Menteri Kesehatan, Nila F Moloek (Dok : Twitter Kemenkes)

Majalahayah.com, Jakarta – Selama ini faktor pelayanan kesehatan dinilai sangat menentukan derajat kesehatan masyarakat. Nyatanya, Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyebut dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan bukan pelayanan kesehatan.

Hal tersebut Menkes ucapkan dalam Rapat Kerja Nasional Indonesai Bersih yang digelar oleh Kemenko Maritim dan Kementerian LHK, Kamis (21/2) di gedung Kementerian LHK, Jakarta Pusat.

Dalam acara tersebut hadir juga Menko PMK Puan Maharani, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, Mendagri Tjahyo Kumolo, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Kemenkeu Sri Mulyani, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Pernyataan yang diucapkan Menkes tersebut berdasarkan pada Teori H.L. Blum yang menunjukan bahwa derajat kesehatan ditentukan oleh 40% faktor lingkungan, 30% faktor perilaku, 20% faktor pelayanan kesehatan, dan 10% faktor genetika (keturunan).

“Faktor lingkungan yang dalam hal ini seperti menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi harus baik, menjadi faktor penentu tertinggi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat”, kata Menkes Nila dalam keterangan tertulisnya.

Namun yang terjadi di masyarakat saat ini, dalam meningkatkan derajat kesehatan justru lebih tinggi pada pelayanan kesehatan. Artinya banyak masyarakat yang dilakukan pengobatan atau kuratif di fasilitas kesehatan tapi kebersihan lingkungan kurang diperhatikan.

“Kalau betul-betul memperhatikan lingkungan, faktor pelayanan kesehatan hanya 20%,” jelas Menkes Nila.

Artinya bahwa peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui faktor lingkungan untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan.

Lingkungan ini, tambah Menkes Nila, tidak hanya soal sampah, tapi banyak lagi seperti unsur kimia, biologi, dan sosio budaya. Jika tidak melakukan pencegahan melalui lingkungan maka jumlah yang sakit akan lebih banyak.

Banyak perubahan-perubahan material yang terjadi di lingkungan dan dapat menyebabkan kanker. Misalnya dari pembakaran sampah plastik yang mengandung polyvinylchlorude (PVC) yang akan mengekuarkan zat berbahaya.

“Saat ini, 80 persen umumnya kuratif, yang untuk pencegahan 20 persen,” tutur Menkes Nila.

Menkes melanjutkan, semua hal bisa menyebabkan penyakit. Seperti yang terjadi baru-baru ini adalah soal DBD.

DBD tidak hanya soal nyamuk, tapi lingkungan yang harus diperhatikan oleh setiap individu. Banyaknya genangan air, di tanah, barang bakas, bahkan di sela pepohonan dapat menjadi sarang jentik nyamuk yang ketika dewasa dapat menyebabkan DBD.

Terkait hal itu, Menkes Nila menegaskan agar semua masyarakat dapat melakukan pencegahan mulai dari diri sendiri dengan memperhatikan lingkungan.

“Kami tidak bertanggungjawab atas masalah kesehatan yang terjadi di masing- masing rumah, tapi setiap orang di masing-masing rumah itulah yang harus bertanggungjawab atas kesehatan keluarganya,” tukas Nila.