Foto : Ilustrasi Google

Majalahayah.com, Jakarta – Keadaan stunting atau balita bertubuh pendek merupakan indikator masalah gizi dari keadaan yang berlangsung lama. Masalah ini mempengaruhi sekitar 162 juta balita di seluruh dunia, dan 8 juta balita di Indonesia (Riskedas 2013).

Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek mengunkapkan balita yang terkena stunting rentan terinfeksi tuberkulosis (TBC atau TB). Peran multi sektor atau multi aktor sangat diperlukan bagi upaya pencegahan terhadap stunting dan TBC.

“Faktor terkena risiko TBC adalah gangguan gizi yang dapat menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi,” katanya saat ditemui usai seminar Sinergitas Multi-Aktor dalam Pencegahan Stunting dan Eliminasi TBC di Hotel Manhattan, Jakarta Selatan, Kamis (22/11/2018), dilansir dari detikHealth.

Menurutnya status gizi sangat mempengaruhi terhadap penurunan daya tahan tubuh dalam menghadapi invasi kuman. Karenanya, stunting bisa berpengaruh pada kemampuan balita dalam melawan TBC.

“Hal ini membuat balita stunting lebih rentan tertular penyakit TBC dibandingkan dengan balita gizi normal,” ujarnya.

Untuk stunting, Nila memjelaskan memang masyarakat belum merasa bahwa stunting adalah masalah. Hal ini dikarenakan belum banyak yang mengetahui dampak dan anak tidak terlihat sakit.

“Konsekuensi jangka panjang dari stunting pada anak usia dini akan berpengaruh pada kelangsungan hidup, pertumbuhan linear, perkembangan kognitif, kemampuan belajar di sekolah, produktivitas dan berat badan lahir,” tukasnya.

Selain itu, Menkes menyampaikan upaya mengatasi faktor risiko yang diperlukan untuk mengatasinya dimulai dari kemiskinan perlindungan kesehatan khusus pada remaja putri, ibu dan anak, serta kesetaraan dalam keluarga.

“Perlindungan ini dalam arti penjaminan kecukupan gizi ibu hamil dan tumbuh kembang anak, praktik pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA) serta pencegahan dan pengobatan infeksi serta ketersediaan air bersih dan jamban keluarga,” katanya.