Peta Wilayah Laut Cina Selatan, sumber: wikipedia.org

Majalahayah.com, Manila – Menteri luar negeri negara-negara ASEAN akhirnya sepakat untuk mengambil langkah demiliterisasi terkait sengketa Laut Cina Selatan. Pernyataan bersama itu berhasil mengatasi kebuntuan soal langkah yang akan dilakukan antara ASEAN dengan Cina.

Para menteri juga menyepakati untuk saling menahan diri. Komunike yang diluncurkan Minggu malam itu pun memuat seruan yang lebih tegas dibanding usulan awal.

Dilansir dari Antaranews.com, Senin (7/8/2017) para menteri juga menyuarakan keprihatinan terhadap reklamasi pulau buatan di wilayah yang sama. Menurut mereka, aktifitas itu mengikis rasa saling percaya, meningkatkan ketegangan, dan berpotensi mengancam perdamaian, keamanan dan stabilitas.

Para menteri-menteri ASEAN dan Cina juga sepakat untuk mengadopsi kerangka pedoman umum di Laut China Selatan. Mereka menyebut langkah itu sebagai kemajuan besar dalam penyelesaian sengketa.

Sebelumnya, Kesepakatan terancam gagal diraih pada Sabtu karena para menteri masih belum satu pandangan terkait militerisasi Cina di pulau-pulau buatan yang diuruk di atas perairan sengketa.

China sendiri selama ini sangat sensitif terhadap penyebutan tidak langsung oleh ASEAN terhadap tujuh pulau, yang tiga telah dibangun landasan terbang, deretan penembak rudal, radar, dan menurut sejumlah pakar, kemampuan untuk mendaratkan jet tempur.

Sementara isu Laut Cina Selatan sudah sejak lama menjadi persoalan yang memecah kesatuan ASEAN, terutama dengan pengaruh Cina. Beberapa negara seperti Kamboja khawatir akan balasan Beijing jika mengambil sikap keras terhadap masalah sengketa wilayah itu.