Majalahayah.com, Jakarta – Badan data  riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Kementrian Kesehatan mencatat tingkat prevalensi merokok di Indonesia cenderung naik dari tahun ke tahun. Dan diketahui data 2018 menyatakan bahwa 9,1 persen remaja sudah terpapar dengan rokok.

Berdasarkan fakta di atas, menurut Ketua Asosiasi Vaporizer Indonesia (APVI), Aryo Andrianto mengatakan data tersebut menunjukkan bahwa persoalan rokok di Indonesia belum dapat teratasi secara maksimal.

Menilai perlunya pendekatan yang berbeda upaya menurunkan tingkat prevalensi perokok di Indonesia,  peluncuran GEBRAK (Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok) yang tergabung dari beberapa asosiasi seperti APVI, Asosiasi Vaper Indonesia (AVI), Asosiasi Vaporiser Bali (AVB) dan Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP).

“Peluncuran GEBRAK sebagai bentuk komitmen untuk mengurangi persoalan kesehatan bebas TAR. Yaitu senyawa karsinogenik uang memicu timbulnya penyakit berbahaya pada tubuh,” tambah Aryo saat Konferensi Pers Peluncuran GEBRAK di Restoran Tjikini Lima, Jakarta Pusat (9/4/2019).

Metode pendekatan untuk pengurangan resiko bagi perokok menurut Aryo berhasil diterapkan di beberapa negara maju, untuk itu bagi perokok yang kesulitan untuk menghentikan aktivitas merokok, akan diberikan solusi alternatif dan akses informasi terhadap produk tembakau alternatif.

“Kami bersyukur hari ini GEBRAK dapat diperkenalkan kepada masyarakat secara luas, sehingga masyarakat dapat memiliki akses untuk mengetahui secara transparan dan komprehensif mengenai bahaya TAR, terutama dari hasil pembakaran rokok dan solusi pengurangan resiko melalui produk tembakau alternatif,” jelas Aryo.

Tak hanya itu, dijelaskan oleh Dr. drg. Amaliya sebagai peneliti YPKP bahwa pengurangan resiko bukan hanya menyangkut kesehatan dan keselamatan, namun turut serta hak asasi manusia dan hak konsumen.

“Sebagai konsumen, kita harus cerdas memilih berdasarkan informasi yang tepat. Penelitian dari Public Health England menunjukan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik. Sebab resiko kesehatannya lebih rendah 95 persen daripada rokok konvensional,” ungkap Dr. Amaliya.