Pendidikan Karakter, Membentuk Generasi Izzah, Bukan Imma’ah

Pendidikan Karakter, Membentuk Generasi Izzah, Bukan Imma’ah

245
SHARE
Ilustrasi Mendidik generasi izzah. Smber www.layarberita.com

Majalahayah.com, Jakarta – Dalam berkehidupan sehari-hari di jaman sekarang ini, dibutuhkan penguat dasar yang mampu menjaga keluarga. Tentunya terjaganya generasi penerus dari lingkungan yang semakin tidak kondusif baik dari pergaulan dan media hiburan lainnya.

Kita sangat sering mendengar keluhan orangtua atau pendidik,

“Tadinya dia baik, tapi sekarang jadi masalah karena terpengaruh teman-temannya.”

“Gimana ya, dari kecil saya didik dengan Islami, kok besarnya jadi bermasalah.”

“Dia ikut-ikutan tuh…”

“Sebenarnya dia baik, tapi kalau sudah kumpul sama teman akrabnya, aduhhh….”

Sering ya, kita dengar keluhan seperti itu. Intinya satu: anak-anak kita belum menancap kebaikannya. Masih sering goyah, mudah terbawa. Baik, rusak, baik, rusak, baik, rusak…begitu seterusnya…

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi atau bahkan solusi.

Ada dua kata yang berlawanan di judul tulisan ini: Izzah vs Imma’ah

Izzah didefinisikan secara bahasa maknanya berkisar pada: kemenangan, kekuatan, berharganya sesuatu, tingginya posisi, mampu mengalahkan.

Sementara Imma’ah maknanya berkisar pada: mengikuti setiap suara, pengikut buta tanpa punya pendapat (blind imitation).

Menurut Abul Ala Muhammad Abdurrahman al Mubarokfuri (Tuhfatul Ahwadzi) tentang Imma’ah, “Yang dimaksud adalah siapa saja yang mengikuti apa saja yang digemari hawa nafsunya dan yang sesuai dengan keinginannya.”

Jadi,

Izzah adalah kemenangan dan Imma’ah adalah kekalahan.

Izzah adalah kemuliaan dan Imma’ah adalah kehinaan.

Izzah adalah harga diri yang tinggi dan Imma’ah adalah murah dan remehnya harga diri.

Dan ibarat air dengan garam, Izzah adalah air dan Imma’ah adalah garam. Izzah yang melarutkan dan meleburkan, sementara Imma’ah yang dilarutkan dan terleburkan.

Memang hilangnya izzah menjadi masalah sendiri bagi kita. Efeknya adalah generasi ini menjadi generasi ima’ah. Inilah tugas besar hari ini. Karena bangsa yang kalah akan ikut bangsa yang menang dalam segala hal.

Tentu hal ini berbeda sekali dengan zaman kebesaran Islam dahulu. Zaman itu, tentu Islamlah yang membuat tren. Dari ilmu pengetahuan, sistim, hingga gaya hidup. Orang-orang Eropa merasa berperadaban tinggi kalau berpakaian seperti orang Arab berpakaian. Dengan keadaan yang seperti itu, para orangtua hari itu sangat sedikit kekhawatiran bahwa anak akan terpengaruh peradaban Romawi atau Persia.

Sementara kita sekarang hidup di masa kekalahan muslimin.Yang sudah pasti adalah peradaban tak ada di tangan kita. Sehingga pemutarnya bukan kita. Pemain utamanya bukan kita. Dan bangsa yang kalah ini akan mengikuti bangsa yang menang. Maka, sudah pasti banyak orangtua khawatir anak-anaknya terpengaruh oleh budaya Yahudi dan Nasrani.

Begitu pentingnya mengembalikan izzah tercermin dari salah satu nama mulia Allah Al Aziz (Dialah yang perkasa, kuat, mengalahkan) dan Al Mu’iz (Dialah yang memberikan izzah kepada hamba yang Dia Kehendaki).

Izzah dan Imma’ah dalam Wahyu

Ada banyak ayat yang berbicara tentang izzah. Tetapi cukup kita nukil tiga ayat berikut ini.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا (فاطر:10

Baca juga :   Belajar dari Cara Abu Hurairah Menyerap Ilmu dari Rasulullah

“Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah.” (Qs. Fathir: 10)

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Yunus: 65)

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.” (Qs. An Nisa’: 139)

Gabungan dari tiga ayat ini menjelaskan dengan gamblang tentang izzah.

Izzah semuanya –sekali lagi- semuanya, hanya milik Allah azza wajalla. Tidak ada satupun di muka bumi ini yang memiliki izzah kecuali Allah. Dengan demikian, kunci mendapatkan izzah hanya satu yaitu dengan mendekat dan memintanya kepada Allah. Mempelajari ilmu Allah yang diturunkan kepada Nabi Nya, memahaminya dan mengaplikasikannya. Di semua bidang ilmu dan seluruh sisi kehidupan ini.

