Majalahayah.com, Jakarta – Pusat Studi Islam Strategis Kerajaan Yordania merilis 500 tokoh Muslim berpengaruh di seluruh dunia untuk edisi 2020 mendatang.

Dalam publikasi dari The Muslim 500, publik terutama menyoroti lima besar dari tokoh itu. Di antaranya adalah Raja Salman dari Arab Saudi.

Kemudian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Berikut keseluruhan daftar dari lima besar tokoh Muslim berpengaruh dunia itu.

1. Hakim Sheikh Muhammad Taqi Usmani (Sarjana Yurisprudensi dan Finansial Islam)

Sheikh Mufti Muhammad Taqi Usmani merupakan salah satu sarjana terkemuka dalam bidang Hadits, yurisprudensi, dan finansial Islam.

Dia merupakan pemimpin intelektual Sekolah Islam Deobandi, dan Hakim Pengadilan Tinggi Syariat Mahkamah Agung Pakistan pada 1982 sampai Mei 2002.

Dia masuk dalam peringkat pertama karena posisinya sebagai ketua bank maupun institusi finansial Islam, dan memimpin Dewan Syariah Internasional untuk Organisasi Akuntansi dan Audit Institusi Finansial Islam.

Dia menerjemahkan Al-Quran baik ke bahasa Inggris dan Urdu, dan penulis enam volume komentar mengenai Hadis Sahih Muslim.

Fatwa yang Usmani telurkan dalam 45 tahun terakhir dipublikasikan dalam empat volume buku, dan menulis lebih dari 80 buku dalam bahasa Inggris, Arab, dan Urdu.

2. Ayatollah Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi Iran)

Grand Ayatollah Khamenei merupakan pemimpin kedua Republik Islam Iran. Dia lahir di Mashhad, dan menempuh pendidikan di Seminari Keagamaan Qom.

Khamenei menjadi figur penting Revolusi Iran pada 1979, dan kemudian menjadi Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan Ruhollah Khomeini.

Dia berada di peringkat kedua karena posisinya sebagai pemimpin keagamaan yang memberikannya peran unik dalam relasi politik.

Pengaruhnya begitu kentara terutama saat Iran terlibat ketegangan dengan Amerika Serikat (AS), di mana Washington menjatuhkan sanksi sejak 1979.

Tensi itu makin memanas sejak Presiden Donald Trump berkuasa, di mana pada 2018, dia mengumumkan menarik diri dari perjanjian nuklir 2015.

Trump kemudian mengumumkan serangkaian sanksi yang menghantam ekonomi Iran. Di saat inilah, Teheran sangat bergantung pada kepemimpinan Khamenei.

3. Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan (Putra Mahkota Abu Dhabi)

Selain Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan juga Wakil Panglima Tertinggi Militer Uni Emirat Arab (UEA).

Di merupakan putra ketiga mendiang Sheikh Zayed bin Sultan Al-Nahyan, yang merupakan presiden pertama UEA dari 1971 hingga wafat pada 2004.

Sebagai salah satu jenderal, Sheikh Mohammed ikut andil dalam melakukan modernisasi angkatan perang UEA. Tak hanya membeli jet tempur asing.

Dia juga mengembangkan industri pertahanan secara mandiri, baik untuk piranti keras maupun pasukan khusus yang diterjunkan ke konflik seperti Irak, Libya, hingga Yaman.

Dia menjalin hubungan baik dengan mantan Presiden AS Barack Obama. Namun relasinya semakin intens sejak Trump berkuasa.

Selain itu, Sheikh Mohammed yang berada di daftar ketiga dikenal sebagai filantropi. Dia menyumbang jutaan dollar AS untuk kegiatan amal.

4. Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud (Raja Arab Saudi dan Penjaga 2 Masjid Suci)

Raja Salman merupakan penguasa ketujuh Arab Saudi yang bertakhta sejak Januari 2015 sejak wafatnya saudaranya, Raja Abdullah bin Abdulaziz.

Dia berada di urutan keempat karena pengaruh Saudi dia tiga area kritis. Pertama, Saudi merupakan rumah dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Kedua, Saudi merupakan raksasa pengekspor minyak, dan yang terakhir, mempromosikan Islam melalui jaringan dakwah bagi negara Muslim.

Sebagai pengekspor minyak, Saudi setidaknya menyokong 20 persen pasokan energi dunia. Membuat Raja Salman pemain kunci dalam industri migas global.

Pada Maret 2015, tak lama setelah dia berkuasa, Raja Salman meluncurkan koalisi berisi sembilan negara untuk menyerang pemberontak Houthi di Yaman.

Sejak 21 Juni 2017, dia melantik anaknya, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al-Saud sebagai Putra Mahkota Arab Saudi.

5. Raja Abdullah II (Raja Yordania dan Penjaga Situs Suci Yerusalem)

Raja Abdullah II Ibn Al-Hussein bukan merupakan penguasa monarki kerajaan kaya, populer, atau termasuk cendekiawan Muslim.

Namun, namanya masuk dalam lima besar tokoh Muslim berpengaruh dunia karena menjadi salah satu ujung tombak isu utama dunia Arab: Israel dan Palestina.

Raja yang berkusa sejak 7 Februari 1999 silam itu merupakan generasi ke-41 keturunan langsung Nabi Muhammad melalui cucu sang Nabi, Al-Hasan.

Dia berasal dari Hashemite, dinasti penguasa tertua dunia yang masih aktif setelah Jepang, dan memberikan Raja Abdullah II peran unik di dunia Arab.

Raja Abdullah II dikenal sebagai pemimpin progresif dengan visi politik terbuka, dan mendorong nilai-nilai Islam yang terbuka dan toleran.

Dia adalah penjaga Al-Haram Al-Sharif, begitu juga dengan situs suci Kristiani di Yerusalem, dan menyerukan adanya renovasi pada keduanya.