Majalahayah.com – Jakarta, Sekitar satu juta orang di Indonesia telah terkena penyakit katarak. Hal ini membuat penderitanya mengalami gangguan penglihatan hingga buta.

Tingginya kejadian katarak di Indonesia salah satu penyebabnya karena negara ini berada di garis ekuator sehingga tersorot sinar matahari. Paparan sinar utraviolet memicu munculnya katarak lebih cepat.

Seperti yang diungkapkan oleh Muhamad Sidik, selaku Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami).

“Dicurigai sinar UV B bisa mempercepat timbul katarak,” kata Sidik, dilansir dari Liputan6.

Sidik juga menerangkan, selain matahari, penyebab katarak lainnya adalah diabetes melitus.

“Orang kencing manis kalau kadar gula meningkat, juga bisa menimbulkan katarak dengan cepat,” ujarnya.

Satu-satunya cara untuk menangani katarak yaitu melalui operasi. Tak ada cara atau pegobatan lain yang bisa menyembuhkannya.

“Operasi katarakan merupakan operasi paling efektif, efisien, dan paling menimbulkan benefit paling tinggi daripada tindakan prosedur lainnya, sehingga orang yang tadinya tidak produktif jadi produktif lagi,” jelas Sidik.

Saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dengan Komisi Mata Nasional (Komatnas) dan stakeholder lain telah menyusun satu peta jalan penanggulangan gangguan penglihatan di Indonesia.

Peta jalan tersebut telah diadopsi oleh Organisasi Internasional Pencegahan Kebutaan (IAPB) untuk dijadikan contoh bagi negara lain.

“Peta jalan ini kalau memperlihatkan bagaimana strategi mengatasi gangguan penglihatan yang dimulai dari tingkat Posbindu, fasilitas kesehatan Primer, dan RS tipe C sampai A,” tukas Sidik.

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek yang hadir di acara tersebut juga mengatakan regulasi kesehatan mata akan percuma jika perilaku kita tidak berubah. Sehingga, penting juga peran aktif masyarakat melakukan gaya hidup sehat.

“Jadi, lakukan perilaku hidup sehat seperti olahraga, makan buah, dan cek kesehatan secara berkala. Cek kesehatan berkala itu penting, mata kalau sudah kena (bermasalah) karena sakit gula misalnya, butanya bisa permanen. Jadi, yang penting itu bukan mengobati tapi mencegah,” kata Nila.