Pentingnya Pembentukan Karakter Anak, Direktur Sekolah AIIS : Kami Bangun 3 Pilar

Pentingnya Pembentukan Karakter Anak, Direktur Sekolah AIIS : Kami Bangun 3 Pilar

564
0
SHARE
Direktur Sekolah Al-Ihsan Islamic School Bekasi, Bambang Sumitro.
Foto : Direktur Sekolah Al-Ihsan Islamic School Bekasi, Bambang Sumitro. (majalahayah.com/HA)

Majalahayah.com, Bekasi – Perkembangan anak sangatlah menjadi pusat perhatian penting para orang tua, terutama masa awal pengenalan pendidikan mulai usia dini. Di sinilah Sekolah Al-Ihsan Islamic School (AIIS) mengambil peran menjawab kebutuhan para orangtua dengan menjadi lembaga pendidikan Islam yang bekualitas.

Konteks berkualitas ini dimaksudkan dengan pendidikan berbasis penguasaan hafalan AL-Qur’an dalam mencetak generasi insan cendekia yang ihsan, sebagaimana tertambat pada visi AIIS. Seiring perkembangan zaman, banyak bermunculan sekolah-sekolah yang hadir dan berperan menjadi bagian dari solusi perbaikan pendidikan anak.

Dalam hal ini, Direktur Sekolah AIIS Bambang Sumitro menjelaskan bahwa dengan menjaga niat dan pentingnya mengisi pembentukan karakter anak yang memiliki dasar pengetahuan paling tinggi agar mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sosial masyarakat nanti.

“Memang sekarang-sekarang ini mulai tumbuh sekolah-sekolah mulai dari Paud, TK, SD, SMP, SMA sampai universitas, menjamur itu adalah tanda yang positif, bagi kami yang pertama adalah niat kami dalam membangun AIIS, yang kedua adalah ini berkat bimbingan dan guru kami, Ustadz Adi Hidayat, LC. MA yang senantiasa memberikan pemahaman dan motivasi bagaimana kita pentingnya sekolah ini tidak hanya mengenai fisik gedung sekolah saja, tetapi yang lebih penting adalah mengisi pembentukan karakter anak-anak yang bersekolah disini, jadi seorang yang memiliki dasar pengetahuan paling tinggi yang nantinya bisa diterapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari karena mereka hidup dalam sosial kemasyarakatan,” tuturnya.

Dengan visi dan misi tujuan yang jelas, AIIS mempunyai keunggulan tersendiri dalam metode pembelajaran yang tak hanya menyuguhkan gedung dan pengajar yang bagus. Akan tetapi AIIS juga membangun pembentukan akhlak karakter sebagaimana dalam Islam dan apa yang dicontohkan rasulnya yang disertai cara prakteknya langsung.

“Jadi kami tidak khawatir banyaknya sekolah karena visi dan misi tujuannya jelas yang membedakan kami dengan sekolah-sekolah lain, kami bukan hanya sekolah yang menawarkan gedung yang bagus dan juga tenaga pengajar yang berkualitas, tapi juga kita membangun akhlak karakternya. Memahami bagaimana karakter islam, karakter rasulnya, kita ajarkan anak-anak saat sudah memasuki waktu sholat langsung menyeberang ke masjid dan langsung mengambil air wudhu diajarkan dengan ustadz-ustadz kami cara mengajarkan wudhu yang benar sehingga anak-anak mampu mempraktekkan dan setelah itu langsung membekas dalam metode pembelajaran mengendap jadi suatu pemahaman, bahwa inilah cara yang benar. Itulah yang kami harapkan untuk membentuk karakter bagi anak-anak,” jelasnya.

Foto : Direktur Sekolah Al-Ihsan Islamic School Bekasi, Bambang Sumitro bersama para guru pengajar AIIS. (majalahayah.com/HA)

Memang harus akui semakin berkembangnya teknologi dan semakin terbukanya arus informasi dan komunikasi, mudahnya orang mengakses informasi dengan internet itu mau tidak mau berpengaruh dalam metode pembelajaran untuk memberikan bahwasanya metode pembelajaran tidak serta merta menjadi tanggung jawab di sekolah. Maka diperlukannya keselarasan antara sekolah, anak dan orangtua.

“Kami membangun 3 pilar, yaitu sekolah, anak, dan orang tua. Keberhasilan sekolah ini manakala dilakukan keterlibatan 3 pihak ini. Khususnya orang tua, apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang dipraktekan, orang tua perlu memahami apa yang dipelajari dan mereka membantu anak itu bisa melakukan evaluasi karena sebaik-baiknya mereka mempelajari adalah bertemu langsung dengan orang tuanya, melihat orang tuanya melakukan hal yang sama apa yang anak pelajari, bayangkan jika anak mengetahui cara sholat yang benar, tetapi orang tuanya tidak mengerjakan sholat, lalu bayangkan apa yang dipikirkan anak anak itu, (saya diajarkan di sekolah solat, harus solat, rosul melakukan sholat, tapi saya tidak melihat orang tua saya melakukan itu),” terangnya saat ditemui majalahayah.com.

Sudah semestinya adanya keselarasan dengan orang tua. Orang tua akan menjadi role model bagi anak-anaknya, karena akan melibatkan orang tua dengan sesuatu yang anak katakan.

“Anaknya mempelajari surat An-Nas, tetapi orang tuanya tidak mengetahui surat An-Nas, hal tersebut akan menjadi konflik, bagaimana ini orang tua saya saja tidak mengetahui. Saat anak diajarkan surat An-Nas, orang tua harusnya sudah mengetahui, saat anak sudah mengetahui tentang solat ajarkan anak sholat bersama.” pungkasnya.

“Jadi belajar tidak berhenti di sekolah, tetapi sampai di lingkungan rumah tangga, dan masyarakat dan kami yakin dalam pembentukan karakter dan pondasi metode pembelajaran yang kuat diharapkan orang tua juga ikut membantu anak-anak secara bijak menggunakan media komunikasi yang ada saat ini. Anak-anak terlalu asyik memainkan handphone-nya, orang tua bisa masuk dalam metode yang diajarkan atau yang rasul lakukan. Nah itu akan menjadi proses pembelajaran juga untuk anak,” tambahnya.

 

 

LEAVE A REPLY