Ilustrasi pengungsi dari wabah virus Corona.(Foto : Afp)

Majalahayah.com, Jakarta – Covid-19 atau corona yang sedang mewabah memaksa banyak negara melakukan lockdown atau menutup akses ke wilayah negara tersebut. Istilah lockdown karena wabah penyakit tersebut sebenarnya dijelaskan pula dalam hadist.

Sebuah broadcast yang berisi hadist atau perkataan nabi, tersebar di WhatsApp. Narasi daam broadcast tersebut menukil tiga hadist yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari & Muslim, HR. Bukhari dan Ahmad, dan HR. Bukhari.

Berikut broadcast di WhatsApp yang berisi hadist soal karantina.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ [يعني : الطاعون] بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه

روى البخاري (5739) ، ومسلم (2219)

1. Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya

(HR. Bukhari & Muslim)

عن عائشة أنَّهَا سَأَلَتْ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فأخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنَّه كانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ علَى مَن يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فليسَ مِن عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ في بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أنَّه لَنْ يُصِيبَهُ إلَّا ما كَتَبَ اللَّهُ له، إلَّا كانَ له مِثْلُ أجْرِ الشَّهِيدِ

التخريج : أخرجه البخاري (3474)، والنسائي في ((السنن الكبرى)) (7527)، وأحمد (26139)

2. Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin.

Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid

(HR. Bukhari dan Ahmad)

قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ لم يُنزِلْ داءً إلَّا وقد أنزَلَ معه دَواءً، جَهِلَه منكم مَن جَهِلَه، وعَلِمَه منكم مَن عَلِمَه.

التخريج : أخرجه النسائي في ((السنن الكبرى)) (6863) المرفوع منه أوله في أثناء حديث، وابن ماجه (3438) المرفوع منه مختصراً، وأحمد (4267) واللفظ له

3. Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya

(HR. Bukhari)

Dulu di era Nabi Muhammad wabah penyakit juga pernah menjangkiti Madinah, Arab Saudi.

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak berada dekat-dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan melarang orang yang berada di daerah itu untuk keluar wilayahnya.

Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Dalam buku Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam karya Abdus Salam Harun dijelaskan soal kisah para sahabat yang terjangkit wabah. Kisah itu salah satunya ditulis dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah.

“Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, kota itu adalah sarang wabah penyakit demam. Banyak dari sahabat Rasulullah SAW yang tertimpa wabah tersebut,” tulis hadist tersebut.

Kemudian hadist itu menceritakan soal tiga sahabat nabi yang terjangkit wabah, mereka adalah Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal, ketiganya tinggal di dalam satu rumah.

Ketiga sahabat nabi itu mengalami demam tinggi hingga tak sadar dengan apa yang mereka ucapkan. Usai mendengar cerita itu Nabi Muhammad langsung berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu. Berkahilah mud dan sha-nya (barang-barang yang ditimbang dengan mud dan sha. Satu mud sama dengan dua rithal bagi penduduk Irak. Dan sepertiga rithal bagi penduduk Hijaz. Sedangkan satu sha sama dengan empat mud bagi penduduk hijaz), serta pindahkanlah wabah yang menimpanya ke Mahya’ah, yaitu Juhfah yang merupakan miqat penduduk Syam.”