Pesan Ustadzah Herni untuk Menjaga Akhlakul Karimah Sebagai Muslimah Milenial

Pesan Ustadzah Herni untuk Menjaga Akhlakul Karimah Sebagai Muslimah Milenial

43
SHARE

Majalahayah.com, Depok – Generasi Milenial dikenal baik dengan karakteristik connected dan confidence yang kuat di masyarakat khususnya di media sosial. Disampaikan oleh Ustadzah Herni Susanti sebagai pembicara di Kajian Kemuslimahan dengan tema “Menjaga Akhlakul Karimah sebagai Muslimah Milenial” bahwa generasi milenial terkoneksi sangat kuat dengan sosial media sehingga pola berpikirnya lebih kreatif dan out of the box.

“Milenial itu dari tahun 1981 hingga 2000, mereka lebih gemar mencari pekerjaan yang gaperlu susah-susah berangkat pagi, pulang malam. Milenial sangat menghindari hal itu, seperti anakku, dia inginnya menjadi desain grafis tinggal kerja dirumah, dikerjakan lalu dapat uang puluhan juta. Jadi jangan heran kalau Milenial itu banyak yang tidak loyal dalam pekerjaan,” ucapnya saat mengisi materi di Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat (05/09/2018).

Kegemarannya dalam bermain smartphone dan sosial media, sehingga, lanjut Ustadzah Herni yang juga sebagai Alumni Manchester University, United Kingdom, Milenial sangat rentan gangguan mental dan psikologisnya.

“Implikasi dari dunia digital yang dikonsumsi oleh para Milenial, hal ini mengakibatkan banyak sekali orang yang menjadi individualis tidak berinteraksi dengan orang lain, jadi semuanya memegang handphone sampai lagi makan dan kumpul berkeluarga semuanya memegang handphone,” tambahnya.

Mengetahui selfie (narsis) kini sudah menjadi kebudayaan masyarakat, sehingga ustadzah tambahkan ada dampak positif dan negatifnya.Positifnya itu, banyak masyarakat kita yang menjadikan hal tersebut peluang bisnis, namun, jika terlalu berlebihan, selfie bisa menimbulkan depresi pada seseorang.

Baca juga :   Nasehat itu Punya Maksud, Ingin Orang Lain Jadi Baik

“Karena habis selfie itu inginnya di posting, entah di Instagram story, Instagram timeline, ataupun sosial media lainnya, mereka menganggap postingannya layak untuk diperlihatkan, sehingga berharap dikomentari atau di like, kalau tidak ada akan timbul kegelisahan, sehingga apa yang di-posting tidak sesuai dengan harapan, yang perlu dipahami itu tidak semua orang suka sama postingan kita,”imbuhnya.

Ambisius pun masuk kedalam karekteristik generasi Milenial, makna ambisius terkenal dengan makna positif jika diaplikasikan dengan cara yang benar, namun, berbanding terbalik jika ambisiusnya bernilai negatif.

Seperti halnya, semangat dalam belajar, orang yang ambisius tidak akan mau kalah dengan orang yang nilainya lebih tinggi darinya, maka dari itu ia belajar dengan giat sehingga dapat meraih nilai yang lebih baik. Akan tetapi, melihat kondisi saat ini, Ustazah tuturkan media sosial dipenuhi dengan ambisius negatif.

“Contohnya itu ambisius memamerkan apa yang dimiliki, atau lokasi yang sedang dijelajahi, kondisi ini bisa mengakibatkan masyarakat menghalalkan segala cara sehingga generasi Milenial dikenal kurang mempunyai adab yang baik di masyarakat,” ucapnya.

Seusai Ustadzah memberikan gambaran kondisi generasi Milenial saat ini, dan menurutnya harus ada yang diperbaiki agar menjadi manusia yang lebih beradab, ustadzah berikan cara yaitu Akhlakul Karimah.

Baca juga :   Pecah Belah Islam, Intrik Usang Yang Terus Diulang

“Akhlak itu mengarah kepada etika, jadi sudah tertanam didalam jiwa seperti penyabar, bersyukur, menolong, hal-hal ini akan dilakukan secara spontan tanpa harus disuruh dan tanpa dibuat-buat, kata kunci untuk akhlak itu sudah dilakukan secara berulang-ulang dan melekat dalam diri,” tuturnya.

Selanjutnya, ialah sifat jujur dan malu. Kejujuran dan mempunyai rasa malu itu menurut Ustadzah sangat penting pada generasi Milenial, terlebih sikap Milenial terhadap sosial media.

“Seperti foto yasudah apa adanya saja, harus jujur, bagi perempuan yang alisnya ditebali dengan pensil alis itu kan sebenarnya tidak jujur. Kalau malu itu seperti menahan diri untuk menulis atau berkomentar kasar, malu kalau kita, saya rasa malu ini sangat penting dan sudah berkurang di generasi Milenial, contohnya saja bisa kita lihat komentar-komentar pedas tentang pilpres,” sampainya.

Kurangnya rasa malu pada diri seseorang, ini akan berbuah pada intoleransi di masyarakat. Sehingga menurut Ustadzah, akan berakibat mengundang permusuhan dan perdebatan tiada akhir. Oleh karenanya Ustadzah berpesan agar generasi Milenial mempunyai jiwa toleransi yang tinggi dan rendah hati.

“Milenial itu bukanlah generasi yang buruk, mereka mempunyai potensial yang sangat banyak dan akan berdampak positif jika tidak salah kaprah dalam mengaplikasikannya, dan yang terpenting komunikasi secara langsung adalah hal yang terbaik, jangan sia-siakan waktu yang berharga,” tutupnya.