Allah menghibur Nabi Nya yang diserang dengan berbagai perkataan musuh yang membuat beliau bersedih. Hiburan untuk beliau adalah: Sesungguhnya izzah milik Allah semuanya. Dan ini pula yang pasti dihadapi oleh siapapun yang menjadi asing di tengah hiruk pikuk peradaban yang bukan peradaban kita ini. Berbagai kalimat orang kafir yang menyerang pasti membuat sedih kita. Tetapi ada yang membuat kita lebih bersedih adalah: kalimat serangan yang justru datang dari muslim yang tertipu oleh peradaban Jahiliyah ini. Maka hiburlah diri. Seperti Allah menghibur Nabi Nya. Cacian dan kalimat menyedihkan itu tak akan lama. Hanya perlu bersabar beberapa tahun kemudian ia berlalu dan semua bergumam: Sesungguhnya izzah hanya milik Allah semata!

Ayat yang ketiga merupakan kenyataan yang terasa lebih nyata di zaman kita sekarang. Saat muslimin bukan pelaku apalagi pemenang. Ditambah muslimin tidak percaya diri dengan ilmu Allah dan Rasul Nya. Maka mereka akan merapat kepada orang-orang kafir. Allah bertanya: (Apakah mereka mencari izzah di sisi orang kafir itu?). Jawabannya: Ya, karena mereka menduga bahwa izzah itu ada di tangan mereka, karena ilmu pengetahuan dan peradaban di tangan orang-orang kafir.

Tapi siapapun yang mencoba menjadikan orang kafir sebagai wali dengan mengorbankan muslimin dan meninggalkan mereka, maka pasti ia akan kecewa. Izzah tak kunjung ia dapatkan. Dan muslimin yang bersamanya telah pergi meninggalkannya. Akhirnya, hidup segan mati tak mau.

Jadi, jangan tinggalkan muslimin hanya karena menduga bahwa kebesaran bersama orang-orang kafir dan konsep-konsep mereka. Karena untuk kesekian kalinya: (Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah).

Selanjutnya inilah sabda Nabi tentang Izzah dan Imma’ah,

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِي المَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Baca juga :   Peduli Anak, Facebook Ciptakan Messenger Khusus

“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seseorang pun sebelumku: Aku ditolong dengan (Allah mengirimkan) rasa takut sejauh perjalanan sebulan, dijadikan untukku bumi ini sebagai masjid dan bersuci di mana pun seseorang dari umatku bertemu waktu shalat maka shalatlah, dihalalkan untukku ghonimah dan tidak halal bagi seorang pun sebelumku, aku diberi (hak memberi) syafaat dan setiap nabi diutus khusus untuk kaumnya saja sementara aku diutus untuk seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Salah satu bentuk nyata muslimin yang memiliki izzah adalah seperti dalam sabda Nabi di hadits tersebut. Di mana beliau ditolong Allah memenangkan jihad dengan cara Allah memasukkan rasa takut kepada musuh sebulan sebelum pasukan muslimin sampai ke mereka. Itu artinya, baru tersebar beritanya saja mereka telah gentar. Sementara keberadaan musliminnya masih sangat jauh di seberang sana. Izzah membuat sesuatu yang sepele menjadi kebesaran. Apalagi kehadiran fisik muslimin di tempat itu. Subhanallah.

Jadi, kalau sudah tumplek blek muslimin dengan jumlah fantastis 200 juta sama sekali tak menggentarkan musuh Allah, maka silahkan nilai sendiri kualitas izzahnya.

Hadits yang kedua adalah,

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلاَ تَظْلِمُوا.

Dari Hudzaifah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah kalian menjadi Imma’ah; kalian berkata: jika orang-orang baik, kami pun ikut baik. Dan jika mereka dzalim kami pun ikut dzalim. Tetapi siapkan diri kalian (untuk menerima kebenaran dan kebaikan); Jika orang-orang baik, kalian harus baik dan jika mereka rusak, kalian jangan menjadi orang dzalim.”
(HR. Tirmidzi dan berkata: Ini hadits hasan ghorib)

Inilah definisi Imma’ah dari Nabi: ikut-ikutan. Baik ikut-ikutan baik ataupun ikut-ikutan buruk. Ikut-ikutan baik saja tidak baik, apalagi ikut-ikutan buruk. Mengapa ikutan baik tidak baik. Karena apapun yang dilakukan tanpa ilmu tidak akan berkekuatan lama. Apalagi komunitas yang tadinya baik berubah menjadi jahat, pasti ia akan ikut jahat juga. Karena dahulu baiknya bukan karena ilmu tetapi karena ikutan komunitas tersebut.

Di sinilah, keluarga muslim mempunyai tugas besar untuk melahirkan generasi izzah bukan generasi imma’ah. Sekaligus kalau diizinkan meminjam istilah sebagian ahli beladiri atau tentara: cara terbaik bertahan adalah menyerang, kita pun akan katakan: cara terbaik untuk tidak terpengaruh oleh lingkungan adalah mempengaruhi lingkungan.

Itu artinya, anak-anak kita harus dijadikan bisa ‘menguasai’ teman-temannya. Tetapi harus menguasai dengan bersandar kuat hanya kepada Allah. Bukan kepada yang lainnya. Dan menjalankan sesuatu dengan panduan ilmu Allah. Bukan ikut2an.