Politisi PDIP Sebut Kehadiran PSI di Koalisi Jokowi Tidak Dianggap

Politisi PDIP Sebut Kehadiran PSI di Koalisi Jokowi Tidak Dianggap

244
SHARE
Masinton Pasaribu (Dok : Ist)

Majalahayah.com, Jakarta – Politikus PDI-Perjuangan menyatakan koalisi di Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin juga solid dan tidak terganggu oleh manuver yang dimainkan oleh PSI. Alasannya karena PSI di TKN hanyalah partai‎ penyemangat saja.

“PSI enggak pernah kami anggap, jadi enggak ganggu apa-apa. Ya jadi cherleader saja,” jelasnya saat ditemui setelah diskusi Ngopi Bareng “Siapa Berani Mendebat Ulama?” di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Sementara itu Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro yakin, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tetap berada dalam koalisi pendukung Jokowi – Ma’ruf. Koalisi tidak dapat menendang PSI, meskipun manuvernya melukai harga diri partai pendukung Jokowi – Ma’ruf lainnya.

Baca juga :   Meski Mendapat Tekanan AS, Iran Tetap Ekspor Minyak Dunia

“Perkara ditendang atau enggak, kalau saya enggak yakin. Apalagi mereka dekat dengan Jokowi,” kata Siti.

Menurutnya PSI hanya butuh perhatian, sehingga melontarkan pernyataan kontroversial. Termasuk, menyerang partai koalisi Jokowi – Ma’ruf.

“Sebagai partai baru, PSI hadir, lalu dia melakukan manuver politik yang tidak jamak menurut saya,” ungkap dia.

Sebelumnya banyak reaksi keras agar PSI dikeluarkan dari Partai koalisi Jokowi-Ma’ruf. Salah satunya disampaikan oleh Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) yang menyebut pernyataan hanya PSI yang peduli pada isu-isu diskriminasi dibanding partai nasionalis lain sangat merugikan sesama partai koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Jika PSI terus menerus mengambil langkah yang merugikan sesama partai koalisi, sebaiknya PSI dikeluarkan saja dari koalisi,” kata Wakil Bendahara Umum Pengurus Pusat AMPG, Ahmad Irawan berdasarkan keterangan tertulisnya kepada Majalah Ayah di Jakarta pada Kamis, (14/3/2019).

Baca juga :   Habib Rizieq Akan Kembali Diperiksa Sebagai Saksi Kasus Makar

Dalam acara Festival 11 yang digelar di Medan pada Senin (11/3), Grace Natalie berpidato banyak parti yang mengaku nasionalis tetapi mendukung perda berbasis agama yang dinilai diskriminatif. Grace meenggunakan istilah ’nasionalis gadungan’.

Menurut Grace, berdasarkan pada sebuah penelitan, PDIP dan Golkar terlibat aktif dalam merancang, mengesahkan dan menerapkan perda berbasis agama yang diskriminatif. Setidaknya ada 58 perda syariah yang ikut dirancang oleh kedua partai nasionalis ini.