Ilustrasi LGBT. Foto : http://www.nature.com

Majalahayah.com, Jakarta – Berbicara kelainan seksual pada diri seseorang dapat ditegaskan bahwa kecenderungan menyukai sesama seperti gay (sesama laki-laki) atau lesbi (sesama wanita) bukanlah suatu penyakit.

Hal ini disampaikan oleh dr. Tauhid Nur Azhar bahwa perilaku menyimpang tersebut ialah sesuatu kelainan yang terjadi pada kepribadian seseorang.

“Hal ini didasarkan pada kondisi si penderita yang tidak merasakan kalau ia memiliki gangguan apapun dalam orientasi seksualnya. Dia merasa baik-baik saja dengan keadaan yang seperti itu, bahkan nyaman dan normal seperti kebanyakan orang,” jelasnya dalam buka Anda Bertanya Dokter Menjawab.

Lalu apa penyebab sebenarnya sehingga muncul disorientasi seksual? Dr. Tauhid menjelaskan bahwa terdapat tiga aspek. Apa saja? Yuk simak!. 

1. Aspek Biologis

Askep biologis dimaksudkan sebagai disorientasi seksual yang disebabkan oleh adanya kelainan genetik.

“Ada struktur genetika yang mengarah pada penyimpangan seksual dengan ditemukannya kromosom Xq21. Gangguan ini menyebabkan seseorang jadi tidak jelas jenis kelaminnya,” tuturnya.

2. Aspek Psikologis

Berbicara aspek psikologis, sambung dr Tauhid bahwa hal ini disebabkan oleh kesalahan dalam pola asuh atau pengalaman hidup sehingga mempengaruhi orientasi seksual seseorang di kemudian hari.

“Kesalahan pola asuh yang dimaksud adalah ketidaktegasan dalam mengorintasikan kecenderungan perilaku berdasarkan jenis kelaminnya sejak dini. Dengan kata lain, ada seseorang yang terlahir normal baik laki-laki maupun perempuan namun lingkungan dan pengasuhan di keluarga mengkondisikannya untuk bertingkah laku seperti lawan jenis,” jelasnya.

3. Aspek Sosiologis

Aspek ini dipengaruhi oleh orientasi seksual yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya atau lingkungan.

“Kondisi ini biasanya terjadi setelah dewasa karena faktor lingkungan dan pergaulan atau gaya hidup. Contohnya karena tuntutan profesi sehingga seorang pria lebih banyak bergaul dengan wanita,” tandasnya.