Ilustrasi generasi tangguh dan amanah. Sumber gomuslim.co.id

Majalahayah.com – Dalam membangun suatu peradaban tidak lepas dari unsur-unsur sumber daya manusia pilihan dan sumber daya alam yang terkelola dengan baik serta amanah. Tentunya agar terbentuk Bangunan kokoh perlu direncanakan dan disiapkan dengan berbagai sarana pendidikan maupun tempaan.

Hal ini penting karena diharapkan kelak melahirkan insan terbaik yang dipilih untuk memimpin segala sumber daya melimpah karunia dari Allah SWT. Sebagaimana yang pernah dikisahkan firman Allah SWT yang termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 247 :

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ(247)

Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Ṭālut sebagai raja agar kalian pergi berperang di bawah komandonya.” Lalu para pembesar mereka menolak dan menentang pengangkatan raja tersebut dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin dia menjadi raja kami, sedangkan kami lebih berhak menjadi raja daripada dia, karena dia bukan keturunan raja dan tidak dikaruniai kekayaan yang berlimpah untuk menopang kerajaannya?” Nabi mereka menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk menjadi raja kalian. Allah memberinya kelebihan atas kalian berupa ilmu pengetahuan yang luas dan tubuh yang kuat. Dan Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki berdasarkan kebijaksanaan dan kasih sayang-Nya. Allah Mahaluas anugerah-Nya, Dia memberi siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dia Maha Mengetahui siapa saja di antara makhluk-Nya yang berhak menerima anugerah-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 247)

Ayat yang baru saja kita dengarkan tadi merupakan perkataan dari Nabinya bani Israil sesudah wafatnya Nabi Musa AS. Prof. DR. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah jilid pertama menjelaskan bahwasanya Nabi tersebut telah menunjuk seorang pemimpin diantara mereka yang bernama Thalut, seseorang yang terkumpul didalam dirinya semua kriteria seorang pemimpin, akan tetapi mereka (bani Isaril) menolak keputusan Nabi tersebut dengan alasan ” kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripada dia. Hal ini karena Thalut bukan keturunan bangsawan, sedang para pemuka masyarakat itu adalah bangsawan yang secara turun-temurun memerintah. Di sisi lain diapun tidak diberi kelapangan dalam harta”.

Lalu sifat-sifat apakah yang tertera di dalam dirinya?

Dijelaskan kembali oleh Prof. DR. Quraish Shihab bahwa seseorang menjadi hebat bukan karena keturunan akan tetapi atas dasar pengetahuan dan kesehatan jasmani, bahkan disini diisyaratkan bahwa kekuasaan yang direstui oleh Allah adalah yang bersumber dari Allah, dalam artian, adanya hubungan yang baik antara penguasa dan Allah. Inilah sifat-sifat yang harus ada pada diri seorang generasi Islam pada saat ini.

Akan tetapi jika kita perhatikan fenomena-fenomena yang terjadi di negara kita ini. Para generasi muda tulang punggung harapan bangsa lebih memilih berada di diskotik-diskotik, bar-bar, club-club malam, bioskop-bioskop daripada mereka berada di masjid-masjid, musholla-musholla, surau-surau untuk menimba ilmu-ilmu agama dalam suatu majlis ta’lim. Sekarang kita sering menyaksikan anak muda di setiap sudut-sudut jalan dengan berpasang-pasangan menontonkan suatu pemandangan yang seakan-akan mereka tidak mengenal lagi batasan dan norma-norma yang ada. Dan yang lebih parah lagi, para generasi muda sekarang banyak yang sudah terjerumus ke dalam lembah “Narkoba” yang nyata-nyata dapat merusak jiwa mereka, fisik maupun mental.

Bukankah semua deskripsi itu menunjukkan bahwa kondisi generasi saat ini berada dalam kondisi yang lemah dan akan semakin lemah jikalau situasi dan kondisi itu dibiarkan begitu saja, tanpa adanya antisipasi dari segenap pihak yang bertanggung jawab untuk merubah keadaan itu. Karena secara fitroh, setiap orang tua tidak ingin memiliki anak yang lemah, dan bukanlah generasi yang lemah dan loyo yang dinanti-nanti oleh bangsa Indonesia. Akan tetapi, para orang tua menginginkan anak yang tangguh dan bangsa inipun mengidam-idamkan generasi yang tangguh dan amanah, yang dapat meneruskan tongkat estafet perjuangan dalam mengisi pembangunan tanah air tercinta ini. Sebagaimana Al-Qur’an pun mengisahkan seorang sosok pemuda yang tangguh dan amanah yang didam-idamkan oleh putri nabi Syu’aib a.s. Dalam surat Al-Qoshosh ayat 26 Allah berfirman :

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَاأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ {القصص:26}

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata : “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Q.S. Al-Qoshosh : 26)

Ayat yang baru saja dikumandangkan tadi mengandung sebuah kisah tentang seorang sosok pemuda yang tangguh dan dapat dipercaya. Menurut hikayatnya salah seorang putri nabi Syu’aib menyarankan kepada ayahnya untuk dapat menjadikan pemuda tersebut bekerja kepada nabi Syu’aib. Dan sosok pemuda itu tidak lain adalah nabi Musa a.s.

