Majalahayah.com, Jakarta – Tak dipungkiri ada kalanya anak-anak melakukan kesalahan, tak bisa diatur atau mungkin berbohong dan merugikan orang lain. Sikap buruk anak adalah hal yang wajar, termasuk juga jika ia melakukan kesalahan.

Hal yang penting sebagai orangtua adalah kita selalu memberi tahu kalau setiap sikap negatif ada konsekuensinya. Memberi hukuman bisa dilakukan tapi jangan yang menyakiti, tapi memberinya pelajaran, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Dikutip dari BincangMuslimah, Drs. Moch. Ishom Achmadi di dalam bukunya Kaifa Nurabbi Abnaa’ana menjelaskan bahwa terdapat tujuh metode yang diajarkan Rasulullah saw. dalam memberi hukuman pada anak. Metode-metode tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menunjukkan kesalahan dengan pengarahan

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah r.a. ia berkata, “ Ketika aku kecil, berada dalam asuhan Rasulullah saw. Pada suatu hari ketika tanganku bergerak ke sana kemari di atas piring berisi makanan, berkatalah Rasulullah SAW “ Wahai anak, sebutlah nama Allah. Makanlah dengan tangan kananmu. Dan makanlah apa yang ada denganmu” .

Pada hadis tersebut, Rasulullah SAW memberi petunjuk kepada Umar bin Abi Salamah atas kesalahannya dengan nasehat yang baik, pengarahan yang membekas, ringan, dan jelas.

2. Menunjukkan kesalahan dengan ramah-tamah

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW diberi minuman, dan beliau minum sebagian. Di sebelah kanannya duduk seorang anak, dan di sebelah kirinya beberapa orangtua. Rasulullah SAW berkata kepada anak tersebut:

“Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi kepada mereka?” (ini adalah ramah tamah dan metode pengarahan). Maka anak itu menjawab, “Tidak, demi Allah, bagianku yang diberikan oleh engkau, tidak akan saya berikan kepada siapa pun”, lalu Rasulullah SAW meletakkan minuman di tangan anak itu, anak itu adalah Abdullah bin Abbas.

3. Menunjukkan kesalahan dengan memberi isyarat

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. “Al-Fadhal pernah mengikuti Rasulullah SAW Pada suatu hari datanglah seorang wanita dari Khuts’um yang membuat Al-Fadhal memandangnya, dan wanita itu pun memandangnya. Maka, Rasulullah SAW memalingkan muka Al-Fadhal ke arah lain”.

Pada hadis tersebut, Rasulullah saw. memalingkan wajah Al-Fadhal ke arah lain untuk tidak melihat wanita yang bukan mahramnya. Pelajaran ini meninggalkan bekas pada diri Al-Fadhal.

4. Menunjukkan kesalahan dengan kecaman

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Dzar r.a. ia berkata, “Saya mencaci seorang laki-laki dengan menjelekkan ibunya (yaitu dengan berkata), “Hai anak wanita hitam.”

Mendengar itu Rasulullah SAW berkata, “Wahai Abu Dzar, kamu telah mencacinya dengan menjelekkan ibunya. Sesungguhnya kamu orang yang masih berperilaku jahiliyyah. Saudara-saudaramu adalah hamba sahayamu yang Allah jadikan mereka di bawah tanganmu. Barang siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya, maka hendaknya ia memberinya pakaian dari apa yang ia pakai, janganlah mereka serahi pekerjaan yang sekiranya tidak mampu mereka kerjakan, dan jika diserahkan, pekerjaan itu, maka bantulah mereka.”

Rasulullah SAW pada hadis tersebut telah memperbaiki kesalahan Abu Dzar dengan kecaman ketika mencaci seseorang dengan menyebut kejelekan ibunya.