Mencari Ilmu bagi Seorang Perempuan itu Wajib

Mencari Ilmu bagi Seorang Perempuan itu Wajib

218
SHARE
Ilustrasi perempuan menuntut ilmu. Sumber www.aboutislam.net

Majalahayah.com – Mencari ilmu (ta’lim) di dalam Islam itu merupakan hak bagi laki-laki dan perempuan, dan menjadi kewajiban orang tua pada anaknya (baik laki-laki maupun perempuan) untuk memenuhinya. Mencari ilmu atau belajar merupakan jalan untuk memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan membukakan wawasan baginya, untuk membedah keagungan ayat-ayat Tuhan yang terbentang di alam semesta.

Visi dari semua itu adalah menciptakan rasa takut dan taat kepada Allah SWT berfirman:

“…Sesungguhnya, yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(QS. Faathir [35]: 28).

Rasulullah SAW menyeru kepada umat beliau untuk menuntut ilmu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra., ia berkata, Rasulullah SAW Bersabda, “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Tirmidzi).

Dan Al-Qur’an mengajarkan kepada umat manusia supaya meminta kepada Allah SWT. akan tambahnya ilmu dan kemampuan untuk menggapainya. Allah SWT berfirman:

“…Dan, katakanlah, ‘Ya Tuhan-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaahaa [20]: 114).

“Dan, tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.” (QS. Faathir [35]: 19).

Al-Qur’an dan sunnah selalu menyeru untuk menuntut ilmu yang bermanfaat dan menghiasi diri seseorang dengan ilmu. Apabila ayat dan sunnah tersebut secara literal lebih menekankan kepada kaum laki-laki, maka itu hanya sebuah anggapan bahwa laki-laki dianggap lebih representatif atas perempuan. Pola-pola semacam ini sangat banyak tertulis di dalam al-Qur’an. Misalnya saja firman Allah SWT, berikut:

“Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 1-2).

“Dan, dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. an-Nuur [24]:56).

“Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 97).

Perintah yang ada dalam ayat tersebut pada hakikatnya mencakup laki-laki dan perempuan; mereka sama-sama diperintahkan untuk mencari ilmu. Namun, secara tekstual, ayat tersebut hanya menunjuk laki-laki, karena laki-laki dianggap lebih mewakili. Penjelasan ini juga disampaikan dan ditegaskan oleh Syekh Muhammad Al-Khudri.

Dan, sesungguhnya kaum perempuan yang masuk ke dalam berbagai persoalan dengan menggunakan sighat (bentuk) panggilan laki-laki bukan berarti menghalangi mereka untuk masuk ke dalam persoalan yang sedang dibahas. Keberadaan para perempuan di dalam teks itu, sudah cukup diwakili oleh kaum laki-laki. Sehingga, secara implisit kaum perempuan juga masuk dalam pembicaraan atau perintah.

Baca juga :   Anies Akan Fokus Incar Pemilih Perempuan Dalam Pilkada

Maka dari itu, perintah beribadah kepada Allah SWT dan perintah menjalankan shalat, mengeluarkan zakat, melaksanakan puasa, menunaikan haji, dan lain sebagainya, tidak hanya satu kali disebut di dalam Al-Qur’an dengan menggunakan sighat perempuan. Ini berarti, nash-nash tersebut menunjukkan adanya kewajiban bagi kaum perempuan sebagaimana kewajiban kaum laki-laki. Akan tetapi, jika ada indikasi atau tanda yang mengecualikan keterlibatan kaum

perempuan, maka secara implisit kaum perempuan tidak termasuk dalam perintah yang dimaksud. Di dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa. Dan, janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan, bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisaa’ [4]: 19).

Sesungguhnya, perempuan itu tidak mempunyai akses pertolongan, baik dari dirinya maupun dari orang lain. Oleh karena itu, perintah dalam ayat tersebut khusus untuk laki-laki dan bukan untuk perempuan. Begitu pula perintah yang menunjukkan tidak adanya kecakapan atau kemampuan bagi perempuan, misalnya dalam firman Allah SWT berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu. Dan, ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. at-Taubah [9]:123).

