Home Bola Mesut Ozil, Lahir dari Keluarga Tidak Mampu Hingga Rasisme

Mesut Ozil, Lahir dari Keluarga Tidak Mampu Hingga Rasisme

730

Majalahayah.com, Jakarta – Kesuksesan Mesut Ozil dalam sepakbola dilaluinya dengan berjuang sebagai seorang imigran yang menetap di negara Jerman.

Ozil diberi julukan oleh penduduk Jerman sebagai “multi-kulti kicker” karena menjadi pemain timnas pertama dari latar belakang seorang imigran yang membuatnya mendunia.

Perjalanan Ozil menuju tangga kesuksesan tidaklah mudah. Hidupnya semasa kecil tak secerah yang dipikirkan orang-orang.

Masa Kecil

Pemain yang lahir pada 15 Oktober 1988 ini lahir dari pasangan Musatafa Ozil dan Gulizar Ozil. Mesut Ozil berasal dari keluarga Muslim keturunan Turki. Namun, ia memiliki kebangsaan Jerman. Pada masa kecilnya, keluarga Ozil merupakan kalangan keluarga yang tak mampu. Untuk itu kedua orang tuanya memutuskan untuk migrasi ke Negeri Jerman. Namun nasibnya di Jerman juga tak jauh beda dengan saat mereka masih tinggal di Turki. Orang tua Ozil bekerja sebagai karyawan industri yang pendapatannya hanya cukup untuk makan saja.

Parahnya lagi, Jerman juga memberikan batas antara penduduk asli dan kaum imigran. Terjadi pemisahan yang cukup besar kala itu. Pemukiman imigran ditandai dengan berbagai blok yang mengindikasikan kemiskinan. Melihat hal itu, Ozil tak tinggal diam. Ia ingin mengangkat derajat keluarganya. Dan melalui sepakbola lah, Ozil ingin meraih kesuksesan.

mengembangkan ketrampilan sepakbolanya bersama teman-teman di sekolah. Klub sepakbola mereka bernama Soccer Monkey Cage. Dinamakan Soccer Monkey Cage karena lapangan ia bermain dikelilingi oleh pagar yang merupakan batas antara penduduk asli dan kaum imigran.

Sampai suatu hari ketika ia memasuki masa remaja, Kepala Sekolah Ozil menyebut bahwa ia sangat menggilai sepakbola seperti seorang autis, ke tempat tidurpun Ozil selalu ditemani oleh bola kesayangannya. Dibalik semua itu, banyak orang yang menyukai kemampuannya dalam bermain sepakbola. Saat sedang berada dikelas Ozil juga sering mengintip Stadion Schalke dari dalam jendela, ia bermimpi untuk bisa bermain disitu.

Selain dikenal sebagai remaja yang gemar bermain bola disekolahnya dulu, Ozil juga memiliki bakat dalam bermain catur. Ia bahkan masuk dalam tim catur sekolah. Kemampuan otaknya dalam bermain catur ia terapkan saat sedang bermain di lapangan hijau. Oleh sebab itu, Ozil kerap dijuluki sebagai pemain sepakbola yang cerdas. Umpan matang dan akurasi yang tepat menjadi skill andalan Ozil untuk mengolah si klit bundar.

Awal Karir

penampilan mengesankan nya membuat Ozil dilirik oleh banyak pihak. Tepat pada tahun 2005, dirinya bergabung dengan tim impian masa kecil nya yaitu Schalke. Ozil bermain selama semusim untuk Schalke sebelum akhirnya dipromosikan ke tim senior pada tahun 2006.

Kecerdasan nya dalam mengolah si kulit bundar membuat Raksasa Spanyol Real Madrid kepincut, pada tahun 2010 ia resmi bergabung dengan Los Blancos hingga akhirnya menjadi salah satu pemain terbaik dunia.

Karir Bersama Timnas Jerman dan Perlakuan Deskriminatif

Di lain sisi karir Bersama timnas jerman juga terbilang gemilang. Ozil memperkuat timanas Jerman pada gelaran piala dunia 2010 di Afrika Selatan, namun puncak keemasannya diraih 4 tahun kemudian tepatnya pada piala dunia 2014 di Brazil, Ozil dan kawan-kawan sukses membawa pulang trophy piala dunia ke tanah Jerman.

Di piala dunia 2018 di Rusia, timnas Jerman justru mengalami penurunan drastis karena Ozil dan kawan-kawan tidak lolos fase grup dan ini juga berimbas ke pada karir Ozil di timnas Jerman.

Pemain itu juga menilai dirinya mendapat perlakukan tak adil dan bersifat rasis serta diskriminatif ketika bertemu dengan Prisiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, di London, Inggris, Mei 2018. Mesut Ozil mengumumkan pengunduran dirinya dari tim nasional Jerman pada Minggu, 22 Juli 2018..

“Buat saya, berfoto bersama Presiden Erdogan adalah bukan soal politik atau pemilihan umum. Itu adalah soal sikap saya untuk menghormati pemimpin tertinggi pemerintah di negara asal keluarga saya,” tulis Ozil di Twitter.

