Perlukah Promosi Wisata Gunung Agung?

Perlukah Promosi Wisata Gunung Agung?

35
SHARE
Tim Pusdatin Humas BNPB . (Foto: BNPB)

Majalahayah.com, Karangasem – Tanah belum lagi terang ketika kami mulai keluar dari penginapan. “Kita harus berangkat pagi kalau mau dapat foto Gunung Agung yang bagus.” Kata Andri Cipto Utomo (36), seorang fotografer di kantor kami. 

Berburu foto Gunung Agung memang bukan perkara yang muda, jika tidak malam, dini hari, atau pagi sekali, maka cuaca di Karangasem, Bali, memang sedang sendu. Siang sedikit hujan turun, tirainya menutupi pemandangan ke gunung. Terkadang, awan akan berkolaborasi dengan abu yang keluar dari kepundan gunung dan menutup pandangan mata ke puncak gunung. 

Baca juga :   BMKG Bantah Isu Gempabumi 8,6 SR yang Berpotensi Tsunami

Di Rabu (29/11) pagi itu, kami menuju Amed. Sebuah daerah di arah Timur Laut dari Gunung Agung. Dari sini, memang puncak gunung terlihat jelas. Beberapa fotografer profesional menjadikan Amed sebagai basis pengambilan foto-foto memesona keindahan dan kemegahan gunung. 

Setelah berputar-putar di Amed, kami kurang puas. Kendati puncak gunung terlihat jelas, namun banyak kabel yang melintang mengganggu sudut pengambilan foto. 

Baca juga :   Menantang Ide Khilafah

Akhirnya, kami pun bergeser sedikit ke Desa Datah di Kecamatan Abang, daerah yang lokasinya sekitar 3 kilometer dari Amed. Di sini, puncak Gunung Agung dan kepundannya yang mengepulkan uap putih dan abu kelabu terlihat jauh lebih jelas.

Sementara itu, di latar depan adalah perkebunan warga yang ditanami beraneka tumbuhan, kandang, dan peternak yang masih asyik beraktivitas. Kombinasi keduanya kemudian menjadi satu pemandangan tersendiri yang sangat memesona.