Home Uncategorized Mahkamah Konstitusi dan Rita Soebagio mengenai Kekerasan Seksual, HAM dan LGBT

Mahkamah Konstitusi dan Rita Soebagio mengenai Kekerasan Seksual, HAM dan LGBT

498
Azriana, Ketua Komnas Perempuan, dok : 07P
Azriana, Ketua Komnas Perempuan, dok : 07P

Majalahayah.com, Jakarta – Isu kekerasan seksual, HAM, dan LGBT memang menjadi salah satu perbincangan hangat masyarakat saat ini. Mahkamah Konstitusi pun sampai mengadakan persidangan Judicial Review dalam menanggapi hal ini karena menyangkut regulasi atau kebijakan yang mengatur problem ini.

Ketua Komnas Perempuan, Azriana di sela berakhirnya persidangan menuturkan bahwa ini salah satu kelemahan dari regulasi yang ada dalam melindungi perempuan dari kekerasan seksual. “Ketika perempuan menjadi korban eksploitasi seksual, dia tidak bisa dilindungi lagi oleh negara karena negara tidak mempunyai regulasi untuk melindungi nya”, jelas nya. ( 30/08 )

Sementara itu, Ketua Aliansi Cinta Keluarga ( AILA ) Rita Soebagio mengatakan, ketika berbicara untuk kepentingan bangsa dan negara semuanya memiliki legal standing yang sama di mata hukum.

“Ketika kami kemudian mengemukakan ini, itu artinya memang lahir dari sebuah ketulusan hati untuk menjaga bangsa ini. Kita lihat banyak pihak tertentu bicara menyuarakan sesuatu yang menjadi mainstream kepentingan berbagai negara di dunia”, terangnya kepada Majalahayah.com

Dirinya menambahkan tidak selalu apa yang disampaikan badan dunia dalam hal ini negara lain, menjadi acuan kebenaran kita. Menurutnya, ada nila-nilai yang harus kita jaga seperti nilai moral dan agama.

“Saya menghimbau berbagai pihak bekerja tulus untuk kepentingan bangsa ini tanpa harus menjadi bagian dari perpanjangan suara pihak lain. Selama persidangan semua sepakat bahwa problem yang ada tidak hanya hukum, tapi juga kendala dalam pendidikan” tambahnya.

Dalam menyikapi LGBT, ia menuturkan yang harus bekerja lebih keras adalah keluarga sebagai intitusi terkecil. Keluarga yang akan menjaga nilai-nilai moral itu. Dirinya berpesan untuk tetap pegang teguh nilai yang hidup dan telah menjadi bagian dari kearifan Indonesia, dimana nilai moral dan agama tetap dijaga.

Mengenai peran seorang ayah yang memudar saat ini, ia meng-amini bahwa memang kita telah kehilangan banyak sosok ayah yang seharusnya bertugas menjadi role model dari anak-anak kita.”Bisa jadi LGBT timbul karena pola asuh yang salah dalam berkeluarga”, tambah Rita.

( 07P )