Gedung Pusat MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. Foto: ysf/majalahayah.com

Majalahayah.com, Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan Vaksin Measles (M) dan Rubella (R) belum mendapatkan sertifikat halal. Vaksin MR yang terdiri dari tiga komponen vaksin yaitu Mumps (Gondongan), Measles (Campak) dan Rubella, Sekertaris Jenderal MUI, Anwar Abbas sampaikan sudah seharusnya menjadi tugas MUI menjaga umat.

“Maka MUI meminta harus ada kejelasan dan kepastian kehalalan daripada vaksin ini karena harus ada kesepakatan untuk diteliti,” tuturnya (06/08/2018).

Jika melihat dari perspektif Islam, apapun yang dikonsumsi harus jelas halal dan haramnya. Naasnya, lanjut Abbas, saat ini informasi yang di terima vaksin MR belum halal.

“Oleh karena itu tinggalkan sesuatu yang meragukan engkau dan pindah kepada yang tidak meragukan. Kalau kita ragu vaksin ini tidak halal tinggalkan,” tambahnya.

Menyatakan bahwa pengajuan surat kepada Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI untuk diperiksa vaksin MR namun tidak pernah masuk, sehingga menurut Abbas bagaimana mau ditindaklanjuti?

“Terus terang ini keteledoran bagi saya bahkan ada pihak Kemenkes bilang vaksin ini halal. Sudah mendapat sertifikat halal dari MUI. Logika nya dimana? Bagaimana MUI bisa memberikan sertifikat halal sementara permohonan saja tidak ada,” tegas Abbas.

Menyampaikan bahwa MUI sudah meminta sesegara mungkin prosedurnya kepada Kementrian Kesehatan, namun Abbas keluhkan sampai saat ini belum juga ditempuh.

“Jangan mengelompok kan syari dan tidak. Itu memecah belah kalau bagi saya Kemenkes menunda sampai ada kejelasan. Mau nya dipercepat kan. Kalau maunya gitu ayo Kemenkes secepatnya dimasukkan ke MUI, supaya LPPOM juga secepatnya diperiksa. Kan MUI tidak menghambat,” imbuhnya.

Menuturkan MUI menunggu surat dari Kementrian Kesehatan dan biofarma, Abbas tegaskan Kemenkes tak mengerti ilmu manajemen.

“Masuk hari ini kita proses secepatnya. Tapi suratnya mana? Harusnya jauh-jauh hari kasih suratnya, ini udah dimasukan baru mau kasih. Gimana ceritanya gitu. Kayak tidak pakai ilmu manajemen aja. Sesuatu itu kan direncanakan. Ini sudah dilaksanakan baru direncanakan,” tukasnya.