Ibu dan Anak (Dok : Ist)

Majalahayah.com, Jakarta – Menjadi orang tua yang positif telah menjadi kata yang cukup populer akhir-akhir ini. Pengasuhan positif terdengar seperti pengasuhan yang permisif tanpa konsekuensi untuk perilaku buruk.

Berbeda dengan apa yang dipikirkan banyak orang, mengasuh secara positif tidak berarti orangtua akan selalu mengatakan “Aku mencintaimu” ketika si kecil yang masih berusia 3 tahun memukulmu.

Pola asuh yang positif bukanlah konsep yang samar tentang bersikap baik kepada anak-anak.  Filosofi pengasuhan ini berdasarkan pada gagasan bahwa hubungan kita dengan anak adalah hal yang paling penting, dan bahwa kita dapat membantu anak-anak mengembangkan disiplin diri.

Dengan pengasuhan positif, ada fokus pada disiplin dan tujuannya adalah untuk mendidik anak mengikuti aturan dan menghormati orang lain, bukan karena takut, tetapi karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Berikut adalah beberapa cara untuk membantu si kecil agar bisa mengembangkan disiplin, sambil menjadi orangtua yang positif:

1. Tetapkan batas

Memiliki batasan dalam hubungan kita dengan anak-anak adalah kunci untuk menjadi sukses dalam pengasuhan yang positif.

Memiliki, dan menegakkan, batas-batas memungkinkan sobat Ayah untuk sabar dan tenang karena sobat merasa dihargai, dan bahwa kebutuhan kita dalam hubungan terpenuhi.

Cara yang baik untuk mengetahui kapan sobat perlu menetapkan batas baru adalah ketika sobat merasa jengkel, tidak sabar atau marah dengan perilaku atau situasi yang berulang.

Misalnya saat merasa bahwa anak sudah harus duduk sendiri saat makan. Jika demikian, buat aturan bahwa setiap orang duduk di kursi mereka sendiri untuk makan.

Apakah anak akan mengeluh? Mungkin. Tetapi mereka juga akan belajar bahwa sobat memiliki kebutuhan juga.

Sobat Ayah akan menjadi orang tua yang lebih baik jika kebutuhan itu terpenuhi dan anak akan melihat contoh yang bagus tentang bagaimana mengadvokasi kebutuhan mereka sendiri dalam suatu hubungan.

2. Membangun koneksi untuk mendapatkan kerjasama

Anak-anak butuh merasakan hubungan dengan orang dewasa untuk mendengarkan mereka. Ini adalah hal yang baik, tentu kamu tidak ingin anak mendengarkan orang asing acak yang menyuruh mereka melakukan sesuatu.

Tetapi itu juga berarti si kecil lebih mungkin mendengarkan orangtuanya ketika mereka merasa terhubung.

Jika anak mengalami masa sulit dengan perilaku, cobalah untuk membangun sedikit tambahan pada satu waktu untuk saling terhubung.

Ini tidak perlu rentang waktu yang lama, tetapi perlu sering dan fokus. Bahkan 15 menit sehari dengan waktu khusus tanpa gawai,  dapat membuat koneksi anak dan orangtua lebih kuat dari sebelumnya.

3. Bersikap tegas, tapi penuh cinta

Bentuk-bentuk pengasuhan positif terutama adalah dalam nada suara. Kamu bisa bersikap tegas dan memegang anak-anak pada harapan yang tinggi, sambil tetap mencintai.

Putuskan aturan apa yang penting bagi kamu sebagai orangtua, komunikasikan dengan jelas kepada anak, dan konsistenlah dengan menegakkan aturan itu.

Menjadi orang tua yang positif tidak berarti membiarkan anak menguasaimu. Itu berarti mencoba mempertahankan intonasi suara yang tenang dan penuh kasih ketika anak membutuhkan pengingat tentang peraturan.

4. Hindari mempermalukan

“Kamu berumur 6 tahun, jangan bertingkah seperti bayi!”

“Kamarmu menjijikkan, bersihkan.”

Apakah kamu mengucapkan kata-kata itu? Semua frasa ini memiliki efek mempermalukan, membuat anak-anak merasa buruk tentang diri mereka sendiri.

Ini secara alami memiliki dampak negatif pada harga diri anak, tetapi juga tidak efektif karena memperkuat identitas anak sebagai seseorang yang berperilaku dengan cara tertentu.

Jika anak selalu diberitahu bahwa mereka bertingkah seperti bayi, mereka akan menyerap ini dan justru akan bersikap seperti itu.

Berikan komentar pada perilaku anak, misalnya lupa membereskan mainan, biarkan mereka tahu kapan itu tidak pantas, tanpa menimbulkan perasaan malu.

5. Cobalah konsekuensi alami

Menghukum anak akan menjadikan kamu musuh dan sering kali membingungkan jika hukumannya tidak terkait dengan pelanggaran. Alih-alih menghukum, cobalah membiarkan konsekuensi alami dari tindakan mereka terungkap.

Misalnya, jika kamu meminta anak mengenakan sepatu bot hujan dan mereka menolak, konsekuensi alami adalah bahwa kaki mereka akan basah di luar.