Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. (Foto: Todayonline)

Majalahayah.com, Demi mengurangi hutang nasionalnya yang melambung senilai 50 miliar dolar setelah membangun proyek-proyek raksasa, Perdana Menteri Malaysia mengatakan bahwa Malaysia tengah merundingkan ulang kontrak proyek kereta api senilai 14 miliar dolar AS dengan para mitra Tiongkok.

PM Mahathir Mohamad telah membuat prioritas untuk mengurangi hutang nasional, berjanji akan meninjau ulang kontrak proyek-proyek besar yang disepakati pemerintah sebelumnya.

Proyek Jalur Kereta Api Pesisir Timur senilai 55 miliar ringgit (13,82 miliar dolar AS) – pekerjaan terbesar di negara itu dan merupakan bagian dari proyek infrastruktur Beijing yang diberi nama “Jalur Sutera Baru Abad ke-21” (OBOR) mulai tahun lalu.

Proyek itu direncanakan menghubungkan Laut China Selatan di perbatasan Thailand di timur dengan rute-rute pelayaran strategis di Selat Malaka di barat sepanjang 688 kilometer.

“Kami sedang merundingkan kembali perjanjian itu,” kata Mahathir kepada surat kabar keuangan The Edge dilansir dari Antara. “Ketentuan-ketentuan yang ada di dalam perjanjian itu sangat merusak ekonomi kami,” tambahnya.

Proyek itu dibangun China Communications Construction Co Ltd, dan sebagian besar didanai pinjaman dari Bank Exim Tiongkok. Sementara itu, Mahathir juga mempertanyakan keperluan untuk proyek itu.

“Dia (Najib) sangat mengetahui bahwa ECRL, contohnya, bukan sesuatu yang kami bisa perbuat. Ini bukan untuk melayani apapun, tidak memberi kami,” kata Mahathir.