Mencermati Keberadaan Hak Berpendidikan Warga Negara

Mencermati Keberadaan Hak Berpendidikan Warga Negara

108
SHARE
Ilustrasi Hak Berpendidikan anak bangsa. Sumber www.gulalives.co

Majalahayah.com – Hal mendasar dalam segala aspek hidup adalah bermula dari pendidikan dan bagaimana cara manusia itu mendapatkan pendidikan. Pendidikan dalam bahasa Arab `tarbiyah, yakni usaha menumbuhkembangkan, dari kata raba (bertumbuh). Secara istilah adalah proses menumbuhkembangkan potensi (fitrah) manusia menuju kesempurnaannya baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah-Nya di muka bumi.

Manusia sebagai hamba Allah adalah manusia yang setia mengikuti segala perintah dan menjauhkan segala larangan-Nya; sementara manusia sebagai khalifah Allah adalah manusia yang memiliki kreativitas dan daya cipta untuk mengembangkan karya-karya Allah sesuai kebutuhan zamannya. Sebagai hamba Allah manusia melahirkan kebudayaan (culture); sebagai khalifah Allah manusia melahirkan peradaban (civilization). Perihal posisi manusia sebagai hamba Allah, al-Quran mengatakan:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariat 51 : 56)

Sementara perihal peranan manusia sebagai khalifah-Nya, al-Quran menegaskan:

  1. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
  2. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”
  3. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksan.” (QS. Al-Baqarah 2 : 30-33)

Dalam ayat lain juga dijelaskan :

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Al-Hud 11 : 61)

Maka pendidikan sebagai proses menumbuh-kembang-kan potensi manusia seutuhnya harus meliputi secara seimbang dua dimensi jati diri manusia sekaligus. Yakni, pengembangan potensi (kognitif, afektif, psikomotorik) manusia sebagai hamba Allah yang selalu setia menunaikan perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya; kedua pengembangan potensi (kognitif, afektif, dan psikomotorik) manusia sebagai khalifah-Nya untuk memakmurkan bumi dan alam semesta ciptaan-Nya.

Tema pendidikan untuk anak manusia sebagai hamba Allah adalah pengembangan potensi kognitif, afektif, dan motorik perihal mana yang baik dan yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram; mana yang terpuji dan mana yang tercela, demi berbakti kepada-Nya. Sementara pendidikan untuk anak manusia sebagai khalifah-Nya adalah pengembangan potensi kognitif, afektif, dan motorik mereka sebagai khalifah Allah untuk memelihara dan sekaligus mengolah karya dan ciptaan-Nya.

Baca juga :   Sri Bintang Pamungkas Minta Tito Karnavian Mundur

Disadari bahwa selama beberapa abad terakhir ini, umat Islam telah kehilangan keseimbangan pada pengembangan dirinya; pendidikan sebagai strategi pengembangan potensi insani terlalu fokus pada penguasaan ilmu normatif dalam rangka pemeliharaan kapasitas personalnya sebagai hamba Allah dengan kesalihan-kesalihan ritual-simboliknya; dengan menerlantarkan potensi sosial dan kehalifahannya untuk memakmurkan bumi-Nya. Pendidikan umat manusia, apa pun agamanya, seharusnya mampu menumbuh-kembangkan kedua potensi dan peranan manusia tadi secara optimal dan seimbang. Sikap yang berat sebelah ini tidak sesuai fitrah manusia dan idealismenya seperti terungkap dalam doa yang diajarkan oleh Allah SWT:

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah 2 : 201)

Juga tidak sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, riwayat Hudzaifah, sebagai berikut:

Bukan yang terbaik di antara kalian, orang yang meninggalkan dunia demi akhirat semata; juga bukan yang terbaik, orang yang mengabaikan kebahagiaan akhirat demi kebahagiaan dunianya semata. Yang terbaik di antara kalian adalah yang mengambil keduanya.” (HR Ibnu Asakir).

Sikap umat Islam selama berabad-abad yang berat sebelah tersebut merupakan akibat dari konsep keilmuan yang mendikotomikan apa yang disebut dengan “ilmu agama” di satu pihak dengan apa yang disebut ilmu dunia di lain pihak. Kini saatnya dikotomi itu diakhiri, dikotomi yang telah menyebabkan umat Islam kehilangan peran ke-khalifah-an Tuhan di muka bumi. Semua ilmu baik adanya; semuanya sinergis dengan ayat-ayat Allah SWT; ilmu dunia bersumber dari ayat-ayat Allah di alam semesta (ayat kauniyah), dan apa yang disebut ilmu agama bersumber dari ayat-ayat Allah di dalam sabda (ayat qawliyah). Demikian pula amal perbuatan dan kreativitas manusia yang berasal dari kedua ilmu tersebut, sama-sama mulia. Perbedaan nilai tindakan (amal) antara yang shaleh (baik di mata Tuhan) dan yang thaleh (buruk di mata-Nya) bukan pada asal usul dan bentuknya, melainkan pada niatnya:

Sesungguhnya (nilai) segala perbuatan itu ditentukan oleh niat (motivasi)-nya; dan sungguh bagi setiap orang apa yang diniatkannya; barangsiapa yang (niat) hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya; barangsiapa yang (niat) hijrahnya untuk mencari dunia atau perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkannya itu.” (HR. Buhkari Muslim).

