Home Kabar Prabowo Sebut 1 dari 3 Balita Indonesia Stunting, Kemenkes Benarkan Hal Tersebut

Prabowo Sebut 1 dari 3 Balita Indonesia Stunting, Kemenkes Benarkan Hal Tersebut

117
Ilustrasi Balita. (Foto: IDN Times)

Majalahayah.com, Jakarta – Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dalam pidato kebangsaan yang bertema ‘Indonesia Menang’, menyebutkan bahwa 1 dari 3 balita di Indonesia mengalami stunting. Benarkah demikian?

Kondisi stunting dalam jangka pendek adalah mengalami gangguan pertumbuhan atau disebut gagal tumbuh. Saat lahir, megalami berat badan lahir rendah, berat badan kurang dan tumbuh pendek.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukan angka stunting sebesar 30,8 persen. Artinya, masalah stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena masih di atas ambang batas 20 persen.

Selanjutnya, hasil Riskesdas 2018 menunjukkan adanya perbaikan status gizi pada balita di Indonesia. Proporsi status gizi sangat pendek dan pendek turun dari 37,2 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen. Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun dari 19,6 persen (Riskesdas 2013) menjadi 17,7 persen.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Kirana Pritasari, MQIH, membenarkan sepertiga anak-anak balita masih menghadapi masalah stunting. Karenanya, masalah stunting ini harus segera diintervensi agar tidak berdampak fatal.

“Besarnya angka stunting bisa diintervensi dengan perbaikan gizi. Pendekatannya lewat keluarga dan tenaga medis tentunya,” ujar Kirana saat Temu Media Peringatan Hari Gizi Nasional 2019 di Gedung Kementerian Kesehatan RI kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (18/1/2019) yang dikutip dari Okezone.

Akibatnya, tambah Kirana, bayi-bayi yang dilahirkan dengan kondisi stunting daya tahan tubuhnya lemah. Sehingga membuat mereka rentan terkena penyakit infeksi. Karenanya, masalah ini harus diintervensi segera agar tidak berdampak fatal bagi kesehatan anak.

Bahkan, anak-anak bisa mengalami gangguan perkembangan otak atau kognitif. Bila hal ini terjadi, banyak hal yang mengkhawatirkan bagi kondisi anak.

“Khawatirnya, kalau pendek saja penampilan tidak menarik. Kalau masalah kognitifnya, produktivitas kurang. Belum lagi dewasanya mereka rentan obesitas,” ujarnya.

Baginya, intervensi stunting akan menjadi prioritas pemerintah sampai kapan saja. Saat ini pemerintah pusat telah mengajak pemerintah daerah untuk mengatasi hal ini.

Kirana menuturkan, Kementerian Kesehatan RI telah memetakan 100 kabupaten prioritas stunting yang sudah berkomitmen. Namun, beberapa daerah masih punya banyak kendala, misalnya akses air bersih dan yang lainnya.

“Jadinya kalau dengan Kementerian PUPR, kami tetapkan ada 160 kabupaten prioritas stunting yang harus dituntaskan,” pungkasnya.