Persatuan berjamaah. Foto : Ruanghati.com

Majalahayah.com – Jakarta. Sepanjang masa isu golongan Sunni dan Syiah selalu menjadi topik sentral atas terpecahnya umat Islam dalam dua kelompok besar. Masing-masing kelompok itupun terpecah dalam ragam kelompok turunannya dan semua mengklaim yang paling benar. Sehingga dapat dipastikan, saat anda keluar dari pintu rumah, maka sudah tersedia dihadapan anda puluhan sekte dan golongan dari dua kelompok besar Sunni dan Syiah tersebut beserta turunannya, silahkan anda pilih.

Berangkat dari niat tidak ingin berkelompok/golongan maka sebagian orang memilih untuk tidak memilih kelompok, dengan harapan itulah yang benar, yaitu tidak berada dalam kelompok tertentu. Padahal tanpa disadari dengan pilihan untuk bersikap seperti itu artinya mereka adalah kelompok juga, yaitu kelompok golongan yang tidak memiliki golongan.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

Hadits ini diriwayatkan oleh:

1. Abu Dawud, Kitab as-Sunnah, I-Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafazh hadits di atas adalah lafazh Abu Dawud.

2. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, 18-Bab Maa Jaa-a fiftiraaqi Haadzihil Ummah, no. 2778

3. Ibnu Majah, 36-Kitabul Fitan, 17-Bab Iftiraaqil Umam, no. 3991.

Hadits-hadits di atas setelah diteliti oleh para Ahli Hadits, maka mereka berkesimpulan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya ummat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka dan satu golongan masuk Surga adalah hadits yang shahih. Tidak boleh seorang pun ragu tentang keshahihan hadits-hadits tersebut, kecuali jika dapat dibuktikan berdasarkan ilmu hadits tentang kelemahannya.

Berpegang dengan hadits diatas, maka menjadi wajib bagi kita untuk mencari golongan yang satu itu, diantara ke 73 golongan tersebut. Adapun syarat dalam pencarian tersebut tentunya telah diatur dalam Alquran, yaitu:

Surat Ar-Rum (30):31-32

“dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,” “yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Surat Ash-Shura (42):13

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”

Lantas, apakah kemudian Sunni dan Syiah adalah 2 golongan daripada 73 golongan yang dimaksud dalam riwayat hadits tersebut? Lalu dimana 71 golongan lainnya? Seperti apa Sunni? Seperti apa Syiah? Seperti apa 71 golongan lainnya? Tentu jika golongan Syiah mengatakan dirinya benar dan Sunni sesat (ataupun sebaliknya), tidak takutkah anda dengan pernyataan Allah: “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”? Tidak ada nash dalam hadits ataupun Alquran yang menyatakan nama daripada ke 73 golongan tersebut, 2 diantaranya adalah bernama Sunni dan Syiah.

Dengan penjelasan singkat diatas, beserta tentunya nash-nash Alquran ataupun hadits yang kita pelajari, untuk apa kita berkutat terhadap polemik Sunni dan Syiah? Terlebih sampai dengan timbulnya celah mencela dan hina menghina. Kewajiban kita adalah tidak terpancing terhadap segala upaya pemecah belahan umat Islam oleh musuh-musuh Islam, serta berpegang kepada Ayat-ayat Alquran dan hadits agar sikap ini dapat dipertanggung-jawabkan kelak dihadapan Allah SWT.

Untuk itu bagi kita umat Islam:

1. Bersatulah dan jangan berpecah belah sebagaimana perintah Allah SWT, jika tidak demikian maka dikatakan dalam ayat itu (surat 30: 31), bahwa kita adalah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, dengan kata lain sirik.

2. Mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT atas petunjuk mengenai golonganNya.

3. Beberapa ciri memecah belah diantaranya adalah membuat berita bohong dan turut serta menyebarkan berita-berita kebencian, fitnah ataupun kejadian-kejadian yang tidak pernah kita ketahui kebenarannya. Apalagi dengan dukungan teknologi saat ini, dalam hitungan detik, fitnah, kebencian dan kebohongan dapat tersebar dengan sangat cepat.

4. Pelajari terus-menerus ciri-ciri daripada golongan-Nya, dan ingatlah bahwa agama ini (Islam) hanyalah untuk orang-orang yang berpikir.

5. Carilah guru yang mengajak untuk kebersatuan umat Islam, mempelajari Alquran dan As-Sunnah, menjadikannya sebagai pedoman pengambilan keputusan dan pembeda antara yang haq dan batil.

6. Rekonstruksikan secara utuh rekam jejak perjuangan Nabi kita Muhammad SAW, untuk bisa kita jadikan tauladan. Jangan mencintainya karena doktrin, tapi cintailah karena pengetahuan kita atas apa yang diperjuangkannya tersebut. Sehingga selamatnya diri kita di dunia dan akherat, atas izin Allah SWT adalah akibat dari perjuangan beliau Rasulullah SAW, yang juga atas izin Allah SWT. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Maka dari itu, kecintaan yang bukan datang dari pengetahuan adalah dusta.