Dalam kitab Ta’lim Muta’allim karya Syekh Zarnuji, dikutip sebuah makalah sebagai berikut:

Begitu banyak amal perbuatan yang bercorak duniawi kemudian menjadi amal ukhrawi karena niat baik (karena Allah); dan sebaliknya banyak amal perbuatan yang bercorak ukhrawi tapi berubah menjadi duniawi karena niatnya yang buruk (bukan karena Allah).”

Memang, dengan akal budi dan suara nurani dalam hati, kita manusia bisa mengetahui mana yang baik mana yang buruk, apa yang terpuji dan apa yang tercela, apa yang mulia dan apa yang hina. Sebagaimana Al-Quran mengakui hal ini:

Baca juga :   Salurkan KIP Secara Langsung Ke Sekolah, Kemendikbud Sudah Minta Ijin Presiden Jokowi

Demi jiwa dan yang menyempurnakannya; kemudian memberitahukan kepadanya mana yang tercela dan mana yang mulia.” (QS as-Syam [91]: 7-8).

Dengan membaca teks-teks agama yang diwahyukan, maka pengetahuan kita perihal mana yang haq (benar), mana yang bathil (palsu), mana yang mulya dan mana yang tercela terkait dengan keyakinan dan keluhuran budi yang menjadi lebih mantap. Namun, sekali lagi sekadar tahu mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang, mana yang terpuji dan mana yang tercela, baik dari sumber suara nurani maupun teks-teks ayat-ayat suci itu belumlah cukup. Mengamalkan piwulang-piwulang luhur untuk mencapai kemuliaan hidup, itulah pokok soalnya. Perihal ini al-Quran mengingatkan kita dengan sangat lugas:

Wahai orang-orang beriman, kenapakah kalian mengatakan sesuatu (kebaikan) yang tidak kalian kerjakan? Besar sekali kemurkaan Allah apabila kalian sutra berkata-kata yang tidak kalian perbuat. (QS as-Shaf [61]: 2-3)

Maka, sekalian merujuk pada Pasal 31 ayat 5 UUD, pendidikan agama bisa dipilah menjadi dua kategori: Pertama Pendidikan agama yang bersifat formal-eksklusif, terkait dengan dogma keimanan dan keterampilan peribadatan (ritual) di mana tiap-tiap agama memiliki kekhususan rumus dan tata caranya sendiri. Termasuk di dalamnya tata kehidupan dan sistem kerumah-tanggaan atau keorganisasian intern masing-masing umat beragama. Pendidikan agama kategori ini pada dasarnya merupakan domain dan tanggung jawab masing-masing umat yang bersangkutan. Kedua, pendidikan agama yang bersifat substansial-inklusif terkait dengan konsep etika hidup bersama dan konsep kesemestaan yang bisa saling melengkapi antara warta kitab suci di satu pihak dan informasi ilmu pengetahuan (science) di lain lihak. Pendidikan agama kategori ini (etika kehidupan dan ilmu kesemestaan) merupakan tugas Pemerintah sebagai penanggung jawab kemaslahatan publik. Atau jika pemerintah punya pertimbangan untuk terlibat dalam bidang pendidikan keimanan kategori pertama di atas, maka sasarannya adalah untuk menumbuhkan sikap saling memahami dan saling menghormati di antara warga didik dengan anutan keimanan yang berbeda.

Sesungguhnya pendidikan bukanlah agenda pribadi orang seorang. Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia (human investment) yang berdampak luas kepada lingkungan social bahkan alamnya. Seorang yang terdidik dengan baik, akan membawa manfaat bukan hanya pada dirinya, tapi sekaligus bagi masyarakatnya. Oleh sebab itu,tidak fair jika pendidikan dipandang sebagai tanggungjawab individu per orang atau paling jauh pihak keluarga yang bersangkutan. Manakala keluarga dan komunitas sekitarnya tidak mampu menjamin pemenuhan hak-hak seorang anak manusia, maka Negara wajib turun tangan memenuhinya, termasuk hak berpendidikan, sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 31 UUD 1945.