannya, disampaikan oleh dr. Cut Putri Arianie sebagai Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementrian Kesehatan, ia tegaskan bahwa pentingnya menerapkan pola hidup sehat.

“Faktor resiko itu bisa diatasi dengan perilaku yang revolusi. Misalnya mengubah pola hidup sehat, makan dengan makanan yang sehat, minum yang sesuai, istirahat yang cukup serta perlunya pengelola stres agar sistem pencernaan tak terganggu,” tukas dr. Cut.