“Pekerjaan saya adalah pemain sepak bola dan bukan seorang politikus. Perlakukan yang saya terima dari DFB dan banyak pihak lainnya membuat saya tidak ingin lebih lama mengenakan kostum pemain tim nasional Jerman,” Ozil melanjutkan.

“Saya merasa tidak dikehendaki dan berpikir apa yang saya raih sejak melakukan debut di tim nasional Jerman pada 2009 telah dilupakan,” kata Ozil.

Menyinggung langsung tentang Reinhard Grindel, presiden DFB, Ozil menulis, “Orang yang punya latar belakang diskriminasi seharusnya tidak diperbolehkan bekerja di sebuah federasi sepak bola terbesar di dunia, yang para pemainnya memiliki keturunan keluarga ganda. Sikap seperti mereka tidak mencerminkan pemain yang seharusnya mereka wakili.”

“Di mata Grindel dan para pendukungnya, saya orang Jerman ketika kami menang. Tapi, saya orang imigran ketika kami kalah,” Ozil menegaskan dalam pernyataannya di Twitter sebanyak tiga lembar itu.  

Kisah Cinta

Karir cemerlang Ozil di lapangan hijau berbanding terbalik dengan perjalanan cintanya. Ia berkali-kali berganti pasangan. Sempat menjalin hubungan dengan seorang wanita namun putus ditengah jalan karna wanita itu tak mau diajak Ozil untuk masuk Islam.

Model Jerman hingga Miss Venezuela pernah menjadi bagian kisah perjalanan cinta Ozil sebelum akhirnya ia menemukan seorang wanita bernama Mandy Capristo. Meski sempat putus, keduanya memutuskan untuk menyambung kembali tali cintanya dulu. Ozil dan Mandy sadar bahwa keduanya saling membutuhkan.

Namun cerita cinta nya bersama Mandy Capristo juga tak berjalan mulus. Kekasih Mesut Ozil itu diduga menjadi pemicu pemecatan sang ayah sebagai agen nya. Hingga akhirnya Ozil menunjuk sang kakak untuk menjadi agen nya. Kabarnya sang ayah masih tidak terima dengan pemecatan itu. Akibatnya kedua orang tua Ozil memutuskan untuk berpisah.

Ketaatan Beragama

Meski sekarang hidup tanpa bimbingan sang ayah, Ozil tetap menjadi seorang Muslim yang baik. Ia kerab kali membaca Al Qur’an sebelum pertandingan dimulai,

“Saya selalu membaca Al-Qur’an sebelum memasuki lapangan. Hal itu membantu saya untuk tetap fokus. Saya selalu berdoa, dan teman-teman saya juga memahami bahwa mereka tidak bisa menggangu saat saya masih membaca Al-Qur’an.” Dikutip dari Lucubux.com

Kepribadiannya sebagai seorang Muslim sejati juga ia tunjukkan kala berada diluar lapangan. Ozil sering melakukan kegiatan amal. Pada tahun 2016, Dirinya mengunjungi kamp pengungsian di Yordania.

Dia merawat anak-anak yang mengungsi akibat perang Suriah yang sedang terjadi. Selain uang, Ozil juga membagikan kaos bola kepada anak-anak yang sedang berada dalam musibah.

Kepribadian, kemampuan, serta ketaatan yang baik membuat Ozil sukses dalam menjalani karir sepakbola nya. Sepanjang karir nya, Gelandang The Gunners ini sudah meraih berbagai gelar bergengsi seperti Piala Dunia bersama Jerman, Trofi La Liga bersama Real Madrid, FA Cup bersama Arsenal, serta masih banyak trofi berkelas lainnya yang menandai kesuksesan Ozil sebagai pemain sepakbola.

Berikut Prestasi yang diraih selama karir:

Klub

Schalke 04

Bundesliga Juara kedua: 2006–07

DFB-Ligapokal Juara kedua: 2007

Werder Bremen

DFB-Pokal; 2008–09; Juara kedua: 2009–10

Piala UEFA Juara kedua: 2008–09

Real Madrid

La Liga: 2011–12: Juara kedua: 2010–11, 2012–13

Copa del Rey: 2010–11; Juara kedua: 2012–13

Supercopa de España: 2012; Juara kedua: 2011

Arsenal

Piala FA: 2014,2015,2017

Community Shield: 2014, 2015,2017

Negara

Jerman U-21

Kejuaraan Sepak Bola U-21 Eropa UEFA: 2009

Templat:Tim Nasional Jerman

Piala Dunia 2014 Berhasil Membawa Jerman Juara Piala Dunia untuk ke-4 kalinya usai mengalahkan Argentina 1-0.

Individual

Final Kejuaraan Sepak Bola U-21 Eropa UEFA 2009 – Man of the Match.

Piala Dunia FIFA 2010 Sebagian assist (3, bersama dengan Thomas Müller, Bastian Schweinsteiger, Kaká, dan Dirk Kuyt)

Piala Eropa 2012 Man of the Match: Jerman vs Portugal, Jerman vs Yunani

Tim Terbaik Piala Eropa 2012: 2012

UEFA Team of the Year: 2012