Majalahayah.com, Jakarta – Indonesia saat ini menduduki posisi ketujuh tertinggi di dunia persoalan pernikahan anak. Hal tersebut seakan menjadi lebih memuncak saat dua anak SMP di Sulawesi Selatan memutuskan untuk menikah dengan berlatarbelakang takut tidur sendirian.

Memahami pernikahan anak akan berdampak pada proses pendidikan, kesehatan, ekonomi, bahkan sosial, oleh karena itu banyak pihak yang menentang terselenggaranya pernikahan anak. Salah satunya adalah dr. Dorlina Nainggolan M.Biomed selaku Dokter Kesehatan di Puskesmas Jakarta.

Ia mengatakan, jika dilihat dari kesehatan terutama pada anak perempuan, akan menjadi dua bagian dampak negatif yaitu psikologis dan fisik anak.

“Dari aspek psikologisnya pernikahan dini secara mentalitas mereka belum siap menerima keadaan, bahwa dengan perubahan tersebut dapat menghilangkan rasa percaya dirinya. Belum lagi jika anak sudah mengandung, anak perempuan dituntut untuk menjadi seorang ibu,” ungkap dr. Dorlina.

Jika pernikahan dini tetap dipertahankan, maka dr. Dorlina mengatakan bisa dipastikan kedepannya rumah tangga anak akan lebih sering mengalami konflik, karena sudah seharusnya seorang anak masih bermain dengan teman-temannya, bukan menikah.

Jika dilihat secara fisik, dr. Dorlina menambahkan bahwa dampak terburuk ialah anak akan mengalami penyakit kanker leher rahim.

“Dalam masa remaja, organ-organ reproduksi anak masih dalam fase pertumbuhan cepat. Sehingga saat ada rangsangan dari luar, khususnya pada leher rahim perempuan, anak akan merasakan benda asing seperti saat melakukan hubungan seks dan keluarnya sperma, hal ini cenderung akan menimbulkan kanker leher rahim,”

Oleh karena itu, dr. Dorlina menyatakan secara reproduksi, usia ideal anak perempuan menikah yang sudah berusia diatas 21 tahun.

“Karena usia diatas 21 tahun alat reproduksi sudah siap untuk proses kehamilan jika kurang dari usai tersebut dikhawatirkan akan mengalami keguguran serta dapat menimbulkan kematian saat anak melahirkan anak,” tukasnya