Majalahayah.com, Bandung – Dibalik kesuksesannya sebagai pengusaha travel, Wirawan Yogiasono (35 Tahun) rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengabdikan dirinya sebagai penggiat Komunitas Seniman Terminal (Senter) di Depok, Jawa Barat. 

Melihat naasnya kehidupan anak jalanan, berhasil membuat hatinya terenyuh. Sejak tahun 2003, Wirawan atau akrab disapa Wawan ini telah membuat banyak perubahan kehidupan masyarakat marjinal di kawasan terminal Depok Baru.

Mulai dari pengamen, pemulung, pengasong, penjudi, hingga perampok yang mayoritas anak punk ini berhasil diberikan pelatihan yang edukatif.

“Kegiatan rutinnya itu pengajian karena tahap awal saya ingin mengenalkan mereka ke tuhannya terlebih dahulu dan memiliki rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan, setiap Jumat malam kita adakan pengajian,” ujar Wawan kepada majalahayah.com usai acara Berkompetisi Indonesia, di Bandung, Jawa Barat (07/4/2019).

Selain mengadakan pengajian, Komunitas Senter ini pun selenggarakan jasa penghapusan tato bagi anak jalan secara cuma-cuma atau gratis. Hanya saja, Wawan katakan ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

“Bagi yang punya tato dan ingin menghapusnya kita hapus dengan laser. Syaratnya mereka harus menghafal surah Ar-Rahman. Kalau sudah hafal nanti tatonya bisa dihapus,” tutur Wawan.

Sampai saat ini, Wawan katakan sudah banyak masyarakat marjinal yang menghapus tatonya dan masih banyak pula yang sedang berusaha menghafal surah Ar-Rahaman.

Tak hanya itu, Wawan yang memahami kehidupan anak punk, ia berinisiatif mendonasikan 10% penghasilannya dan mengumpulkan dana dari para donatur untuk menyediakan tempat tinggal bagi mereka yang sudah memiliki keluarga.

“Program memberikan tempat tinggal di kontrakan bagi yang sudah menikah. Dan kontrakan itu kita yang bayar setiap bulannya. Kenapa bagi yang sudah menikah? Karena kita tahu beban ekonomi mereka sangat tinggi, pendapatannya rendah, untuk makan sulit dan saya sangat sedih kalau mereka yang sudah punya anak masih tidur di bawah flyover, pasti kedinginan,” jelasnya.

Tak luput pula, bagi yang belum menikah dan sebagai upaya mengurangi tindakan kriminal, seks bebas serta narkoba, komunitas Sentral pun berikan kegiatan berupa pelatihan.

“Bagi yang belum berkeluarga kita lebih fokus untuk memberikan pelatihan semacam servis handphone, bengkel, servis ac, kalau untuk perempuan itu diberikan pelatihan seperti salon, menjahit dan keterampilan lainnya,” sambungnya.

Mengandalkan relawan dan guru mengaji untuk membantu perbaiki kehidupan para anak jalanan, Wawan berharap agar masyarakat mampu mengubah paradigma tentang anak jalanan. 

“Hilangkan paradigma kalau masyarakat jalanan itu keras, pencuri, dan menakutkan. Jadikan mereka sebagai sabahat, teman, atau adik kita yang peu kita rangkul dan bisa hidup bahagia dan layak. Biarkan mereka berlomba-lomba untuk meraih impian dan kesuksesan di masa depan yang lebih baik,” tandasnya.

Sampai saat ini, masyarakat jalanan yang terlibat di Komunitas Sentral sudah masuk gelombang ke-2. Dan bagi mereka yang sudah mengikuti gelombang pertama pada kegiatan komunitas tersebut telah menghasilkan perubahan yang signifikan.