Kalau kita mau memperhatikan lebih dalam kisah yang terdapat dalam ayat tersebut, maka kita dapat mengambil beberapa i’tibar yang terkandung di dalamnya :

1. Dalam hal menyerahkan pekerjaan.

Suatu pekerjaan tidak dapat kita serahkan kepada seseorang yang kita belum tahu kredibilitasnya, capabilitasnya, kemampuannya, apakah ia mampu menyelesaikan suatu pekerjaan dengan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena Rasulullah SAW telah memperingatkan :

إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة {الحديث}

“Apabila suatu pekerjaan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah tanggal kehancurannya”.

2. Dalam rangka memilih kriteria sosok yang ideal dalam suatu pekerjaan

Dalam memilih kriteria sosok ideal dalam suatu pekerjaan seperti apa yang telah disuarakan oleh putri nabi Syu’aib A.s., yaitu “Al-Qowiyyul Amin” yang kuat (tangguh) lagi dapat dipercaya. Sosok yang tangguh mampu menjadikan dunia ini berada digenggaman tangannya. Sosok yang amanah adalah sosok yang dapat dipercaya sehingga tidak akan menimbulkan kecurigaan daripihak manapun. Dan tipe seperti inilah yang dinanti-nantikan oleh bangsa kita sebagai kontribusi memperbaiki kepemimpinan dalam mengisi pembangunan di tanah air tercinta ini.

Para pemuda sekarang adalah generasi yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang. شبان اليوم رجال الغد begitulah pepatah Arab mengatakan. Dan orang Inggris pun bilang “Youth is the hope for tomorrow”pemuda adalah harapan masa datang. Sehingga, kalau bangsa Indonesia sudah memmiliki generasi yang “Al-Qowiyyu Al-Amin”, Insya Allah kondisi negara ini pada masa mendatang tidak akan seironis seperti sekarang ini.

Yang kalau kita katakan, bukankah negara kita ini negara yang termasyhur dengan kesuburan dan kemakmuran ? Tetapi mengapa dengan kesuburan dan kemakmuran yang dimiliki, justru bangsa Indonesia memiliki banyak hutang dengan negara-negara tetangga dan adijaya. Apalah arti sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, jikalau rakyat Indonesia masih ada yang belum merasakan keadilan ? Semua ini terjadi karena orang-orang yang mengemban amanah kepemimpinan, yang mengatur jalannya sendi-sendi pembangunan tidak memiliki kriteria yang terdapat pada sosok nabi Musa a.s. Sosok yang tangguh, yang berani mengatakan yang haq itu adalah haq, dan yang bathil itu adalah bathil. Serta Amanah atau dapat dipercaya, yang tidak mau mengambil sesuatu yang bukan haknya, menyampaikan apa yang harus disampaikan, serta memberikan apapun yang harus diberikan kepada orang yang berhak.

Sekarang sudahlah nyata di hadapan kita semua bahwa generasi yang tangguh serta amanah adalah “the dream generation” yang diidam-idamkan oleh bangsa kita. Oleh karena itu, langkah apakah yang harus kita lakukan dalam rangka membangun generasi yang tangguh serta amanah? Dan siapakah yang berperan di dalamnya?

1. Para orang tua, para guru, para pendidik, hendaknya memberikan bekal ilmu dan akhlaq yang cukup bagi anak-anak calon generasi penerus bangsa. Karena dengan ilmu dan akhlaq yang dimiliki, mereka akan menjadi generasi yang “Qowiyyu” yang tangguh bukan generasi yang “Dhi’afan” atau generasi yang lemah. Karena menurut sebagian pakar tafsir bahwa makna kata “dhi’afan” yang terdapat pada surat An-Nisaa’ ayat 9 adalah “Al-Yatim”. Dan ada suatu ungkapan yang menyatakan :

لَيْسَ الْيَتِيْمُ مَنْ مَاتَ وَالِدُهْ وَلَكِنَّ الْيَتِيْمَ يَتِيْمُ اْلعِلْمِ وَاْلأَدَبِ

“Bukanlah seorang yatim itu orang yang ditinggal mati orangtuanya, melainkan seorang yang yatim adalah yatim ilmu dan adab”.

Ini berarti, apabila para generasi muda sudah cukup dengan bekal ilmu dan adab yang dimiliki, mereka tidak akan menjadi generasi yang lemah melainkan akan menjadi generasi yang tangguh serta amanah.

2. Para pemuda-pemuda itu sendiri sebagai generasi harapan bangsa.

Bahwa I’tikad yang baik dari para generasi untuk mau dididik dan dibina adalah suatu cikal bakal keberhasilan untuk mewujudkan generasi yang tangguh dan amanah. Karena apalah arti guru tanpa adanya murid. Dan apalah yang dapat dikerjakan seorang murid tanpa adanya instruksi dan bimbingan dari guru. Oleh karena itu, saling take and give akan membuahkan hasil yang berarti.

3. Seluruh rakyat Indonesia, dari seluruh lapisan masyarakat, فليتقواالله hendaknya bertaqwa kepada Allah, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, serta hendaknya berkata-kata yang baik dan benar.

Selanjutnya dengan persiapan dan ikhtiar yang berlandaskan azzam yang kokoh dan jernih, mudah-mudahan kita dapat membangun generasi yang tangguh dan amanah untuk dapat menopang semua rintangan maupun tantangan dalam mengisi pembangunan perbaikan bangsa kita ini. Sehingga negara kitapun akan menjadi negara yang subur dan makmur mendapat limpahan ampunan dari Allah SWT. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin.