Museum Go, Cara Unik Kenalkan Museum ke Anak-anak

Museum Go, Cara Unik Kenalkan Museum ke Anak-anak

337
SHARE
Foto : Peserta kegiatan Museum Go. Sumber www.brilio.net

Majalahayah.com, Jakarta – Mengenalkan sejarah lewat museum pasti lebih melekat dalam ingatan anak-anak, karena itu kita perlu mengenalkan museum sejak dini kepada anak-anak. Namun kenyataannya, banyak sekali anak yang tidak tertarik dengan museum dan lebih memilih bermain game di rumah.

Menarik minat anak-anak untuk ke museum dengan cara yang menyenangkan tentu bukan perkara mudah. Tapi hal itu coba dilakukan oleh Nur Romdlon Maslahul Adi, kontestan 30 besar Pemilihan Duta Museum Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2016. ia membuat kegiatan yang bertemakan “Museum Go: Play at The Museum” di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No 21, Kotabaru, Yogyakarta yang diikuti oleh 27 anak dari Taman Pendidikan Alquran (TPA) Al Istiqomah, Ledok Tukangan, Danurejan, Yogyakarta.

Pengambilan tema “Museum Go: Play at The Museum” sendiri terinspirasi dari game Pokemon Go yang sedang digandrungi para gamers di dunia. Didampingi para ustadz/ustadzah, 27 anak ini tak hanya berkeliling untuk dikenalkan isi yang ada pada Museum Sandi. Mereka juga mengikuti game yang sudah diformat untuk mengenalkan sandi-sandi yang dulu digunakan untuk menyampaikan pesan saat Agresi Militer Belanda.

Baca juga :   Ini Tips Dude Herlino Agar Anak Mudah Menghafal Alquran 

Secara berkelompok, mereka diminta untuk mencari harta karun dengan kode-kode yang telah diberikan. Setiap pos yang akan dilewati mengandung sandi dan pesan untuk melanjutkan ke pos berikutnya.

Menurut Romdlon, ia mencoba menggabungkan pengenalan sandi ke anak-anak dengan materi yang ada di TPA. Sebagai contoh, setiap pos diberi nama dengan bagian dari Rukun Islam. Maka untuk bisa melanjutkan perjalanan, mereka harus hafal urutan Rukun Islam agar tidak salah pos. Selain itu, setiap pos nantinya akan ada kertas yang harus kumpulkan hingga pos terakhir.

“Puzzle ini diumpamakan Pokemon. Pada akhirnya mereka harus merangkai puzzle yang isinya adalah urutan cara wudhu. Tapi untuk mendapatkan puzzle itu, mereka harus memecahkan sandi-sandi yang ada,” ujar Romdlon dikutip dari Brilio.net

Anak-anak yang mengikuti game ini tampak sangat antusias. Karena berkompetisi dengan kelompok lain, mereka pun adu kecepatan untuk menyelesaikan sandi yang ada. Maka tak heran jika mereka harus berlarian untuk menuju ke pos lain.

Baca juga :   Anak Emosi? Pentingnya Orangtuanya Menjadi Tempat Curahan Hati si Kecil

Alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ini mengaku sengaja mengenalkan sandi kepada anak-anak agar saat mengunjungi museum, mereka hanya melihat dan mendapatkan keterangan tanpa mempraktikkan sandi yang ada. Karena sasarannya anak usia SD, Romdlon pun mengambil sandi-sandi yang mudah dipahami oleh mereka.

Menurut Romdlon, sudah seharusnya museum juga terbuka membuat inovasi-inovasi untuk menarik minat masyarakat untuk mengunjungi. Tentu inovasi itu dilakukan dengana melihat potensi yang ada pada setiap museum. Inovasi yang dibuat juga harus menyesuaikan dengan sasarannya agar bisa tersampaikan maksudnya.

Bagi Romdlon sendiri, museum mempunyai banyak manfaat bagi anak. Jika saat pelajaran Geografi, Sejarah, Biologi, dan pelajaran lainnya di kelas mereka hanya menangkap materi dari buku pelajaran, maka di museum anak-anak bisa langsung melihat secara visual sehingga memudahkan pemahaman.

Selain itu, mengunjungi museum bisa memancing daya imajinasi anak-anak dan mendorong rasa ingin tahu. Tentunya dengan mengunjungi museum, anak-anak bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar.