Majalahayah.com, Jakarta – Membicarakan kebangkitan dan pembangunan masih menjadi prioritas utama dimasyarkaat. Lain halnya tentang anak, hampir semua orang mengabaikan peran aktif anak di negara. Hal tersebut disampaikan oleh inisiator Semua Murid Semua Guru, Najelaa Shihab dalam buku SMSG Jilid 2.

Selama ini, Najelaa tuturkan kepentingan anak sering dilupakan dan hanya menuntut anak untuk bekerja keras saat ujian agar meraih nilai sesuai standar yang sudah ditentukan. Tak hanya itu, dalam pola pengasuhan pun sudut pandang anak hanya menjadi korban kekerasan.

Atas hal tersebut, Najelaa tak heran jika Indonesia miskin akan sudut pandang dan pemberdayaan anak. Sebab menurut data, Indonesia selalu mengabaikan potensi 83,9 juta anak atau 33% dari populasi menurut survei penduduk 2015.

“Semestinya anak-anak tersebut bisa jadi bagian dari kebangkitan nasional,” tegas Najelaa dalam buku SMSG Jilid 2.

Belajar dari anak dan bekerja bersama anak menurut Najelaa lebih membahagiakan dibandingkan melakukan sesuatu untuk mereka [anak]. Hal ini terbukti bahwa anak usia 5 tahun di bangku taman kanak kanak sudah berusaha menjadi penentu kebehasilan kebijakan hemat energi dengan meatikan lampu dan mengkampanyekan ke rumah dan sekolah di wilayah yang sama.

Tak hanya itu, anak usia 15 tahun berhasil menganalisis kecemasan panganan hasil pertanian dan meningkatkan penjualan sekaligus pemasukan usaha kecil di masyarkat sekitar.

“Dunia ini penuh informasi, digitalisasi, dan globalisasi membuka banyak kesempatan menumbuhkan penggerak sejak usia dini. Syaratnya anak-anak didengarkan dengan penuh empati karena ia memiliki pemahaman berarti,” tukasnya. 

Anak yang penuh imajinasi dan tidak mudah berkompromi punya potensi berkontribusi untuk perubahan negeri. Kuncinya, anak-anak diberi ruang dan tantangan berkarya bukan hanya beban dan beasiswa sekolah.