ilustrasi. Foto : nocamels.com

Majalahayah.com, Jakarta – Langkah Japan Tobacco Inc (JT) membeli 100% saham perusahaan rokok kretek Indonesia mendapat sorotan sejumlah pihak. Salah satunya pengamat dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamudin Daeng, yang mengatakan kebijakan itu semakin membuat industri yang ada gulung tikar.

Pasalnya, ia menuturkan sebelumnya pemerintah juga telah menerapkan kebijakan pembukaan impor tembakau, pelarangan penanaman tembakau dan berbagai standar ketat bagi industri tembakau.

“Pemerintah secara sistemik menghancurkan industri tembakau nasional,” katanya dalam pesan singkat kepada Majalahayah.com, Jumat (8/9/2017).

Perusahaan yang sahamnya diakuisisi merupakan anak usaha PT Gudang Garam Indonesia Tbk (GGRM), yaitu PT Karyadibya Mahardhika (KDM) dan distributornya PT Surya Mustika Nusantara (SMN) seharga $ 677 juta (Rp 9,02 triliun, termasuk hutang keduanya dengan nilai kesepakatan $ 1 miliar.

Salamudin lantas mempertanyakan mengapa pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membiarkan serta tidak berbicara sepatah kata-pun. “Ini adalah pembelian dan pengambilalihan pasar sekaligus,” sebutnya.

Industri tembakau yang merupakan warisan leluhur dan amanah nenek moyang, lanjut Salamudin, satu persatu telah jatuh ke tangan modal asing. Akuisisi yang dilakukan JT telah mengambil alih salah satu perusahaan tembakau kelas kakap di Indonesia.

“Perusahaan tembakau nasional telah dibuat sekarat oleh berbagai kebijakan pemerintah. Sekarang mereka telah memilih menjual ke asing karena tidak sanggup bergelut dengan kebijakan yang kacau,” ujarnya.

Salamudin menerangkan apabila semua Industri jatuh ke asing, maka tidak ada lagi keuntungan yang disimpan di Indonesia, ditempatkan di perbankan Indonesia maupun dire-investasi langsung di Indonesia atau di pasar modal Indonesia.

“Tidak ada lagi yang tersisa untuk rakyat Indonesia, bahkan ampasnya sekalipun,” pungkasnya.

Keputusan JT mengakuisisi perusahaan rokok Indonesia membuka langkah besar ke pasar tembakau yang merupakan nomor 2 terbesar di dunia itu. Pengumuman tersebut dikelurkan saat JT mencoba mengakuisisi bisnis tembakau di pasar Asia yang sedang berkembang.