Lantas Bagaimana Caranya Memilih Pemimpin yang Bertakwa? (Bagian 2/2)

Lantas Bagaimana Caranya Memilih Pemimpin yang Bertakwa? (Bagian 2/2)

438
SHARE
Ilustrasi : http://angkringbambu.blogspot.com

Majalahayah.com – Penghormatan terhadap supremasi hukum tidak hanya dimaksudkan dengan galaknya pembangunan dan pembentukan hukum dalam arti peraturan perundang-undangan, akan tetapi bagaimana hukum yang dibentuk itu benar-benar dapat diberlakukan dan dilaksanakan, sehingga hukum berfungsi sebagai sarana (tools) penggerak aktifitas kehidupan bernegara, pemerintahan dan kemasyarakatan. Fungsi hukum harus dapat ditegakkan dan untuk itu hukum harus diterima sebagai salah satu bagian dari sistem nilai kerakyatan yang bermanfaat bagi warga masyarakat.

Supremasi hukum hanya akan berarti bila ada penegakan hukum dan hal ini hanya akan mempunyai nilai evaluatif jika disertai dengan pemberlakuan hukum yang responsif. Artinya superioritas hukum akan terjelma dengan suatu penegakan hukum yang bersendikan dengan prinsip persamaan di hadapan hukum (equality before the law) dengan dilandasi nilai dan rasa keadilan.

Lantas bagaimana caranya memilih pemimpin yang bertakwa? MUI tidak bisa mengeluarkan sertifikasi takwa dan parpol hanyalah mengandalkan pemimpin yang mampu mendatangkan dukungan finansial. Sementara orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa belumlah tentu memiliki kekuatan finansial untuk meng-kampanyekan dirinya. Apalagi bahwa orang-orang ini pastilah tidak berkampanye bahwa dirinya cocok jadi presiden atau ataupun pemimpin daerah.

Oleh karenanya, kita sebagai masyarakat bangsa Indonesia menjadi wajib untuk mengetahui siapakah orang-orang yang kita kenal, serta publik juga mengenal akan kualitas ketakwaan seseorang yang bisa diajukan untuk menjadi pemimpin bangsa ataupun daerah. Untuk bisa menilai kualitas ketakwaan, maka mustahil bisa dilakukan jika kita tidak mempelajarinya di Al Quran.
Sebagaimana seorang jago silat, dikatakan jago bukan oleh orang yang awam silat, melainkan oleh pengamat silat atau guru silat. Begitu juga dengan orang yang bertakwa, dikatakan bertakwa bukan oleh masyarakat awam yang tidak tahu makna takwa, melainkan oleh orang-orang yang mempelajari ketakwaan itu sendiri atau oleh para ulama negeri. Bahkan, bukan tidak mungkin justru kita jadikan para ulama negeri ini sebagai pemimpin bangsa ataupun daerah, inilah amanat undang-undang NKRI.

Baca juga :   Yusril Usulkan Tiga Hal dalam UU Yang Harus Diamandemen

Jika kita berpegang kepada konstitusi NKRI dalam memilih pemimpin yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka:

Pemimpin yang bertakwa pastilah akan bersikap adil kepada masyarakatnya, karena tanpa sifat ini mustahil ia disebut bertakwa;

Pemimpin yang bertakwa pastilah akan membenahi sistem korup, karena dia menginginkan segala sesuatu yang halal bagi para aparat negeri dan masyarakatnya;

Pemimpin yang bertakwa pastilah akan membangun sistem pendidikan yang menghasilkan anak-anak yang shaleh, karena hanya doa anak-anak yang shaleh yang akan memberikan manfaat bagi para orang tuanya;

Pemimpin yang bertakwa pastilah akan membenahi sistem peradilan, agar masyarakat merasakan keadilannya;

Pemimpin yang bertakwa pastilah akan membenahi sistem ekonomi agar bangsanya terlepas dari penjajahan ekonomi;

Pemimpin yang bertakwa pastilah akan memberantas penyakit sosial, judi, kemiskinan, seks bebas, dan narkoba karena kewajibannya sebagai pemimpin adalah membimbing masyarakatnya untuk selamat dunia dan akhirat;

Baca juga :   4 Hal Ini Jadi Alasan Pria Nikahi Wanita

Pemimpin yang bertakwa tidaklah mungkin membohongi masyarakatnya, karena sifat bohong tidak menjadi bagian dari takwa;

Pemimpin yang bertakwa tidak akan sibuk dengan pencitraan, karena yang terpenting baginya adalah amal nyata yang sesuai dengan perintah Tuhannya;

Pemimpin yang bertakwa selalu bersama Tuhannya, oleh sebab itu dia akan ditolong Tuhannya dalam menyelesaikan segala urusan dan permasalahannya;

Pemimpin yang bertakwa pastilah akan peduli dengan umat Islam di belahan dunia manapun sehingga berupaya memberikan solusi bagi umat Islam di Rohingya, Palestina, dan negeri-negeri lain dimana terdapat kezaliman bagi umat Islam;

Pemimpin bertakwa pasti akan melindungi kaum minoritas yang berada dalam perlindungannya;

Pemimpin yang bertakwa tidaklah mungkin memaksakan agamanya kepada pihak lain karena prinsip yang dipegang adalah untukmu agamamu dan untukku agamaku;

Dan dia melakukan ini semua karena takut akan azab Tuhannya;

Sebagai umat Islam bangsa Indonesia dan dengan spirit Aksi Bela Islam, mulailah untuk dari sekarang mencari pemimpin yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dorong, ajukan dan pilihlah! Inilah cara pertama untuk menentukan nasib bangsa agar keluar dari permasalahan yang menjerat selama ini. Mulailah dengan menjaga amanat undang-undang NKRI dalam hal memilih pemimpin negara ataupun daerah.

Semoga judul tulisan ini sudah terjawab.