Memutus Siklus Anak Nakal, Bagaimana Caranya?

Memutus Siklus Anak Nakal, Bagaimana Caranya?

273
SHARE
Ilustrasi tindakan orangtua pada anak yang dianggap nakal. Sumber www.t-online.de

Majalahayah.com – Seorang anak mempunyai dunianya sendiri, terlebih dalam cara merespon sesuatu yang tidak diinginkan. Terkadang respon berlebihan seorang anak dipandang orangtua atau pendidik melampaui batas kewajaran, sehingga muncul sebutan baru sebagai anak nakal.

Belajar dari penjelasan tulisan Dr. Agus Purwanto, DSc, Seorang ilmuan dan peneliti kelahiran Jember tahun 1964. Beliau menyelesaikan pendidikan S1 (1989) dan S2 (1993) di jurusan fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), S2 (1999) dan S3 (2002) di jurusan fisika Universitas Hiroshima Jepang.

Bagi para orang tua maupun guru/pengajar yang berprofesi sebagai pengganti orang tua di rumah. Silahkan simak, telaah dan pahami uraian logika siklus kenakalan anak dalam pembahasan kali ini.

Urutan logika siklus nakalnya anak dengan tidak bijaknya orang tua adalah sebagai berikut:
Karena anaknya nakal, maka orang tuanya murka.
Karena orang tuanya murka, maka Allah juga murka.
Karena Allah murka, maka tidak turun rahmat di rumah itu.
Karena tidak turun rahmat di rumah itu, maka keluarga itu akan banyak masalah.
Karena keluarga itu banyak masalah, maka anaknya tidak merasakan kebahagiaan dan tidak nyaman, sehingga akan makin nakal.

Gambaran siklus anak nakal : Anak nakal -> orangtua murka -> Allah murka -> keluarga tidak berkah -> keluarga banyak masalah -> tidak bahagia -> anak makin nakal.

Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.

Baca juga :   Sambut Hari Ibu, Setiap Pramuka Diminta Unggah Foto Ibunya di Medsos

Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal? Ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada Orangtuanya.

Sebagaimana dalam hadist, Dari Abdullah bin ’Amru radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (Hasan. at-Tirmidzi : 1899,  HR. al-Hakim : 7249, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir : 14368, al-Bazzar : 2394)

Prinsip inti siklusnya sebenarnya masih pada orang tua yaitu: 
– Ridho Allah berada pada ridhonya orang tua.
– Murka Allah berada pada murkanya orang tua.

Maka strategi paling efisien untuk memutus rangkaian siklus itu Insya Allah ada pada bagian awal, yakni mencegah orang tua murka. Bila orang tua segera menghadapi anaknya dengan kasih sayang dan tidak dengan kemurkaan, maka orang tua itu menunjukkan kepada Allah bahwa mereka berdua ridho kepada anaknya. Tentu bukan ridho terhadap kenakalannya melainkan ridho kepada diri anaknya.

Dengan memastikan ridho kepada anak, maka orang tua akan dapat melakukan 3 tahap ini:

  1. Segera memaafkan anaknya, tidak memarahinya sama sekali dan segera berusaha memahami situasi apa yang sedang dihadapi anaknya.
  2. Segera menemui berdialog dan turut mendiskusikan solusi terbaik apa yang harus diambil oleh anak orang tua atau pihak lainnya sambil terus mendoakannya.
  3. Segera melupakan segala kesalahan anaknya tadi dan tidak mengungkit-ungkitnya kembali.

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Bila kalian memaafkannya, menemuinya dan melupakan kesalahannya maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun [64]:14).

Baca juga :   Ketika Keberadaan Ayah Lebih Penting dari Siapa Pemenang Olimpiade

Dengan konversi murka menjadi ridho maka sekarang siklusnya jadi begini: 

Suatu hari anak itu nakal, Orang tua segera melakukan 3 tahap itu dengan penuh kasih sayang sebagai wujud keridhoan mereka kepada anaknya.
Karena orang tua anak itu ridho maka Allah meridhoinya.
Karena Allah meridhoinya maka rumah yang penuh ridho itu dirahmati Allah.
Karena rumah itu penuh rahmat Allah, maka keluarga itu penuh kasih sayang sehingga jadi makin bahagia.
Karena keluarga itu bahagia, maka anak tidak akan sempat lagi nakal dan menjadi baik, sebab setiap masalah hidupnya selalu segera mendapat solusi.

Gambaran Siklus Perbaikan sikap orangtua : Anak nakal -> orangtua Ridho ->Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik

Jadi, pada setiap kenakalan anak (mohon maaf) lokasi perbaikannya sesungguhnya bukan pada anak melainkan pada orang tua si anak.

Kemudian sebagai pengingat selanjutnya, kami menguncinya dengan pesan dari Umar bin Khattab:

“Jika kalian melihat anakmu/anak didik mu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu/anak didikmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya”. (Umar Bin Khattab)

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak belum tau.

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah kita sebagai orang tua yang tak sabar dan kurang ilmu.

Tak ada anak nakal, yang ada hanyalah pendidik yang terburu-buru melihat hasil.

Semoga bermanfaat