Majalahayah.com, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memantau perkembangan musik di era digital saat ini. Mengetahui musik pop, dangdut, jazz, edm, RnB mengalami perkembangan secara pesat, Ketua KPAI, Susanto menyatakan tidak demikian dengan lagu anak-anak di Indonesia.

“Rasanya berbanding terbalik, lagu anak-anak di Indonesia justru semakin hilang dari waktu ke waktu, bahkan terancam punah. Hal tersebut menuai dampak bagi anak, seperti anak justru menjadi penikmat lagu-lagu dewasa dan remaja,” papar Susanto dalam rilis yang diperoleh¬†majalahayah.com (12/03/2018).

Banyak menampilkan muatan yang tak senafas dengan dunia anak, Susanto menambahkan bahwa anak menjadi lebih mengenal dan menjiwai lagu persoalan tentang patah hati, perselingkuhan, jatuh cinta, kekerasan dalam bercinta.

Dunia anak merupakan fase perkembangan cukup pesat, terlebih pada usia 0-5 tahun anak akan mengalami proses imitasi dengan lingkungannya termasuk mendengar musik.

“Fase inilah fondasi besar bagi tumbuh kembang mereka. Namun, seiring dengan melemahnya dunia anak mengenali lagu-lagu mereka, hal ini bisa berdampak bagi kualitas anak pada fase tumbuh kembangnya,” tambahnya.

Oleh karena itu KPAI berharap para pegiat musik perlu mendedikasikan diri melakukan inovasi, menyuguhkan musik-musik terbaik untuk anak Indonesia.

“Ciptakan lagu-lagu berkarakter, munculkan figur anak terpilih dalam dunia musik,¬† agar anak Indonesia memiliki inspirasi positif. Pemerintah dan dunia usaha juga perlu memaksimalkan fasilitasi anak-anak negeri yang concern di dunia musik anak, agar dedikasi dan kreatifitasnya dapat berkembang optimal,” pungkas Susanto.