Syarekat Islam

Majalahayah.com, Jakarta – “Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah,” sesalnya

“Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?

Ujaran diatas merupakan pidato pemuda bernama asli Ibrahim yang nantinya terkenal dengan nama Tan Malaka saat Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922. Saat itu pemuda asal Sumatera Barat tersebut mengharapkan para petinggi Komunis Internasional mendukung para pejuang Islam di seluruh dunia khususnya di Nusantara. Bagi Tan saat itu, Komunis dan Islam memiliki musuh dan garis perjuangan yang sama yaitu berjuang melawan kolonialisme dan penjajahan.

Tapi seperti memahat ucapan Karl Marx dan Lenin, “Agama adalah candu rakyat”, Komunisme Internasional terus memunggungi kaum agamawan. Tapi seperti pribahasa, lain rumput lain belalang, lain laut lain ikanya. Komunisme ataupun sekhususnya ajaran Marxisme dan Leninisme terus berkembang di Indonesia bahkan ke kalangan Islam sekalipun. Sejarah mencatat Komunisme lahir dari rahim organisasi Syarekat Islam (SI). Tak kurang Semaoen, Darsono, dan Alimin yang nantinya mendirikan Partai Komunis Indonesia. Awalnya adalah pengikut H.O.S Cokroaminto, pemimpin SI.