Pengantar tentang Kepemimpinan Ayah dalam Mewujudkan Keluarga Samara

Pengantar tentang Kepemimpinan Ayah dalam Mewujudkan Keluarga Samara

213
SHARE
Foto : Ilustrasi keluarga Samara. Sumber www.keluargasamawa.com

Majalahayah.com, Jakarta – Sebelum membahas peran kepemimpinan ayah perlu kiranya memahami dahulu betapa makhluk yang disebut manusia ini adalah mahkluk termulia yang diciptakan oleh Allah dan memiliki keutamaan serta dilebihkan dari mahkluk-mahkluk lainnya. Sebagaimana Firman Allah SWT,

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS.Al-Isra 17 : 70)

Seluruh proses penciptaan manusia sampai dengan kembali kita kepada Allah semua tahapan diberikan kemuliaan oleh Allah. Tidak ada aturan agama di dunia ini, yang dari sekian tahapan kehidupan manusia begitu dimuliakan diberikan tuntunan kecuali agama Islam dengan Qur’anNya.

Fase 1. Saat sebelum lahir, Allah turunkan QS. Al A’raf : 189 supaya bayi yang lahir menjadi anak yang sholeh.

Fase 2. Setelah lahir, turun QS. Al Baqarah : 233 memberikan tuntunan supaya dijaga kemuliaan hidup ini dari mulai fase dilahirkan sampai dengan disapih 2 tahun. Dari disapih menjelang dewasa, turun QS. Luqman : 13 – 19.

Fase 3. Setelah akan menikah , turun lagi QS. An Nisa : 1 – 4.

Fase 4. Sudah menikah, dijaga lagi kehormatannya turun lagi QS. An Nisa : 19 & 34.

Saat menjadi orangtua, diturunkan lagi QS. Al Isra : 23.

 

Fase 5. Sampai wafat meninggal kepada Allah, turun QS. Ali Imran : 169 – 171.

Kesimpulan dari Poin ini : Tidak ada agama manapun di dunia ini, yang mengatur kehidupan manusia sejak lahir hingga wafat kecuali agama Islam.

Allah menginginkan mahkluk ini hidup terhormat, kalau ada yang tidak terhormat maka manusia itu sendiri yang memilih dirinya tidak terhormat.

Maka diturunkan 1 buku petunjuk, 1 kitab, yang kalau kitab ini dibaca, pelajari dan amalkan maka hidup manusia akan berada dalam jalur kehormatan ini seperti yang sudah Allah sampaikan dalam Al Quran di surah Al-Baqarah : 185 (Bagi seluruh manusia) & 2-3 (Bagi orang-orang Islam) , yaitu Al Quran yang berfungsi sebagai petunjuk .

Al-Qur’an membangunkan sebuah keluarga yang sakinah dan  kuat untuk membentuk suatu tatanan masyarakat yang memelihara aturan-aturan Allah dalam kehidupan. Aturan yang ditawarkan oleh Islam menjamin terbinanya keluarga bahagia, lantaran nilai kebenaran yang dikandungnya, serta keselarasannya yang ada dalam fitrah manusia.

Baca juga :   Ilmu, Sebab Hidupnya Hati dan Keutamaannya

Berkeluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah (Samara) adalah do’a yang diberikan hampir setiap orang pada pasangan yang baru menikah dan tentunya juga impian bagi setiap pasangan untuk menempuh kehidupan hingga akhirat. Sebagaimana Firman Allah SWT,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman  kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan  rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. [QS. Ar-Rum : 21].

 
Pengertian Sakinah

Kata sakinah berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, kata sakinah mengandung makna tenang, tentram, damai, terhormat, aman, nyaman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, dan memperoleh pembelaan.

Dengan demikian keluarga sakinah berarti keluarga yang semua anggotanya merasakan ketenangan, kedamain, keamanan, ketentraman, perlindungan, kebahagiaan, keberkahan, dan penghargaan.

Dengan demikian, keluarga sakinah  ialah kondisi sebuah keluarga yang sangat ideal yang terbentuk berlandaskan Al-Quran dan Sunnah untuk  mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Pengertian Mawaddah

Mawadah adalah perasaan ingin bersatu atau bersama.

