Agastya Harjunadhi, Founder Bina Keluarga, IQRA Institute.
Foto : Agastya Harjunadhi, Founder Bina Keluarga, IQRA Institute.

Majalahayah.com, Jakarta – Momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres), biasanya adalah momen mengenal sosok pribadi pemimpin yang sedang bertanding. Masing-masing tim sukses pun melakukan program sosialisasi tentang pemimpin yang mereka usung kepada masyarakat.

Nah tak terhindarkan, biasanya diungkap segala prestasi juga kelebihannya. Pun juga dengan kekurangan-kekurangannya. Hal ini wajar karena masyarakat dan siapapun menginginkan pemimpinnya adalah pribadi yang baik bahkan unggul, tak memiliki kekurangan yang menjadikannya sulit dalam menjalankan amanah kepemimpinan kelak.

Di dalam Islam, menceritakan kekurangan orang apabila benar adanya/fakta merupakan perbuatan ghibah. Sedangkan bila tidak benar, maka tergolong fitnah. Lantas bagaimana menanggapi fenomena pilkada pileg pilpres ini?

Dalam ilmu musthalahul hadist, kita kenal dengan kaidah Jarah wa Ta’dil, mengutipnya dalam salah satu diskusi hangat grup kajian kami di Malaysia. Istilah ini (Jarah wa Ta’dil) berpasangan, jangan dipisahkan karena saling berkaitan.

Jarah adalah menyebutkan kejelekan, kekurangan, ‘aib seseorang (rawi). Sementara Ta’dil adalah menyebutkan kelebihan, prestasi, keunggulan seseorang (rawi).

Menyebutkan/menerangkan ke’aiban dan keunggulan seseorang (rawi) merupakan salah satu timbangan diterima atau ditolaknya sebuah berita (hadits).

Kaidah Jarah wa Ta’dil bukan hanya berlaku pada dunia perhaditsan, tetapi berlaku dalam seluruh aspek kehidupan. Apalagi ketika memilih sesorang untuk dijadikan pasangan hidup atau pemimpin.

Nabi saw pernah diminta nasihatnya oleh Fatimah binti Qais, setelah habis masa iddah cerai, Fatimah dikhitbah oleh Mu’awiyah dan Abu Jahmin, ia kebingungan untuk menerima pinangan salah satunya, Nabi shalallaahu alayhi wasallam bersabda:

“Abu Jahmin itu kemanapun dia pergi maka tongkatnya selalu ada di pundaknya (suka memukul). Sementara Mu’awiyah orangnya miskin (pelit). Nikahlah engkau dengan Usamah. ”

Imam Ahmad bin Hanbal pernah menyebutkan ke’aiban seorang rawi (menjarah). Lalu seorang Sufi menegurnya dengan berkata: “Yaa syaikh, laa taghtabil ‘ulama.” ( Yaa syeikh, jangan mengghibah ulama)

Maka imam Ahmad berkata: “Uskut yaa ghaby, idzaa lam nubayyin kaifa na’riful haqqa minal baathil?!. ” (Diam engkau wahai orang yang tidak paham (bodoh), bagaimana kemudian kita mau memberitahu/membedakan mana yang haq dan bathil?!)

Menyebutkan kekurangan Abu Jahmin dan Mu’awiyah (yang dilakukan oleh Nabi saw) demikian pula menyebutkan ke’aiban seorang rawi (yang dilakukan oleh imam Ahmad) bukan ghibah, bukan pula penyerangan terhadap kehormatan seseorang, tetapi semata-mata wujud pengamalan ayat ke 3 surat al-‘Ashr; wujud saling menasihati agar umat selamat dari kejahatan orang termaksud.

*Namun ada yang perlu digarisbawahi dan menjadi acuan penting bagi kita semua.* QS. Al Ashr:3; wa tawaa shau bil haq wa tawaashaubish shabr, hanya mampu tegak apabila rujukan haq/kebenaran nya adalah sama. Yakni kebenaran dari Allah yang kemudian diteladankan oleh rasulullaah saw. Oleh karenanya, edukasi/dakwah menjadi sangat penting. Sehingga Fathimah binti Qais faham maksud “miskin” menurut rasulullaah adalah pelit.

Efek dari dakwah/edukasi pemahaman Islam sangatlah besar. Menurut kita umumnya, orang yang cerdas adalah yang nilainya 100 atau A di semua pelajaran. Atau orang yang kaya adalah yang bergelimang harta. Namun Islam memberikan definisi bahwa orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat kematian. Sedangkan orang kaya adalah bukan kaya harta, tapi kaya hati/jiwanya.

Nah, demikian pula berlaku dalam hal Pilkada atau lainnya; kaidah jarah wa ta’dil bisa berlaku. Bukan hal yang terlarang menyebutkan kekurangan/ke’aiban seorang calon, selama yang disebutkan itu adalah fakta bukan fitnah. Contoh: menyebutkan bahwa calon si A itu memiliki aqidah yang menyimpang. Atau si B itu permisif terhadap LGBT. Harus dikemukakan, karena pemimpin itu pemegang kebijakan publik. Pemimpin akan sangat menentukan arah masyarakat yang dipimpinnya. Bahkan ada istilah, agama pemimpin adalah agama rakyatnya, saking besarnya pengaruh kepemimpinan.

Yuk cermati, gali datanya, diskusikan dengan orang-orang shalih, minta petunjuk ulama dan kemudian memohon petunjuk Allah melalui shalat Istikharah politik. Insya Allah pilihan kita akan mashlahat. Selamat menggunakan hak pilih sebagai warga negara yang baik.

_wallahualam bishawab_

Oleh:

Agastya Harjunadhi, (Founder komunitas Bina Peradaban)