Majalahayah.com, Jakarta – Hari Pendidikan Nasional atau yang biasa disebut Hardiknas sangat erat kaitannya dengan sosok Ki Hadjar Dewantara. Ia merupakan tokoh sentral pelopor pendidikan di Indonesia.

Dari sana pula pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hardiknas yang bertepatan dengan hari kelahirannya.

Berdasarkan website resmi bulelengkab.go.id Hardiknas ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959 pada Tanggal 28 November 1959.

Ki Hadjar Dewantara atau yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat merupakan keturunan keraton Yogyakarta.

Pada masanya Ki Hadjar Dewantara mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar ELS, dan melanjutkan ke sekolah Belanda yang bernama Stovia atau Sekolah Dokter Bumiputera. Sayangnya beliau tidak bisa melanjutkan sampai lulus lantaran sakit.

Ia pernah bekerja sebagai wartawan di beberapa tempat yaitu Midden Java, Sedyotomo, Oetoesan Hindia, De Express, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

Berdasarkan laman Wikipedia.org selain menjadi wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik.

Sejak berdirinya Boedi Oetomo kini Budi Utomo tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda dalam bidang sosialisasi dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Doiwes Dekker.

Sifatnya yang kritis dalam melihat kolonialisme Belanda membuat Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke Belanda sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan mendirikan sekolah Taman Siswa pada 3 Juli 1922.

Pada saat Kabinet pertama Republik Indonesia, ia diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan mendapat anugerah gelar Doktor kehormatan atau Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 1957.

Salah satu Filosofi dan hasil karya Beliau seperti kutipan kalimat “Tut Wuri Handayani” yang berarti di belakang memberikan dorongan. Makna kalimat inah dijadikan moto dan slogan pendidikan serta menjadi landasan dalam rangka memajukan pendidikan di Tanah Air.

Ki Hadjar Dewantara kemudian meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.