Perang Kotor Jokowi

Perang Kotor Jokowi

51
SHARE
Ilustrasi Perang Kotor Jokowi (Dok : Hersubeno Arief)

Majalahayah.com, Jakarta – Mudah-mudahan saja berita yang diturunkan laman tempo.co edisi Kamis (7/3) itu salah. Judulnya “Ketua Cakra 19: Jokowi Berpesan Gaspol Terus Soal Lahan Prabowo.”

Seandainya benar, sikap Jokowi ini sangat tidak etis. Berpotensi melanggar praktik pemerintahan yang baik dan benar.

Jokowi adalah capres sekaligus presiden yang tengah menjabat. Tidak pada tempatnya dia menggunakan informasi yang dimiliki oleh pemerintah untuk menyerang lawan politiknya. Ini adalah penyalahgunaan jabatan (abuse of power).

Ketua Cakra 19 adalah Andi Wijayanto. Dia pernah diangkat Jokowi menjadi Menteri Sekretaris Kabinet (Menseskab) hanya kurang dari 10 bulan. Setelah itu dia dicopot, tapi tenaga dan keahliannya masih terus dimanfaatkan Jokowi. Bersama Luhut Panjaitan dia melakukan operasi-operasi politik di luar Tim Kampanye Nasional (TKN) yang dipimpin oleh Eric Thohir.

Baca juga :   BNPB : Saat Darurat Bencana Data Korban Berbeda-Beda, Itu Biasa

Cakra 19 berisi sejumlah purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang belum lama pensiun. Mereka antara lain Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus, politikus Golkar, Eko Wiratmoko; mantan Deputi V Kepala Staf Kepresidenan, Andogo Wiradi; serta mantan Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia, Iskandar Sitompul.

Di luar itu ada kelompok purnawirawan yang lebih senior tergabung dalam tim Bravo-5 dipimpin oleh mantan Wakil Panglima TNI Jenderal Fahrurozy. Kebanyakan adalah alumni AKABRI 1970, satu angkatan dengan Luhut Panjaitan. Mereka antara lain, Letjen TNI (Purn) Sumardi, Letjen TNI (Purn) Suaidi Marasabessy, dan Mayjen TNI (Purn) Heriyono Harsoyo.

Baca juga :   Sekjen MUI : Negara Menjamin Hak Beragama Masyarakatnya

Baik Cakra-19 maupun Bravo-5 diinisiasi dan dikendalikan oleh Luhut Panjaitan. “Malaikat pelindung” Jokowi yang mengurusi semua urusan, mulai dari masalah politik, sampai urusan pribadi. Mereka inilah sebenarnya yang menjadi inti tim pemenangan Jokowi. Perannya jauh lebih besar, lebih powerfull dibandingkan dengan TKN.

TKN diisi oleh koalisi partai, dan figur sipil profesional yang direkrut menjadi tim sukses. Fungsinya tak lebih dari paguyuban partai-partai pendukung Jokowi.

Mereka tampil di layar depan. Sementara Cakra-19 dan Bravo 5 lebih banyak bermain di belakang layar. Menjalankan operasi-operasi politik.