Pergolakan Sejarah Perseteruan Kebenaran dan Kebathilan Sepanjang Zaman (Bagian 2/3)

Pergolakan Sejarah Perseteruan Kebenaran dan Kebathilan Sepanjang Zaman (Bagian 2/3)

301
SHARE
Ilustrasi peperangan zaman nabi. Sumber www.youtube.com

Majalahayah.com – Berikut adalah bagian kedua dari tulisan “Pergolakan Sejarah Perseteruan Kebenaran dan Kebathilan Sepanjang Zaman”. Untuk melihat bagian pertama, silahkan klik di sini.

 

Nabi Luth AS vs kaumnya

Diantaranya terjadi juga perseteruan Nabi Luth AS dengan kaumnya. Apakah hal itu dikarenakan beliau menyerang mereka? Sama sekali tidak. Mereka menyerang Nabi Luth AS dan pengikutnya sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.” (QS. Al A’raf: 82)

Nabi Yusuf AS vs Fitnah Zulaikha dan Istri-istri para Pembesar

Sikap Nabi Yusuf AS yang berpegang teguh pada kalimat laa ilaaha illallah yang bersemayam dalam dirinya diuji dengan bujuk rayu istri sang raja. Kesempatan menanggalkan kalimat tauhid terbuka lebar-lebar. Jika ia mau berbuat apa saja dengan istri semua bisa terlaksana. Namun keyakinan tauhidnya lah yang membentengi Nabi Yusuf AS tetap terjaga kehormatannya.

Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS. Yusuf : 23)

Tidak hanya itu ujian datang lagi dari para wanita istana dan istri-istri para pembesar, bahkan sampai mengancamnya seraya berkata,

Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.” (QS. Yusuf : 32)

Baca juga :   Perbedaan antara Dunia dan Rezeki

Nabi Yusuf AS dihadapkan dengan dua pilihan yaitu zina dan selamat atau penjara dengan mempertahankan kalimat tauhid. Ternyata Nabi Yusuf AS lebih memilih penjara.

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf : 32)

Nabi Musa vs Fir’aun dan pembesar-pembesarnya

Nabi Musa AS dianggap orang yang tak pandai membalas jasa Fir’aun, diasuh sejak kecil dalam istana, justru setelah dewasa dan menjadi utusan Allah SWT ia berbalik menjadi musuh sang pengasuhnya. Dengan kesalnya Fir’aun berkata,

“Sungguh jika kamu menyembah tuhan selain aku pasti aku menjadikan kamu penghuni penjara,” (QS. As-Syu’ara : 24)

Di ayat lain Fir’aun juga berkata,

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at : 24)

Lalu Fir’aun bersama pembesar-pembesarnya berkata,

“Biarkan aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-Ghafir : 26)

Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana sikap Nabi Musa AS dalam menghadapi kebringasan musuh-musuhnya? Dengan bahasa yang tenang Nabi Musa AS berkata :

“Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.” (QS. Al-A’raf : 128-129)

Baca juga :   Mengapa disekolah, kami lebih mendidik anak untuk menjadi lebih Bijaksana dan bukannya menjadi lebih cerdas ?

Nabi Daud AS vs Raja Jalut

Tampak di hadapan Bani Israil barisan kaum musyrikin di bawah komando Jalut dengan tentaranya yang besar.

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 249)

Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pijakan-pijakan kami dan tolonglah kami atas orang-orang kafir”. (QS. Al-Baqarah : 250)

Keimanan akan pertolongan dan keyakinan perjumpaan dengan Allah SWT yang diiringi dengan doa benar-benar mendorong kaum mukminin mengorbankan segala daya dan upaya mereka di jalan Allah. Hingga Allah pun membukakan kemenangan kepada Thalut dan kaum mukminin.

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 250)

Jalut terbunuh di tangan Nabi Daud AS yang ketika itu salah seorang personil pasukan, dan belum diutus menjadi nabi dan rasul.

Bersambung… (Bagian 3/3)