Majalahayah.com, Jakarta – Urusan kapan seseorang akan menemui ajalnya, adalah otoritas Allah SWT sepenuhnya. Tidak ada yang bisa mengetahui kapan seseorang akan meninggal dunia.

Demikian dalam hidup berumah tangga. Hanya saja menurut pengamatan empirik, kita bisa jumpai banyak kasus seorang suami meninggal mendahului istrinya. Tentu macam-macam, ada yang sakit, kecelakaan dan sebagainya.

Namun, menurut Direktur Aswaja Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin, ada juga penjelasan karena tekanan dari keluarga. Dia mengutip sebuah hadits dhaif berikut ini:

ﺣﺪﻳﺚ «ﻳﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺎﺱ ﺯﻣﺎﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻼﻙ اﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ ﻳﺪ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻭﺃﺑﻮﻳﻪ ﻭﻭﻟﺪﻩ ﻳﻌﻴﺮﻭﻧﻪ ﺑﺎﻟﻔﻘﺮ ﻭﻳﻜﻠﻔﻮﻧﻪ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻄﻴﻖ ﻓﻴﺪﺧﻞ اﻟﻤﺪاﺧﻞ اﻟﺘﻲ ﻳﺬﻫﺐ ﻓﻴﻬﺎ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﻴﻬﻠﻚ»

“Akan datang suatu masa, kematian seoang laki-laki berada di tangan istrinya, kedua orang tuanya dan anaknya. Mereka mencelanya dengan kemiskinan dan memaksanya bekerja di luar kemampuannya. Akhirnya ia masuki banyak pekerjaan dapat menghilangkan agamanya. (Karena tenaga terforsir) maka ia mati.”

ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﺨﻄﺎﺑﻲ ﻓﻲ اﻟﻌﺰﻟﺔ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻧﺤﻮﻩ ﻭﻟﻠﺒﻴﻬﻘﻲ ﻗﻲ اﻟﺰﻫﺪ ﻧﺤﻮﻩ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﻛﻼﻫﻤﺎ ﺿﻌﻴﻒ.

HR al-Khattabi dalam al-Uzlah dari hadits Ibnu Mas’ud. Dan al-Baihaqi dalam az-Zuhd dari hadits Abu Hurairah. Keduanya dhaif. (Takhrij Ahadits Ihya’, al-Hafidz al-Iraqi)