Home Parenting Peringati Isra Mi’raj, KPAI Ajak Spiritualisasi Ramah Anak

Peringati Isra Mi’raj, KPAI Ajak Spiritualisasi Ramah Anak

178

Majalahayah.com, Jakarta – Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW ke dimensi lain adalah mendapatkan perintah sholat lima waktu dalam sehari semalam, sejak fajar menjelang hingga petang temaram tiba. 

Dalam doa iftitah, menyatukan sholat dan segala ibadah lain dengan hidup dan mati dalam ikatan keberserahan kepada Allah SWT. Inna shalati wa nusukii wamahyaya wa mamatii lillahi rabbil ‘aalamiin. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya Allah Tuhan semesta alam. 

Bagaimana kiat mendidikkan sholat kepada anak- anak?

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sudanto katakan agar orangtua berikan contoh atau keteladanan yang baik bagi anak. 

“Tentu tidak tepat, jika orangtua menyuruh anak untuk sholat, namun orangtua masih asyik melihat TV dan bermedia sosial. Tauladan adalah kunci sukses mendidik anak,” tutur Susanto dalam keterangannya melalui WhatsApp (7/4/2019).

Selanjutnya, menurut Susanto berikan nasihat yang baik dan logis untuk anak sesuai fase perkembangannya. 

“Setiap anak itu tumbuh dengan keuikannya masing-masing, sehinga pola dan cara menasehati juga harus menyesuaikan dengan perkembangan yang dapat menyentuh psikologis setiap anak,” imbuhnya.

Hindari dengan pendekatan kekerasan pun menjadi hal penting. Susanto yang turut menjadi dosen di Pascasarjana Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta katakan bahwa  pentingnya orangtua menyentuh anak dengan hati, maka ia akan berproses untuk membiasakan sholat. 

Teks hadis yang sering dijadikan rujukan untuk melakukan kekerasan anak adalah Hadits Riwayat Abu Dawud dari Amr bib Syu’ab dari ayahnya, dari kakeknya yaitu: perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat saat usia 7 tahun dan pukullah mereka saat usia 10 tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka”. (HR Abu Dawud).

Jika dikaji, Susanto katakan akar utama sebagian kalangan memahami hadits memerintahkan pukul bagi anak, sejatinya terletak pada pemahaman terhadap kata “dharaba”. Dalam Lisan Al ‘Arabi, kata dharaba memiliki banyak makna diantaranya dimaknai seperti kata kharaja (keluar), bahkan dimaknai sama seperti kata dzahaba (pergi), bahkan juga dimaknai sama seperti kata saro (berlalu/lewat/berjalan). Bahkan dalam QS Al-Baqarah ayat 273 terdapat penggunaan kata Dharaba, tetapi kata dhraba dalam ayat tersebut dimaknai “berusaha”. 

“Dengan demikian, kata dharaba memiliki ragam makna dan memiliki konteksnya masing-masing sehingga tidak ditafsirkan secara tunggal. Rasulullah SAW menggunakan kata dharaba dalam konteks mengajarkan sholat bersifat “levelitas” dan dapat diartikan sebagai “usaha yang terus menerus”,” jelas Susanto.

Kesungguhan dan keteguhan agar anak mampu dan terbiasa melaksanakan sholat dengab baik. Mengapa tidak dimaknai pemukulan? Susanto tambahkan jika dimaknai secara tunggal selain tidak tepat juga bertentangan dengab pribadi Rasulullah SAW dalam keseharian. 

“Sangat banyak hadits lain menunjukkan Rasulullah lebih konsisten menempuh cara-cara kelembutan dan kasih sayang dalam mendidik  anak. Inilah praktik perlindungan anak yang telah tumbuh di era Rasulullah SAW,” imbuhnya.

Menurut Susanto, pentingnya kontrol dan pengawasan yang terus menerus. Pastikan anak membiasakan diri untuk belajar bertanggungjawab dan disiplin setiap rangkaian kegiatan harian, baik belajar, sholat, maupun bermain dengan teman sebayanya. Jadwal anak menjalankan  sholat tentu perlu dipantau dan dipastikan agar anak terbiasa melakukannya. 

Dengan demikian, praktik baik dalan mendidik anak seperti ini perlu menjadi inspirasi bagi umat Islam agar era digital yang rentan dengan keterpaparan pengaruh dapat dicegah sedini mungkin melalui penguatan karakter keagamaan.