Sebagaimana perempuan masuk dalam generalisasi terhadap setiap perintah, maka terkadang ada lafazh dengan sighat perempuan namun  juga berlaku untuk laki-laki, seperti firman Allah SWT berikut:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi, yang ditertawakan itu lebih balk dari mereka. Dan, jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya. Boleh jadi, yang direndahkan itu lebih baik. Dan, janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka Itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).

Dan ayat tersebut, wajib memasukkan kategori perempuan di dalam sighat mudzakkar sepanjang tidak ada indikasi atau petunjuk yang mencegahnya untuk diikutsertakan. Maka, apabila ada seorang ibu telah mempelajari berbagai metodologi pendidikan yang benar, mempelajari hal-hal yang berkenaan dengan pelajaran agama dan kaidah-kaidah etika serta tata cara aplikasinya, juga mempelajari pengantar ilmu jiwa dan bagian-bagiannya, maka ia akan mampu membentuk karakter dan komunitas bagi anaknya. Ia juga akan mudah mengenalkan banyak hal yang berkaitan dengan eksistensi diri anak, menunjukkan, menasihati, serta menuntun anak kepada hal-hal yang mampu mengangkat derajat anak secara komprehensif. Ia juga mampu menularkan kemampuannya kepada anak untuk bisa tumbuh menjadi spirit kebersamaan yang terpancar di dalam diri anak tersebut.

Baca juga :   Gali Kreativitas Balita, Yayasan Pendidikan Muslimat NU Selenggarakan Lomba Mewarnai

Atas dasar itu, jelas berbeda kualitasnya antara seorang ibu yang memiliki pengetahuan dan pendidikan dengan ibu yang tidak memiliki pengetahuan dan pendidikan. Maka, Islam sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan agar kemampuan bisa diberdayagunakan secara optimal dalam menjalani kehidupan.

Untuk mencapai tahap itu, jelas dibutuhkan proses yang panjang, perlu adanya dorongan untuk selalu meningkatkan kualitas pendidikannya, dan siap atau senang nikah manakala kualitas ilmu dirinya sudah benar-benar mapan. Perempuan semacam itulah yang dijanjikan surga. Maka, apabila perintah meningkatkan pendidikan ini merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seluruh manusia, pada saat itu juga kaum perempuan ikut terlibat.

Rasulullah SAW bersabda:

Ada 3 golongan yang berhak mendapatkan pahala. Pertama, orang laki-laki dari ahli kitab yang beriman kepada nabi mereka dan kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua, budak yang selalu memenuhi hak-hak Allah dan hak tuannya. Ketiga, orang laki-laki yang mempunyai budak perempuan, ia perlakukan dengan sebaik-baiknya budak perempuan itu, ia didik dengan pola pendidikan yang sebaik-baiknya, kemudian ia nikahi budak tersebut.” (HR. Bukhari).

Maka, orang-orang muslim perempuan pada zaman Rasulullah SAW bersemangat untuk menuntut ilmu yang mampu memberikan pemahaman terhadap dirinya tentang persoalan-persoalan agama Mereka meminta Rasulullah SAW supaya meluangkan waktu beliau satu hari untuk mempelajari agama. Beliau pun mengabulkannya.

“Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudry Ra. ia berkata, Ada seorang wanita yang berkata kepada Rasulullah SAW. Kaum laki-laki telah mengalahkan kaum perempuan. Oleh karena itu, luangkanlah satu hari Anda untuk kami, ya Rasulullah.” Maka, Rasulullah SAW berjanji kepada wanita tersebut. Dan, pada hari yang dijanjikan, Rasulullah SAW datang menemuinya. Pada kesempatan itu, Rasulullah SAW menasihati dan memerintahkannya dengan berkata, “Tidak ada dari kalian seorang perempuan yang mengutamakan 3 hal dari anak laki-lakinya, kecuali terhalang dari api neraka.’ Maka, wanita itu bertanya, Bagaimana jika anak perempuan?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Begitu juga anak perempuan.” (HR. Bukhari).