Pergolakan Sejarah Perseteruan Kebenaran dan Kebathilan Sepanjang Zaman (Bagian 1/3)

Pergolakan Sejarah Perseteruan Kebenaran dan Kebathilan Sepanjang Zaman (Bagian 1/3)

525
SHARE
Ilustrasi kebenaran dan kebathilan. Sumber : https://www.zamanfitnah.wordpress.com

Majalahayah.com, Jakarta – Setiap masa mempunyai perjalanan sejarah masing-masing yang berbeda-beda, dimana di dalamnya tidak lepas dari sebuah perjuangan membangun peradaban yang mulia.  Perjalanan sejarah manusia mengenai siapa dan dimanapun tidak lepas dari dua nilai, yang keduanya merupakan kekuatan besar yang berlawanan dan tarik menarik.

Dua nilai di atas dalam sejarah tersimpan suatu aturan dan kebenaran yang ditetapkan oleh Allah SWT, yaitu memiliki nilai kebenaran (haq) dan kebathilan. Dalam konsekuensinya perjalanan sejarah senantiasa terisi oleh pelaku sejarah yang memilih perjuangan berada dijalur kebenaran dan pelaku dijalur kebathilan. Hal ini sudah tercatat dan diabadikan mulai dari kisah manusia pertama kali sekaligus Nabiullah Adam Alaihissalam (AS), kemudian para nabi setelahnya hingga peradaban sekarang ini.

Nabi Adam vs Iblis

Perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam merupakan awal permusuhan iblis kepada manusia. Ia menolak perintah itu sehingga dihukum Allah. Namun iblis berjanji akan menyesatkan Adam dan keturunannya. Salah satu bentuk tipu dayanya adalah berhasil menggoda Adam untuk melanggar larangan Allah sehingga Adam dikeluarkan dari surga.

Kufur dan rasa dengki itu membuat iblis enggan sujud kepada Nabi Adam AS. Tak cuma menunjukkan kesombongan, iblis bahkan menyangkal perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dan mencela kebijaksanaan-Nya. Katanya:

“Saya lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Al A’raf: 12)

Maka Allah katakan:

Wahai iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud kepada apa yang telah Kuciptakan dengan dua tangan-Ku? Apakah engkau sombong ataukah engkau (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” (QS. Shad:75)

Kekufuran, kesombongan, dan pembangkangan ini merupakan sebab terusirnya dan terlaknatinya iblis. Allah SWT katakan kepadanya:

Baca juga :   Mencermati Keberadaan Hak Berpendidikan Warga Negara

Turunlah kamu dari surga karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al A’raf: 13)

Iblis enggan tunduk dan bertobat kepada Tuhannya, bahkan menentang, meremehkan, dan bertekad bulat untuk memusuhi Adam AS beserta anak cucunya.

Nabi Nuh AS vs Pemuka dan Penguasa kaumnya

Kisah Nabi Nuh AS. Dalam Qur’an, Allah SWT mengabadikan percakapan antara Nabi Nuh As dengan beberapa orang yang menentang dakwah Nabi Nuh AS.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. Maka berkatalah para pembesar orang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Hud : 25-27)

Dengan siapakah Nabi Nuh AS berdialog? Dalam Al-Qur’an secara gamblang disebutkan bahwa Nabi Nuh AS berdialog dengan Al-Mala’ yaitu para pemuka/pemimpin/penguasa. Para pemimpin tersebut  bahkan dengan sangat berani menantang Nabi Nuh AS, untuk segera menimpakan azab kepada mereka jika Nabi Nuh AS merasa benar. Pernyataan ini diabadikan Allah pada ayat selanjutnya,

Mereka berkata “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Hud : 32)

Baca juga :   Syarekat Dagang Islam, Batik, dan Kesadaran Kemandirian Ekonomi Umat Islam

Nabi Ibrahim AS vs Raja Namrud

Perjuangan Ibrahim AS dalam menyerukan kebenaran tauhid kepada bapaknya, kaumnya, dan penguasa Namrud. Dialog-dialog panjang, hujjah yang meyakinkan, ia selalu menghadapi mereka yang menentang dengan penuh kesabaran. Ketika bapaknya berkata,

“Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS. Maryam : 46)

Maka dengan tenangnya Nabi Ibrahim AS menjawab ancaman bapaknya itu,

Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS. Maryam 47-48)

Selain itu ketegasan sikap Nabi Ibrahim AS terhadap kaumnya,

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya[1353] dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (QS. Az-Zukhruf : 26-27)

Allah SWT memenuhi janji-Nya untuk melindungi hamb-Nya yang berpegang teguh kepada kalimah laa ilaaha illallah, ketika Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke tungku api yang menyala oleh Raja Namrud dan kaumnya, maka pertolongan Allah nyata menjadikan api menjadi dingin seakan menjadi tempat peristirahatan bagi Nabi Ibrahim AS.

Bersambung… (bagian 2/3)