qurban
qurban

Majalahayah.com – Idul Qurban, hari dimana menjadi tolok ukur atas keimanan seseorang kepada Tuhannya. Mengorbankan sesuatu yang paling dicintai dan memilih mengikuti petunjuk Tuhannya. Nabi Ibrahim A.S memilih untuk menyembelih anak kesayangannya ketimbang mengabaikan perintah Tuhannya yang didapat melalui mimpi.

Percakapan antara ayah dan anak itu diabadikan dalam Alquran, QS. Ash-Shaaffaat: 99-111:

“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Demikian indahnya percakapan diantara kedua orang beriman tersebut. Sang ayah mengharap ridho Tuhannya dengan mengikuti perintah-Nya karena takut akan azhab-Nya, sementara sang anak demikian taat kepada Tuhannya dan ingin membaktikan diri kepada orang tuanya yang beriman tersebut.

Pisau telah tertempel dileher dan proses penyembelihanpun sudah mulai dilakukan. Nabi Ibrahim telah membenarkan mimpinya dan sang anakpun telah menunjukkan bukti atas bakti kepada orang tuanya yang menjalan perintah Tuhannya.

Keimanan kedua makluk Allah SWT tersebut sudah terbukti! Dan kemudian atas mukjizat-Nya, digantilah sang anak tersebut dengan seekor domba. Sungguh Allah SWT benar-benar menguji keimanan hamba-hamba-Nya.

Jika kita olah percakapan mereka dan merekonstruksikan kejadian tersebut kedalam kehidupan kita, sungguh mustahil airmata ini tidak akan bercucuran. Dengan mencoba berempati terhadap pemikiran dan perasaan atas upaya Nabi Ibrahim memilih mengikuti perintah Tuhannya dengan menyembelih anak kesayangannya, rasa-rasanya jika itu terjadi pada diri kita, mustahil dapat kita lakukan.

Namun itulah ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim A.S, dan dengan berkaca pada kejadian tersebut, lalu dimana ujian kita para ayah masa kini? Apakah dengan membeli seekor domba seharga empat juta rupiah, ataupun seekor sapi seharga dua puluh juta rupiah telah menunjukkan bukti keimanan kita kepada Allah SWT? Bukti ketundukkan kita kepada perintah-Nya? Bukti bahwa kita mengikuti petunjuk-Nya?

Butuh kejujuran kepada diri kita sendiri untuk menjawab pertanyaan diatas. Bagaimana kita bisa membuktikan keimanan? Jika arti beriman tersebut masih belum utuh kita pahami. Bagaimana kita mau membuktikan bahwa kita tunduk pada perintah-Nya? jika perintah-perintah-Nya pun belum kita pahami. Bagaimana pula kita mau mengikuti petunjuk-Nya? jika petunjuk-petunjuk-Nya pun nyaris tidak pernah menjadi fokus perhatian kita.

Semoga Allah SWT memudahkan kita semua untuk memahami makna hakiki atas hari raya Idul Qurban ini, aamiin. (/tss)