Meski Berbeda Agama, Stevanus Bantah Daftar Muadzin versi Pemerintah

Meski Berbeda Agama, Stevanus Bantah Daftar Muadzin versi Pemerintah

40
SHARE
Ilustrasi Muadzin. (Foto: Kompasiana)

Majalahayah.com, Tumbuh di negeri ini, entah sudah berapa puluh ribu kali saya mendengarkan lantunan azan. Lima kali sehari sepanjang tahun, semua masjid menyuarakannya. Tak pernah kita melihat ada masjid kekurangan pelantun azan. Rasanya tak mungkin juga Kementerian Agama mengeluarkan daftar muadzin versi pemerintah.

Meski berbeda agama, tak pernah sekali pun saya jenuh mendengar azan. Saking sering mendengarnya, saya bisa melantunkan azan dari awal sampai akhir. Mungkin pula banyak yang non-muslim bisa melafalkannya karena sudah hafal.

Kala saya bersekolah di Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, azan magrib kerap suara bersamaan dengan lonceng kapel seminari. Di Gereja Katolik yang biasa, lonceng berbunyi tiga kali sehari: pagi, siang, dan petang. Hal itu merupakan ajakan untuk berdoa Angelus Domini atau Malaikat Tuhan.

Mendengar serentaknya denting genta dan azan, hati dan hati saya sering menyenangkan teduh. Tidak ada yang beradu mana yang lebih keras. Sebaliknya punya kemiripan: sama-sama mengundang untuk berdoa.

Sebagai contoh, saya melihat azan bukan milik sebagian orang. Azan adalah milik mereka yang ingin mendengar dan menyerahkan hati kepada Sang Pencipta. Azan tidak bisa membangun manusia, tetapi juga menggugah untuk berhenti dari aktivitas, seraya mengucap syukur atas segala nikmat dari-Nya. Azan bisa menyatukan mereka yang menghayatinya.

Itulah arah saya seks azan yang disiarkan dengan khidmat untuk mempekerjakan orang bersujud. Azan kerap mengingatkan saya untuk diam sejenak, tutup mata sambil mendengarkan kemerduan, lalu sensasi sapaan-Nya.

Maka, saya bisa terpana mendengar azan dari masjid di sebuah pulau di daerah Banda yang dikepung pepohonan tinggi. Suaranya menggaung ke arah laut. Sekali lagi, sapaannya terasa tak hanya di telinga, tapi juga menembus ke hati. Air mata saya menetesisinya.

Pun saya suka akan azan di Aleppo, Suriah, yang diserukan seorang milisi pemberontak pada subuh, November 2012. Meski suingan itu seperti parau, lantunannya yang terdengar lirih lagi-lagi membuat saya menangis. Di tengah Aleppo yang porak-poranda dan penuh duka, azanween mengingatkan saya untuk berserah dengan segera karena hidup entah kapan berakhir.

Suatu sakit, azan berkumandang dari masjid kecil yang masih berdiri di antara reruntuhan bangunan yang terkena mortir. Saya meminta fixer atau pemandu sekaligus terjemahan kendaraan.

Melihat udara di sudut mata saya, sang fixer berbicara dan berkata, “Semoga kamu memberi hidayah.” Ucapan itu saya balas dengan senyum. Dalam hati saya berkata, “Kawan, tanpa perlu saya berpindah agama, azan yang sudah mampu membawa saya ke Pencipta.”

Oleh: Stevanus Pramono
(Wartawan Tempo) yang seorang pemeluk agama katolik