Al-Qur’an juga menegaskan hubungan antara mawadah dan keinginan bersama,

وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya : “Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada mawadah antara kamu dengan dia: “Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)” [An-Nissa 73].

Pengertian Rahmah

Rahmah adalah kasih sayang dan kelembutan, timbul terutama karena ada ikatan. Seperti cinta antar orang yang bertalian darah, cinta orang tua terhadap anaknya, atau sebaliknya.

Sebagaimana tafsir yang disebutkan Imam As-Sayuthiرحمه الله (w. 911 H) dalam Tafsir Dur Mantsur (11/595), riwayat Ibn Al-Mundzir dan Ibn Abi Hatim, dari Al-Hasan rahimahullau tentang firman Allah : “… dan rahmah”, Al-Hasan berkata, “al-walad (anak)”. Demikian pula menurut Mujahid dan Ikrimah, sebagaimana dituliskan Imam Ibn Hayan Al-Andalusi رحمه الله (w. 745 H) dalam Tafsir Al-Bahr Al-Muhyith (9/77) dan lainnya.

Ciri-ciri Keluarga Samara

Pada dasarnya keluarga sanara sukar diukur karena merupakan satu perkara yang abstrak dan hanya boleh ditentukan oleh pasangan yang berumah tangga. Namun, terdapat beberapa ciri-ciri keluarga samara, diantaranya untuk lebih lengkapnya ikuti Seminar “Excellence Parenting” dengan tema “Kepemimpinan Ayah dalam Mewujudkan Keluarga Samara”.

Syarat Dalam Membentuk Keluarga Samara

  1. Dalam keluarga ada mawaddah dan warahmah. Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu. Sedangkan warahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan melindungi yang dicintai.
  2. Hubungan antara suami istri harus atas berdasarkan saling membutuhkan.
  3. Suami istri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma’ruf), tidak asal benar dan  hak.
  4. Menurut hadist Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat, yaitu :
Baca juga :   Siapakah Sang Pemimpin yang Bertakwa Sebagaimana Amanat Konstitusi NKRI? (Bagian 1/2)

-Memiliki kecendrungan kepada agama.

-Yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.

-Sederhana dalam belanja.

-Santun dalam bergaul dan selalu melakukan instropeksi.

5.Menurut hadist Nabi juga, empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan  kebahagiaan keluarga (arba’un min sa’adatal mar’i) yakni:

-Suami/istri yang sholeh/sholehah.

-Anak-anak yang berbakti.

-Lingkungan sosial yang sehat, dan

-Dekat rizkinya.

Konsep Membangun Keluarga Sakinah

1.Memilih Kriteria Calon Suami atau Istri dengan Tepat

2.Dalam keluarga Harus Ada Mawaddah dan Rahmah

3.Saling Mengerti Antara Suami-Istri

4.Saling Menerima

5.Saling Menghargai

6.Saling Mempercayai

7.Suami-Istri Harus Menjalankan Kewajibannya Masing-Masing

8.Suami Istri Harus Menghindari Pertikaian

9.Hubungan Antara Suami Istri Atas Dasar Saling Membutuhkan

10.Suami Istri Harus Senantiasa Menjaga Makanan yang Halal

11.Suami Istri Harus Menjaga Aqidah yang Benar

Membentuk Keluarga Samara

Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata upaya mewujudkan keluarga yang samara bukanlah perkara yang mudah, ditengah-tengah arus kehidupan seperti ini. Jangankan untuk mencapai bentuk keluarga yang ideal, bahkan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga saja sudah merupakan suatu prestasi tersendiri, sehingga sudah saat-nya setiap keluarga perlu merenung apakah mereka tengah berjalan pada koridor yang diinginkan oleh Allah dalam mahligai tersebut, ataukah mereka justru berjalan bertolak belakang dengan apa yang diinginkan oleh-Nya.

Islam mengajarkan agar keluarga dan rumah tangga menjadi institusi yang aman, bahagia dan kukuh bagi setiap ahli keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan atau unit masyarakat yang terkecil yang berperan sebagai satu lembaga yang menentukan corak dan bentuk masyarakat.

Untuk Lebih lengkap dan jelasnya, Ikuti Seminar “Excellence Parenting” dengan tema “Kepemimpinan Ayah dalam Mewujudkan Keluarga Samara”.